
Kesempatan itu akhirnya diberikan juga. Tapi dengan banyak syarat yang harus dipenuhi mbak Ayu, syarat-syarat agar ia benar-benar berubah. Tak boleh lagi ada pertengkaran ataupun prasangka buruk padaku. Itupun, jika ia tetap mengulang lagi maka tak akan ada kesempatan berikutnya, mas Ilham akan menjauh sejenak. mas Ilham akan bicara pada Bu Sila selaku satu-satunya keluarga mbak Ayu.
"Terimakasih Mila, kamu benar-benar perempuan yang sangat baik. Aku benar-benar beruntung punya adik madu seperti kamu, entah bagaimana jadinya rumah tangga kami tanpa ada kamu." ujar mbak Ayu sembari memelukku erat, ia sampai menangis.
Setelah saling bermaafan, aku kembali ke kamar. Di dekat pintu kamar, aku bertemu dengan Iqbal, tatapannya masih tajam. Terlihat sangat membenciku. Aku hanya bisa berharap semoga ia tak semakin salah paham akan kejadian tadi. Aku benar-benar bukan orang jahat yang hendak menghancurkan rumah tangga ayah dan ibunya.
"Jahat!" Katanya.
Tak ingin terus diintimidasi dengan tatapanny, akhirnya aku memilih buru-buru masuk ke kamar. Menutup pintu rapat-rapat, lalu terduduk di balik pintu.
"Ya Allah, sampai kapan seperti ini?" Aku membatin. "Aku tak bermaksud jahat pada mereka, aku hanya ingin menjalankan takdirku dengan sebaik mungkin."
Tak terasa, sudah lebih tiga bulan aku tinggal di rumah besar ini. Namun mbak Ayu dan anak-anaknya belum bisa menerimaku. Dengan kejadian tadi, ku harap mbak Ayu bisa benar-benar berubah menjadi madu yang baik untukku. Sementara anak-anaknya, entah kapan akan membuka hatinya, melihatku juga sebagai ibunya, bukan sebagai perempuan perebut ayah mereka. Iqbal dan Hana, dua anak itu yang paling menunjukkan perlawanan terhadap ku.
Sebenarnya ada hal yang lebih penting membuatku ingin segera diterima. Yaitu Yumna. Gadis kecilku yang sangat aku rindukan. Ia pun juga punya rasa yang sama. Hampir tiap hari ia mengirimiku pesan suara. Awalnya hanya bertanya kabar, lama-lama, tiap hari bisa mengirim sampai sepuluh lebih pesan suara tentang kerinduannya padaku. Kalau mereka masih memusuhiku, rasanya tak bisa membawa Yumna ke sini. Aku gak ingin putriku menjadi sasaran kemarahan mereka juga.
"Na, Umi juga rindu sekali padamu." saking rindunya pada anak ini, kadang aku tak sanggup mendengar pesan suaranya sebab suaranya benar-benar membuat hatiku luluh lantah. Ingin rasanya berlari, menyeberangi lautan agar bisa menemui gadis kecilku yang sebentar lagi akan menjadi kakak. Tiba-tiba aku teringat bahwa belum mengabari Yumna tentang berita bahagia ini. Dulu, awal-awal berpisah, Yumna selalu tanya kapan ia akan punya adik, ia juga berpesan jika suatu saat kabar gembira itu hadir, Yumna minta segera diberitahukan.
Aku langsung memencet nomor Hp pemberian mbak Ayu. Tak lama tersambung, terdengar suara Yumna. Memang kalau aku menelepon, biasanya ayah dan ibu akan langsung memberikan pada Yumna. Kali ini tak sesemangat saat kami bicara sebelum-sebelumnya. Yumna seperti menanggung sebuah beban.
__ADS_1
[Umi kenapa tak pernah membalas pesan, Na? Umi marah dengan Na? Atau tak rindu dengan Yumna? Padahal Yumna rindu sama Umi, sangat ingin bertemu dengan Umi. Setidaknya kalau Umi balas pesan Na, hati Na akan tenang.] ungkapnya, mengeluhkan pesan sejak sepekan lalu yang sama sekali tidak ku balas.
