MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
BERTEMU


__ADS_3

Bibir ini benar-benar kelu, sementara badan bergetar melihat sosok mbak Ayu yang kini terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan banyak selang menempel di tangannya. Tubuhnya benar-benar kurus, sangat mencolok sekali, berbeda ketika kami akan berpisah.


Apakah seberat itu beban yang ditanggungnya? Tak adakah dokter yang mampu mengobatinya?


"Mila?" Mata mbak Ayu yang sudah sayu terbuka perlahan. Bibirnya yang kering bicara dengan suara bergetar. Terlihat betul ia kesusahan. "Alhamdulillah, akhirnya kamu mau pulang juga, Mil. Aku sangat senang sekali, masih punya kesempatan untuk bertemu denganmu sebelum aku menutup usia ...."


Bruk. Aku menghambur padanya. Seperti seorang adik yang menangis di pelukan kakaknya. Rasanya, saat ini, kemarahan dan kebencian yang kemarin aku rasakan telah menipis dan nyaris hilang, persis seperti gunung es yang mencair dan airnya mengalir, menghilang. Sekarang yang ada hanya perasaaan menyesal. Kenapa harus ada hari yang terlewat dengan kebencian.


Ini adalah jalan yang Allah tetapkan pada kami. Ia memang melakukan kesalahan, begitu fatal hingga membuat bang Hasan kehilangan nyawanya. Tapi ia juga merasakan penderitaan yang tak kalah pedih, yaitu harus merasakan sakit yang tergolong parah, itu baru fisik, ditambah batin yang tidak tenang karena perasaan bersalah. Berulang kali mbak Ayu menfatajybahwa ia sangat menyesal dan siap bertanggung jawab untuk perbuatannya.


"Aku benar-benar banyak dosa padamu, Mil. Aku benar-benar jahat. Sudah membuat kamu kehilangan suami dan Yumna menjadi yatim. Aku sangat berdosa, entah kesalahan itu bisa ditebus atau tidak.


Mila ... rasanya sangat lelah menjadi aku. Hidup yang aku jalani selama ini rasanya tak pernah bahagia. Sejak kecil, meski aku memiliki segalanya, tapi rasanya aku sendiri, tak ada yang benar-benar menyayangiku. Bahkan ketika aku kembali menemukan ibuku. Ia pun tak terlalu peduli padaku ketimbang kehidupan mewah yang selalu diagung-agungkannya.


Menikah dengan lelaki yang aku cintai pun sama saja. Ia tak benar-benar peduli padaku. Pernikahan kami terasa hambar. Seperti sebuah formalitas saja. Tak ada cinta ataupun kehangatan. Aku benar-benar terkurung dalam kesendirian. Hngga akhirnya kamu hadir di hidupku, menjadi maduku. Mungkin bagi sebagian besar orang madu adalah racun untuknya. Tapi kamu tidak Mila. Kamu benar-benar tulus, selalu berupaya untuk melakukan yang terbaik bagi kami sehingga aku tergugah dan semakin merasa bersalah.


Maafkan aku Mila. Maafkanlah aku. Sungguh aku menyesal. Sudah membuatmu kehilangan suami. Sudah menjebak kamu sebagai maduku tapi banyak hak kamu yang aku hilangkan. Juga aku yang selalu membuatmu tersingkir dari sisi mas Ilham hingga pada akhirnya aku menyadari, tak akan semudah itu menghilangkan seorang yang tulus seperti kamu. Maafkan aku Mila," tangis mbak Ayu pecah.

__ADS_1


Aku benar-benar tak tega membuatnya yang sudah kurus dan terlihat tak berdaya berusaha bangkit untuk mendapatkan permohonan maaf dariku.


"Maafkan aku Mila, maafkanlah ...." Dengan suara lemah ia mencoba bangkit, tapi ku tahan dengan kedua tangan.


"Sudah. Sudah. Saya sudah merelakan semuanya, mbak. Saya sudah memaafkan mbak." kataku, dengan berlinang air mata.


Kami berdua berpelukan. Erat sekali. Saling menangis hingga akhirnya aku merasa pelukan mbak Ayu semakin lama semakin merenggang hingga akhirnya lepas.


