MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
Pecah


__ADS_3

Mas Ilham masih marah kepadaku. Ia menganggap akulah yang membuat semua ini jadi berantakan. Gara-gara usulanku untuk membebaskan Iqbal, akhirnya anak itu jadi besar kepala. Padahal maksud ku tidak begitu. Aku hanya tak ingin anak itu merasa sendiri. Jangan sampai ia semakin jauh dari keluarganya. Ia masih punya Abi dan umi yang lengkap meski aku bukan ibu kandungnya tapi rasa sayangku juga besar untuk mereka .


Sementara mas Ilham, ia masih memilih menghindari aku. Ia berusaha bertahan di kantornya sendiri.


Hingga malam, aku belum juga tidur. Hanya duduk di atas sajadah sambil menunggu mas Ilham masuk ke kamar. Tapi ia sama sekali tidak peduli.


Tak lama ia masuk ke kamar memakai kaca mata baca. Mas Ilham pasti sibuk dengan pekerjaannya. Aku sempat mendengar kalau masalah di kantor kecil mas Ilham.


"Mas," panggilku, sambil berdiri di ujung ranjang. Tak ada jawaban, ia tidak mengabaikan aku. "Mas masih marah?" tanyaku. "Mas, maafin saya ya." aku berlutut di sampingnya, berharap ia mau memaafkan.


"Tidurlah!" Katanya, tanpa melihat ke arahku.


"Bagaimana aku bisa tidur kalau suamiku tak mau memaafkan aku?"


"Apalagi mau kamu, Mil?"


"Mas, tolong jangan berpikir kalau saya tak patuh pada, mas..saya berusaha mematuhi mas, kok. Hanya saja di beberapa masalah kadang saya pikir mas berlebihan."


"Berlebihan? kamu tahu apa yang dilakukan Iqbal itu sangatlah berbahaya. ia bahkan melibatkan adiknya. Tandanya ia benar-benar serius ingin menghancurkan rumah tangga ini. Kalau saya tidak tegas sejak awal malah akan bahaya untuknya.


Saat ini untung saja usia Iqbal masih muda, kalau tidak ia tak akan bisa dibebaskan meski saya bisa menyewa pengacara sebaik mungkin. paham kamu!"

__ADS_1


"Ya, saya paham mas. Maafkan saya."


"Sekarang keluarlah. Tidur di kamar lain saja dulu sebab saya sedang tidak ingin melihat kamu!"


Aku tak bisa berkata-kata. Mas Ilham secara terang-terangan mengusirku. Memang tak nyaman, tapi begitulah kenyataannya.


Aku keluar dari kamar, menuju kamar Sabrina dan Yumna. Di sana aku memutuskan untuk tidur malam ini.


***


Rumah ini benar-benar seperti neraka saat mas Ilham tutup mulut, begitu juga dengan Iqbal. Sementara yang lainnya juga tak berani buka suara, hanya Ibed yang masih mau bercanda, meski tak ada yang mau meladeni.


"Apa sebaiknya kita berpisah?" Kata mas Ilham, usai sarapan dan kami berdua kembali ke kamar.


"Mila, saya talak kamu hari ini!"


"Astaghfirullah mas, kenapa begitu?"


"Pergilah menginap di rumah ibu. Farid akan mengantar Kamu!" mas Ilham lalu beranjak pergi usai menjatuhkan talak satu Padaku.


Badanku lemas, air mata langsung mengalir. Tidak menyangka akan ditalak seperti ini. Maksudku sebenarnya baik, aku hanya tidak ingin anak-anak semakin hancur.

__ADS_1


Tak ada lagi yang bisa ku lakukan karena mas Ilham menutup pintu komunikasi. Ia buru-buru pergi kerja, selanjutnya tinggal aku sendiri yang kebingungan.


Tapi aku hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan mas Ilham. Aku segera mengemas pakaianku dan Yumna, lalu pindah ke rumah ibu mertua diantar oleh Farid.


"Astaghfirullah, kenapa sih Ilham bodoh sekali. Sudah kehilangan satu istri mau kehilangan istrinya yang lain juga? lagipula mana bisa menalak istri yang sedang hamil. Talaknya tidak sah!"


"Sebaiknya saya pulang kampung saja, Bu." kataku


"Jangan Mil, kamu di sini saja dulu. Ilham itu hanya sedang kalut saja. Ia tak ingin benar-benar berpisah dari kamu. Ia hanya kebingungan sampai harus pecah dengan kamu."


Apapun itu, tetap saja aku perempuan biasa yang punya rasa sakit saat ditalak. Padahal niatku baik. Aku melakukan itu demi anak-anak, tapi malah tidak dihargai. Akibatnya, aku yang semula sedih kini berubah jadi kecew. Aku tak suka dengan perlakuannya.


***


Sudah dua hari, tapi mas Ilham belum juga ada tanda-tanda untuk menjemput ku. Aku semakin khawatir. Jangan-jangan ia benar, memutuskan untuk menjatuhkan talak agar tak lagi terbebani olehku.


Aku sudah berencana, kembali ke kampung halaman saja. Di sana aku bisa tinggal dengan Kedua orang tuaku. Memulai kembali kehidupan yang baru sambil menunggu kelahiran adiknya Yumna.


Sedang berkemas, tiba-tiba ibu masuk ke kamar, ia membawa Kabar yang membuat jantungku rasanya ingin copot. mas Ilham terkena struk. Ia sekarang berada di rumah sakit.


Aku yang semula memendam kekecewaan kini mulai luluh. Seperti yang dikatakan ibu, aku diminta untuk datang ke rumah sakit. Sampai di sana, hati ini langsung hancur melihat kondisi mas Ilham yang terbaring lemah dengan sebelah tubuhnya sudah terkena struk.

__ADS_1


Sementara ibu sibuk mengurus bagian administrasi, aku menemani mas Ilham untuk mempertanyakan masalah ini.


"Mas semangat sembuh, ya. Saya tak akan pernah meninggalkan mas. maafkan saya kalau banyak salah terutama kemarin. Saya sangat menyayangi mas dan anak-anak."


__ADS_2