
Ya Allah ... Bisakah Engkau hentikan waktu untuk beberapa saat hingga aku bisa bersama lebih lama lagi bersama putriku? Sungguh, aku tengah diliputi perasaan menyesal sebab membuat sendiri jurang pemisah dengan putriku.
Sepasang mata bulat milik gadis kecil itu menatapku lekat. Menurut orang-orang, wajahnya perpaduan antara wajahku dan wajah Bang Hasan. Separuh-separuh. Kulitnya yang putih, mengikuti aku, begitu juga dengan hidung mancung dan bentuk wajahnya yang oval. Sementara kedua mata, rambut serta cara pembawaannya mirip sekali dengan bang Hasan.
"Mi, kenapa menangis?" tanya Yumna.
"Nggak apa-apa." aku menyeka sisa air mata. Waktu kami tak banyak, aku tak ingin meninggalkan kenangan menyedihkan di akhir pertemuan kami hingga nanti kami dipertemukan kembali. "Na, tahu tidak, umi sayang sekali dengan Yumna."
Gadis kecil itu mengangguk sembari tersenyum.
"Na, umi sayang Na." kataku lagi. Beberapa kali aku harus membuang wajah agar air mata itu tak lagi tumpah. Ahhh, aku benar-benar tak bisa memungkiri betapa sangat menyesal dengan pernikahan keduaku ini. Harusnya aku menolak saja. Kalau sudah begini, apa lagi yang bisa kulakukan?
"Umi, Na tahu kalau umi sayang Na. Kan umi sering peluk Na, sering gendong meski Na sudah besar. Umi juga suka menemani Na kalau main dan nggak pernah malah meski Na kadang mainnya kotor-kotir." katanya.
"Maafin Umi ya, Na."
"Umi ga salah apa-apa."
"Na, umi akan pergi ...."
"Umi mau kemana?"
"Ke Jakarta."
"Jakarta itu dimana, Mi?"
"Jauh. Di pulau seberang. Ke sana harus naik bis, kapal atau pesawat."
"Pesawat yang terbang di langit?"
"Iya."
"Na mau ikut, Umi."
__ADS_1
"Maafin Umi, Na. Tapi, kakek, nenek dan emak meminta agar Umi ga membawa Na."
"Kenapa? Na kan nggak nakal."
"Ya, Yumna kan anak baiknya Umi."
"Kalau begitu Na ikut ya, Mi."
"Sayang, umi janji, sesegera mungkin akan menjemput Na setelah Umi yakin Na akan nyaman di sana."
"Memang di sana enggak ada rumahnya ya Mi?"
"Ada, tapi bukan rumah kita."
"Kalau begitu Umi nggak usah ke sana saja."
"Na, maafkan Umi. Tapi Uni harus ke sana."
"Karena Umi sudah menikah dengan om yang tadi?" Yumna menatapku lekat. "Umi sudah tidak menikah dengan Abi lagi?"
"Tapi Mi ...."
"Na anak baik Umi, kan?"
"Ya Mi. Na akan jadi anak baik Umi. Yumna akan nurut sama Umi. Yumna juga akan berdoa semoga Umi segera menjemput Na. Kan kata pak ustadz, doa anak yatim itu di dengarkan oleh Allah sebab anak yatim yang saliha itu disayang sama Allah."
Rasanya benar-benar tidak bisa menahan air mata ini. Aku refleks memeluk erat Yumna, ia pun melakukan hal yang sama. Seolah sudah paham bahwa perpisahan itu semakin dekat, ia memelukku erat.
"Mi, Na sudah tidak punya Abi. Umi harus janji cepat pulang ya. Na nggak mau nggak punya umi juga!" ia bicara dengan berurai air mata.
***
Satu tas kain milikku kini sudah berpindah ke dalam bagasi mobil. Satu-persatu kerabat dan tetangga menyalamiku. Kini, giliran Yumna. Aku dan dia berdiri terpisah jarak beberapa centimeter. Ia diam mematung, akupun begitu. Kami sama-sama seperti kehilangan roh dalam diri. Tak ingin melakukan apapun selain berada berdekatan tanpa kata tanpa suara. Cukup hanya saling pandang sudah bisa mengisi bagian jiwa yang mulai kosong sebab membayangkan perpisahan.
