MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
MASALAH MBAK AYU YANG KOMPLEK


__ADS_3

Sosok itu benar-benar ada di sana. Meski jarak kami cukup jauh, tapi aku sangat meyakini, ialah yang tengah duduk sambil melipat wajahnya dan membenamkan di kedua tangannya itu adalah mbak Ayu. Ingin sekali aku berlari menghampirinya, tapi ku coba menahan diri sembari berpikir sebuah cara agar mbak Ayu tak merasa terganggu apalagi marah dengan kehadiran kami. Lebih tepatnya kehadiranku. Rasanya, aku harus tahu diri. di sini, akulah yang dibencinya. Kalau ingin ia kembali, berarti tak boleh ada aku.


"Sebaiknya mas yang maju." Kataku.


"Saya? Sendiri? Lalu kamu?" tanya mas Ilham.


"Saya akan pulang duluan."


"Pulang dengan siapa?"


"Saya bisa naik taksi. Dari sini ke rumah tak terlalu jauh, saya yakin sekali tak akan tersesat. Mas tinggal beri saya uang untuk ongkos ya."


"Tapi Mil,"


"Tolonglah mas. Kali ini mas harus ikuti saya. Bicaralah dengannya. Turunkan ego mas, coba pahami kondisi mbak Ayu, setidaknya mas harus melihatnya dengan berbagai masalah hidupnya. Kasihanilah ia. Kapan perlu bujuk dia, ajaklah ia kembali pulang dan mulai semuanya dari awal. Saya tak akan bisa hidup bahagia jika mbak Ayu juga tidak merasakan bahagia. Rumah tangga kita itu bertiga dengan anak-anak juga. Mas harus bisa berlaku adil, harus membahagian semuanya."


"Mil,"

__ADS_1


"Kalau mas tak peduli padanya, saya pun tak bisa melanjutkan ini semua. Saya yang bukan siapa-siapa mbak Ayu saja bisa merasakan iba dengan kisah hidupnya yang sangat rumit. Harusnya mas lebih iba lagi. Ia sudah berusaha keras untuk kebahagiaan mas. Kali ini giliran mas!"


"Baiklah. Saya akan mencoba. Semoga saja Ayu belum menutup pintu hatinya untuk saya "


Mas Ilham berjalan maju menuju arah mbak Ayu. Baru beberapa langkah ia sudah melihat ke arahku. Aku menganggukkan kepala. Saat ia berbalik, aku cepat-cepat menghilang, memperhatikannya dari jauh di tempat tersembunyi yang tak bisa dilihat oleh mas Ilham dan mbak Ayu. Saat yakin mereka sudah berbincang tanpa ada pengusiran dari mbak Ayu, barulah aku meninggalkan tempat itu. Kembali pulang dengan menumpangi taksi yang kebetulan lewat di depan makam.


***


Sampai di rumah, aku sudah ditunggu oleh Bu Sila yang ikut mencari. Setelah mendengar kabar dariku kalau mbak Ayu sudah ditemukan, ia langsung ke rumah untuk menemui mbak Ayu.


"Dimana Ayu?" Tanya Bu Sila


"Kamu enggak apa-apa?"


"Kenapa dengan saya, Bu? Mbak Ayu itu adalah madu saya. Sudah seperti kakak saya sendiri. Kebahagiaannya sama dengan kebahagiaan saya."


"Ayu itu putri saya." aku bu Sila. "Putri kandung saya." lanjutnya. Sebuah pengakuan yang membuatku tercengang. Kalau Bu Sila ibu kandungnya, kenapa sikapnya dingin sekali. Apakah mbak Ayu tak mengetahui kalau Bu Sila adalah ibunya? Ternyata dugaanku salah. Bu Sila menceritakan padaku bahwa mbak Ayu tahu Bu Sila adalah ibu kandungnya. Ia sengaja memanggil Bu Sila Tante sebab ia menganggap Bu Sila adalah orang asing sejak Bu Sila memutuskan meninggalkan mbak Ayu di usia delapan tahun bersama ayahnya, smenetara Bu Sila berangkat ke luar negeri untuk mengejar karirnya. "Sejak itu Ayu tinggal dengan ayahnya. Tak lama ia pun punya ibu tiri. Ialah istri baru ayahnya yang sengaja dipanggilnya mama untuk membuat saya cemburu, tapi saat itu saya hanya mengabaikan karena pikiran saya hanya tertuju pada karir hingga saya abai dengan perasaan Ayu." cerita Bu Sila. "Sejak itulah Ayu menciptakan jurabg yang makin dalam. Ketika saya kembali, ia tak lagi mau memberi maaf."