Aku tahu, cepat atau lambat semuanya akan terjadi. Meski benar-benar sesak kehilangan sosok madu yang sudah aku anggap sebagaimana kakak sendiri, tapi aku telah ikhlas.


***


Sembari menabur bunga di atas pusara, ingatanku beralih menuju momen yang terjadi sekitar delapan bulan lalu. Saat mbak Ayu datang ke rumahku bersama mas Ilham. Ia berusaha bersikap manis padaku, satu sisi yang benar-benar sulit ku temukan setelah kami sampai di Jakarta. Ia sebenarnya orang baik, hanya saja keadaan membuatnya menjadi jahat.


Usai memanjatkan doa untuk mbak Ayu, aku bangkit bersama Yumna dan ibu, memberi ruang untuk mas Ilham, anak-anak dan bu Sila. Kami menunggu beberapa meter dari makam mbak Ayu sambil terus mengawasi mereka.


Lima belas menit kemudian, Bu Sila bangkit, diikuti oleh mas Ilham yang memberi isyarat pada anak-anaknya bahwa kami akan pulang.

__ADS_1


"Iqbal mau tetap di sini, menemani Umi!" tegas Iqbal, saat mas Ilham kembali memanggilnya sebab hanya ia yang masih duduk di depan batu nisan mbak Ayu. Adik-adiknya pun sudah bersiap pulang.


"Sudah sore, Bal. Kita pulang dulu. Besok ke sini lagi ya. Lagipula di rumah juga sudah ada tamu-tamu yang mau datang melayat." kata mas Ilham.


"Nggak. Abi pulang saja, Iqbal tetap di sini!" tegasnya. "Lagian kan ada mbok Asih dan mang Farid yang menjaga rumah!" ia menegaskan.


"Bal," Bu Sila ikut membujuk cucu tertuanya tersebut, tapi tetap tak membuat Iqbal berubah pikiran.


"Untuk apa pulang? Iqbal mau tetap tinggal di sini. Abi sadar nggak sih, selama ini Abi sudah benar-benar jahat pada umi. Ditambah perempuan itu. Dia sudah membuat umi meninggalkan kita semua. Sekarang kalian menyuruh Iqbal pulang, tinggal bersama dengannya. Apa kalian pikir Iqbal bisa hidup tenang dengan-nya yang sudah membuat umi sakit!" jerit Iqbal.


"Bal!" mas Ilham tak mau kalah, sehingga membuat tubuhku gemetaran karena kaget dengan ayah dan anak yang saling sahut-sahutan. "Kamu tidak tahu apa-apa, jadi jangan sembarang bicara. Minta maaysama Umi Mila, lalu kita pulang ke rumah!"


"Nggak. Nggak akan pernah. Aku nggak akan pernah minta maaf sama perempuan itu. Justru dia yang harusnya minta maaf sama aku. Dia yang sudah membuat kami berlima kehilangan umi. Dia itu perempuan jahat, dia yang sudah membuat umi sakit. Abi harusnya sadar, buka mata Abi. Perempuan itu jahat, bi. Hari ini dia bisa menyingkirkan Umi, tidak tertutup kemungkinan nanti ia akan menyingkirkan kami anak-anak Abi!" tegas Iqbal lagi.


"Iqbal!" Mas Ilham benar-benar meradang. Ia yang sudah sangat lelah fisik sekarang diserang jiwanya juga.


"Bal, hati-hati kalau bicara." ibu ikut membelaku, sehingga membuat pemuda itu makin meradang.

__ADS_1


"Nenek juga sama saja. Kalian begitu jahat pada umi. Apa salah Umi hingga kalian tega memperlakukan umi seperti itu? Kalian membuat umi menderita. Kalian ingin menggantikan posisinya dengan perempuan itu. Harusnya kalau kalian sudah tidak menyukai umi lagi, biarkan umi hidup bersama anak-anaknya. Jangan mengganggu umi hingga ia sakit!" ibal masih terus menyudutkan aku, menuduhku sebagai penyebab kematian ibunya. Bahkan saat Bu Sila yang merupakan ibunya mbak ayu ikut menjelaskan semuanya pada Iqbal, dia tetap tak mau mendengarkan. Baginya akulah yang bersalah hingga lagi-lagi ayah dan anak itu bertengkar.


__ADS_2