MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
Tuduhan


__ADS_3

Mbak Ayu masih histeris. Tak hanya marah-marah, ia bahkan menangis. Sementara aku yang bingung hanya bisa berdiri mematung dalam jarak beberapa meter darinya. Sebenarnya aku sudah berusaha mendekat, bahkan berniat memeluknya untuk menenangkan mbak Tau, tapi ia mendorong, bahkan melotot, sebagai isyarat tak Sudi didekati olehku.


"Ahhhhhh, kamu benar-benar kurang ajar!" ia masih histeris.


Masih dalam keadaan marah, tiba-tiba Hana masuk ke kamarku. Ia langsung memeluk ibunya yang tengah dalam keadaan marah sambil menangis. "Umi kenapa?" tanyanya. "Siapa yang menjahati Umi?"


Mbak Ayu menggelengkan kepalanya. Ia buru-buru menyeka air matanya. Lalu memaksakan senyum di bibirnya. "Ada apa Na? Kenapa Hana kemari?" tanya mbak Ayu pada putri sulungnya.


"Oma nyuruh Hana manggil Tante Mila. Katanya sudah waktunya berangkat." jawab Hana.


"Hah? Terus Abi? Abi juga mau berangkat sekarang? Duh, bagaimana ini? Masa berangkat sekarang? Katanya ba'dan Maghrib. Bagaimana sih Oma kalian!" dengan panik mbak Ayu segera berlalu keluar, meninggalkan aku dan Hana yang masih bengong.


"Apa yang sudah Tante lakukan pada Umi? Kenapa Umi menangis?" Hana menatapku curiga.


"Tante nggak ngapa-ngapain Han, Tante hanya ...."


"Hanya apa? Kenapa Tante harus masuk dalam kehidupan kami? Kami nggak butuh Tante. Kami tidak menginginkan ibu baru, kami sudah punya umi dan kami bahagian dengan Umi!"


"Maaf Hana, tapi ...."


"Tapi apa?"


"Ibumu yang meminta Tante untuk menikah dengan Abi kalian."


"Tapi Tante nggak perlu menerimanya. Tante seharusnya menolak permintaan Umi. Tante sudah membuat keluarga kami berantakan. Umi semakin menderita karena kehadiran Tante. Apa yang paham itu? Dan sampai kapanpun juga, kami anak-anak Abi dan umi nggak akan pernah menerima kehadiran Tante. Paham!" gadis kecil itu keluar dari kamarku sambil membanting pintu.

__ADS_1


Aku yang kaget dengan sikapnya hanya bisa mengelus dada. Serumit ini ternyata kehidupan poligami. Aku tahu, sejak awal mereka tak menyukaiku, tapi aku tak menyangka sebegitu besarnya kebencian anak-anak padaku. Padahal aku tak bermaksud jahat. Apa sebelumnya mbak Ayu tak pernah mengkomunikasikan semua ini dengan anak-anaknya? Atau memang mereka yang tak bisa terima.


Kalau mbak Ayu dan mas Ilham tahu anak-anaknya tidak terima, kenapa harus nekat menjalani ini semua? Lelah, aku sungguh-sungguh lelah memikirkan ini semua.


***


Aku dan mas Ilham berangkat menuju hotel di puncak diantar oleh supir ibu. Sepanjang perjalanan tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mas Ilham. Ia hanya diam, menatap jauh keluar jendela. Karena bingung, akupun melakukan hal yang sama. Perjalanan selama dua jam itu benar-benar terasa sangat membosankan.


Ketika mataku terlelap, tiba-tiba terdengar suara mas Ilham. Ia mengguncang lenganku pelan. Begitu kedua mataku terbuka, meski belum sempurna, ia kemudian mengatakan bahwa kami sudah sampai.


Benar saja, kini di hadapanku ada hotel besar berbintang lima. Kami berdua berjalan dengan jarak. Mas Ilham duluan, semnetara aku menyusul di belakang sembari membawa tas kainku.


"Masuklah!" kata mas Ilham, saat kami berada di depan pintu kamar hotel. "Saya harus keluar sebentar." ujarnya.


Pintu kamar di tutup. Aku hanya bisa menatap kamar mewah dengan desain klasik. Meski begitu indah tapi terasa hampa sebab sekarang aku sendiri. Sejujurnya agak deg-degan karena akan menghabiskan waktu bersama mas Ilham, tapi melihatnya yang begitu dingin membuatku merasa hampa.