__ADS_1


"Ya Tuhan," Aku semakin pusing mendengar cerita hidup mbak Ayu yang ternyata lebih rumit lagi


"Untuk mendekati Ayu kembali, saya sengaja mendekati Ilham. Membangun yayasan yang ia impi-impikan. Sebuah yayasan keagamaan. Harapan saya, Ayu mau bertekuk lutut pada saya, tapi ternyata ia tetap tak mau. Untuk mewujudkan impian Ilham menjadi ketua yayasan, Ayu berusaha keras dengan berbagai cara. Bahkan ia sampai mencari madu untuk meyakinkan orang-orang betapa salihnya Ilham. Tindakan yang menurut saya cukup berlebihan."


Aku tercengang. Jadi ia menjadikan aku adik madu supaya orang mengira mas Ilham suami yang salih. Bisa mendidiknya untuk menerima seorang madu di hidupnya. Ya ampun,kepalaku langsung berdenyut.


"Lalu sekarang apa yang ibu inginkan dari Mbak Ayu?"


"Mila ... saya sadar saya salah. Sudah mengabaikannya dari kecil. Sekarang saya menyesal. Saya sudah tak punya tujuan hidup lagi, semuanya sudah saya dapatkan tapi rasanya masih kosong sebab saya kehilangan putri saya. Sekarang saya ingin kembali dekat dengan Ayu. Memperbaiki hubungan kami dan mengobati luka hatinya. Ayu itu bukan perempuan yang jahat, ia sebenarnya sangat baik hanya saja luka di batinnya terlalu banyak makanya ia tak bisa mengendalikan emosinya hingga Ayu harus mengalami sakit dijiwanya.


Untung saja Ayu punya madu seperti kamu yang bisa memahaminya. Dokter dan psikolog yang menangani Ayu sudah menceritakan semuanya pada saya bahwa sejak ada kamu dalam hidupnya, Ayu merasa semuanya semakin membaik. Hanya saja ia belum bisa menerima bahwa kamulah yang membuat semuanya membaik." cerita Bu Sila. "Mila, bisakah kamu terus membimbing Ayu meskipun ia tak sebaik kamu. Lihatlah ia sebagai seseorang yang sedang sakit, kasihanilah ia. Tolong bantu ia mendapatkan kebahagiaannya." pinta Bu Sila. Perempuan itu menangis sembari menggenggam kedua tanganku. "Sebagai ibu saya sudah gagal. Saya tahu tak bisa mendapatkan kesempatan lagi, tapi saya benar-benar berharap, apapun itu saya ingin Ayu bahagia. Ia sudah sangat menderita sejak kecil, kebahagiaannya hanyalah Ilham tapi sayangnya Ilham pun sudah ingin menyerah dan ...."


"Tidak Bu. Siapa bilang mas Ilham menyerah? Saat ini mws Ilham tengah berjuang untuk mempertahankan rumah tangganya dengan mbak Ayu. Memang tak mudah, ia butuh dukungan, tapi ia akan terus berjuang. Saya menjamin itu karena saya pun akan berusaha semaksimal mungkin agar mbak Ayu bahagia."


"Mila!" Bu Sila memelukku erat.


"Saya tak tahu lagi harus mengucapkan apa, Mil. Saya hanya bisa berterima kasih karena kamu sudah sangat baik pada Ayu. Ia benar-benar beruntung punya madu seperti kamu!"

__ADS_1


Pembicaraan kami terpaksa dihentikan ketika mendengar suara mobil mas Ilham memasuki halaman rumah. Kami harus bersikap seolah tak terjadi apa-apa agar mbak Ayu merasa nyaman. Ku putuskan untuk masuk ke kamar, untuk sementara waktu aku tak ingin memperlihatkan diri agar mbak Ayu nyaman. Aku menyadari, diriku adalah salah satu penyebab ia merasa tak nyaman, itulah kenapa aku harus menghilang sementara waktu.


__ADS_2