[Maafkan Umi, Na. Umi juga rindu sama putri umi, ingin sekali segera bertemu, nak. Umi sengaja tidak membalas pesan Na karena Umi terlalu rindu pada anak Umi.] jawabku, sambil menahan sesak di hati agar tak ada air mata yang keluar. Saat bicara dengan Yumna, tak boleh ada kesedihan, ia harus merasakan bahagia karena saat ini Yumna jauh dariku
[Kalau Umi juga rindu, kenapa belum jemput Na juga? Kangen banget Ni,]
[Nanti InshaAllah umi jemput ya. Sekarang Na tunggu di sana dulu ya. Na baik-baik sama kakek, nenek dan emak. Umi janji akan segera menjemput, Na.]
[Benar, Mi?]
[InshaAllah sayang. Oh ya, Umi punya kabar gembira untuk Na.]
[Na tahu tidak, sebentar lagi, Na akan jadi Kakak. Jadi Ini Yumna. Na akan punya adik.]
Di seberang sana tak ada tanggapan sama sekali. Hanya hening. Aku mengira kalau sinyal sedang tidak bagus, makanya mengulang berita gembira ini sampai tiga kali. Tapi Yumna tetap tidak menanggapi.
[Na dengar Umi?]
[Ya Mi, Na dengar.]
__ADS_1
[Na senang tidak?]
[Tidak.]
[Lho, kenapa Na? Katanya Yumna pengen punya adik?]
[Rusdi bilang, katanya, Umi nggak akan sayang sama Na lagi kalau Umi punya adik bayi. Makanya Umi nggak balas pesan, Na, ya? Umi nggak akan pulang ke kampung kita. Umi akan terus tinggal di sana dan lama-kelamaan umi akan ngelupain Na, kan? Soalnya Umi sudah punya anak dan abu baru. Umi udah nggak akan ingat Na sama Abi lagi.]
Perih rasanya hati ini mendengar isi hati Yuma yang merasa tidak lagi disayangi. Ahh, andai saja aku mampu, ingin sekali sekarang juga menghampiri dan mendekapnya erat-erat. Ingin ku katakan kalau aku sangat menyayanginya. Ia satu-satunya alasanku bertahan saat abunya Yumna meninggalkan kami untuk selamanya.
Sekarang semua sudah terjadi. Kami sudah terpisah oleh laut. Aku ingin bertemu Yumna. Meski pembicaraan kami belum berakhir, Yumna menolak berbicara denganku. Ia memberikan telepon pada ibu hingga ibu menceriakan padaku bagaimana resahnya Yumna selama sepekan ini menanti balasan dariku.
Bocah Lima tahunan itu memang sudah teramat merindukan ibunya. Akupun sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Namun keadaan belum memungkinkan untuk menjemputnya sekarang.
[Apa di sana belum bisa menerima kamu seutuhnya, Mil?] tanya ibu. [Benar kan apa yang ibu katakan. Tak mudah menjadi istri kedua itu, Mil. Sekarang akhirnya kamu rasakan juga, kan. Makanya dulu ibu minta kamu berpikir berulang-ulang. Karena ibu tahu, Mil, orang selalu memandang buruk istri kedua. Meski istri pertama menerimanya dengan lapang dada.]
Ingin sekali ku katakan pada Ibu, bahwa sebenernya mbak Ayu lah yang tidak menerimaku. Ibu mertua justru sangat terbuka. Namun aku gak bisa menceritakan semuanya sebab tak ingin menambah beban pikran keluargaku.
[Baik-baik kamu di sana, Mil..kalau kamu sudah tak sanggup, pulanglah. Ibu dan ayah tak mengapa. Ibu dan ayah tak berharap harta. Kami lebih senang jika kita berkumpul bersama di sini dalam keadaan bahagia meski kekurangan harta. Uang bisa kita cari sama-sama, Mila.] kata ibu sebelum menutup pembicaraan.
__ADS_1
Aku telah memilih jalanku sendiri dan aku akan bertanggung jawab atasnya. Sebuah jalan yang mungkin terasa asing oleh orang-orang meski syariat tidak melarangnya.