Untuk menghabiskan waktu, usai salat, aku menyusun pakaian dalam lemari. Tak lupa memasukkan koper mas Ilham juga. Lalu beralih melihat pemandangan malam dari balik jendela kamar.


Cantik sekali. Meski sudah malam, tapi kelap-kelip lampu di luar dari gedung-gedung pencakar di Jakarta membuatku terkagum-kagum. Nanti, suatu hari, entah kapan, aku berharap bisa mengajak Yumna ke sini. Gadis kecilku itu pasti sangat suka, apalagi di tiap kamar hotel ada bath tub. Ia bisa puas berenang tanpa takut ada lintah seperti saat berenang di kali dekat gubuk kami.


"Hem," mas Ilham berdehem. Rupanya ia sudah pulang. "Kenapa belum tidur?" Tanyanya.


Tidur? Oh, ternyata ia pergi cukup lama tadi berharap agar aku tertidur duluan. Aku tersenyum sinis. Bagaimana bisa tidur kalau aku bersama dengan orang dingin yang selalu membuatku bingung.


Kalau ia tak nyaman sekamar denganku, harusnya ia membantah hadiah dari ibunya atau pesan saja satu kamar lagi. Toh uangnya banyak. Rasanya tak akan berat mengeluarkan beberapa rupiah demi kenyamanan bersama.

__ADS_1


"Kenapa kita tidak pulang saja?" tanyaku.


"Kenapa harus pulang? Kamu mau dimarahi ibu?" ia balik bertanya.


"Oh, jadi takut dimarahi ibu." aku tersenyum sinis.


"Sebenarnya ada apa dengan kalian?" aku sudah tak bisa menahan diri lagi. Dua orang ini benar-benar membuatku bingung. Mereka yang menghadirkan aku dalam pernikahan mereka tapi setelah itu menggabtungku begitu saja. Setidaknya jelaskan padaku tentang apa yang harus aku lakukan!


"Maksudnya?"


"Kenapa kalian membuatku bingung?"


"Kalian?"


"Ya. Anda dan mbak Ayu!"


"Bingung bagaimana?"


"Jangan pura-pura bodoh. Tahu kan apa yang saya maksud. Kenapa mendiami saya seolah saya ini hanya pembantu di rumah besar kalian. Di datangkan untuk melayani keluarga besar kalian. Kalau memang begitu, kenapa tak jujur dari awal. Bicaralah yang jelas agar saya juga bisa menempatkan diri dengan baik dan tak perlu berpisah dengan putri saya!"


"Kamu kenapa bisa berpikir seperti itu? Oh, ini pasti karena kamar, atau pekerjaan rumah. Ayu yang mengatur semua ini. Saya juga baru tahu kalau kamu tidur di kamar pembantu. Dan untuk pekerjaan rumah, kan ada mbok Asih, kalau kamu tidak mau ya jangan dikerjakan. Siapa juga yang menyuruh kamu bekerja? Atau Ayu juga menyuruh kamu bekerja seperti mbok Asih?"


""Ahhh sudahlah, saya benar-benar bingung dengan kalian. Sekarang katakan sejelasnya. Tak perlu menjelekkan mbak Ayu. Sebab kalian berdua sama saja!"


"Apa yang harus saya jelaskan."

__ADS_1


"Pernikahan macam apa yang kalian inginkan. Kenapa menuntut banyak hal dari saya tapi saya tak mendapatkan apapun? Kenapa membuat saya bingung? Kenapa saya didiamkan padahal saya merasa tidak punya salah! Kalau mau cari pembantu, kenapa harus pura-pura mengatakan mau nyari istri? Kalau memang tak menginginkan saya kenapa membawa saya masuk dalam kehidupan kalian? Kenapa tidak pulangkan saja saya? Kenapa?"


"Saya mengerti sekarang. Apa yang kamu permasalahkan. Tapi sebelum saya menjelaskan semuanya, kamu duluan yang harus menjelaskan pada saya tentang ini semua!" Mas Ilham menunjukkan ponselnya padaku. Di sana, tampak fotoku bersama Farid. Ada beberapa gambar, saat aku di hotel, juga di taman ketika ia meminjamkan buku. "Sekarang, bisa jelaskan?" ia balik memelototi aku.


__ADS_2