__ADS_1
"Mil, ayo cepat pamit sama Yumna. Kalian harus segera berangkat ke Padang supaya nggak kesorean di jalan. Toh di sana mbak Ayu sudah menunggu, dari tadi sudah nelpon, nanyain kalian sudah jalan atau belum." Uni Dewi mengingatkan.
Lagi-lagi aku hanya bisa diam. Seperti akan kehilangan kesadaran. Berat sekali rasanya harus mengucapkan kata pisah pada putri kecilku.
"Mil, ayo!" ayah ikut mengingatkan. Mungkin tak enak pada mas Ilham yang mulai kelihatan gelisah menungguku berpamitan.
Ahhh, kenapa kalian tak bisa sabar menunggu sebentar saja. Sebentar lagi, aku dan Yumna akan berpisah. Dengan jarak yang tak dekat dan entah kapan akan bertemu lagi sebab aku akan tertawan di pulau seberang sementara ia di sini, meski ditemani kakek dan neneknya tapi ia sudah tak punya ayah dan sekarang harus kehilangan ibunya.
"Aku nggak bisa!" kataku, dengan suara serak.
"Enggak bisa bagaimana? Kan kamu yang memutuskan mau menikah. Sudah dikatakan sebelumnya untuk berpikir ulang, tapi kamu dengan mudah memutuskan menerima lamarannya. Sekarang ya harus nurut ikut suami!" ucap ibu dengan nada tegas.
Ya, akulah yang menerimanya. Tapi tak pernah terpikirkan olehku akan berpisah dengan Yumna. Aku mengira bisa membawa Yumna.
"Sudah, enggak usah banyak bicara. Sana, berangkatlah. Mulai hidup baru yang lebih baik. Jangan bersikap seperti itu, sama saja kamu meninggalkan beban untuk Yumna!" tambah ibu.
"Mil, ayo!" kata Uni Dewi.
"Na, maafkan umi. Umi sayang Na. Nanti, umi pasti akan segera menjemput Na. Umi sayang Na. Sayang, sayang banget. Na adalah segala-galanya di hidup Umi. Maafkan Umi!" aku tak bisa lagi menatap wajah gadis kecil itu sebab kini air mata sudah membanjir. Dituntun oleh Uni Dewi, aku masuk ke dalam mobil. Begitu mobil di tutup, terdengar suara tangis Yumna pecah. Dari spion aku bisa melihat ia berusaha mendekat, tapi ayah memeluknya erat hingga gadis kecilku hanya bisa meronta-ronta memanggilku.
"Ayo pak, jalan!" kata mas Ilham pada lelaki yang duduk di depan stir.
Perlahan mobil mulai berjalan, dari balik jendela aku hanya bisa melihat Yumna kecilku meronta memanggil-manggil Umi.
Ya Allah ... Ya Allah, sungguh perpisahan ini seperti belati tajam yang menghunus-hunus jantungku. Aku akan mati karenanya.
"Yumna ... Yumna anak umi yang baik. Maafkan Umi, Nak. Maafkan Umi. Janji, Umi akan segera menjemput Yumna setelah umi yakin di sana Yumna akan aman dan nyaman. Umi tak akan pernah merasakan bahagia jika belum berkumpul bersama Yumna. Umi akan selalu merindukan Yumna, maafkan Umi." kataku sambil berurai air mata.
Kadang, kita harus melewati takdir yang begitu menyedihkan dan tak ingin kita jalani. Semua benar-benar terserah Allah.
"Mau sampai kapan kamu menangis?" lelaki yang duduk di sampingku akhirnya buka suara juga. Ia yang semenjak tadi hanya jadi penonton menunjukkan reaksinya juga.
"Apa salahnya menangis?" aku membalas dengan ketus, tak peduli bahwa ia sekarang adalah suamiku yang harusnya aku berkata lemah lembut padanya. Lagipula siap suruh harus bicara seperti itu pada seorang ibu yang harus berpisah dengan anaknya. Lagipula perpisahan ini terjadi salah satu penyebabnya adalah ia. Dia ikut andil menebar kesedihan dalam hidupku dan sekarang dengan entengnya bertanya seperti itu.
__ADS_1
"Bukan. Bukan begitu maksud saya, tapi ...."
"Tapi apa? Apa karena anda baru menikahi saya jadi berhak melarang saya menangis? Saya itu manusia biasa, berhak sedih sebab baru berpisah dengan putri saya padahal selama ini kami selalu bersama." aku langsung menyerangnya dengan kata-kata hingga lelaki itu tak bisa menjawab.