MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
HARI YANG BARU


__ADS_3

Urusan rumah tangga kini beralih sepenuhnya kepadaku, meski dibantu oleh mbok Asih tetap saja membuatku gugup. Sebenarnya yang paling berat adalah mengurus kelima anak mbak Ayu, yang juga anak sambungku. Baru Sabrina dan Ibed yang bisa ku pegang hatinya. Sementara Iqbal, Asad dan Hana yang kembali menunjukkan penolakan atas kehadiranku setelah peninggalan ibunya.


"Coba ambil hati anak-anak dengan masakan, Bu," saran mbok Asih.


Aku menjentikkan jari. Benar juga kata khadimat di rumah kami itu. Barangkali dengan makanan yang ku buat bisa membuat mereka nyaman denganku. Bukankah salah satu cara menyentuh hati orang lain adalah dengan memanjakan perutnya.


Pagi ini, akupun mulai menyiapkan menu sarapan sederhana namun biasanya disukai oleh semua orang. Nasi goreng seafood. Anak-anak mbak Ayu biasanya suka dengan makanan laut. Ku harap apa yang ku buat ini disukai oleh mereka.


Begitu jam sarapan, satu-persatu penghuni rumah keluar. Mereka hendak kembali beraktivitas. Aku menanti mereka di meja makan dengan nasi goreng yang sudah dihidangkan terlebih dahulu. Aromanya yang lezat ku yakini bisa menggugah selera.


Tapi sayangnya harapanku sia-sia, ketika yang mampir hanya mas Ilham, Sabrina, Yumna dan Ibed. Sementara Iqbal, Asad dan Hana berlalu begitu saja.


"Enggak sarapan?" Tanyaku. Tak ada jawaban. Mereka acuh, seolah tak mendengar aku berbicara.


"Iqbal ... Asad ... Hana, mau kemana?" mas Ilham yang menyadari bahwa anak-anak tak menghiraukan aku ikut membantu. Tapi mereka tetap bungkam. "Iqbal!" Mas Ilham kehilangan kesabaran, ia menghentikan langkah sulungnya dengan bentakan. "Kamu dengar abi, nggak?" Mas Ilham terpaksa turun tangan, ia mencekal lengan putranya.


"Lepas Bi!" Kata Iqbal.


"Kamu bisa dengar abi bicarakan? Kenapa tidak dijawab? Kamu ada masalah apa, bicaralah dengan Abi!" Kata mas Ilham dengan nada tinggi.


"Iqbal tidak mau bicara dengan Abi!" jawab Iqbal.


"Kenapa lagi?"


"Iqbal sudah bilang, kan. Iqbal nggak suka ada perempuan itu di rumah kita. Dia yang menyebabkan umi meninggal!"


"Jangan asal bicara kamu. Kalau nggak tahu apa yang terjadi lebih baik diam!"

__ADS_1


"Heh, diam? Keenakan dong untuk Abi dan perempuan itu."


"Iqbal!" Mas Ilham benar-benar marah, aku buru-buru melerai sebelum terjadi keributan kembali. Terakhir mereka berdebat hampir baku hantaman.


"Kenapa? Mau pukul Iqbal? Ayo pukul. Iqbal nggak takut, tapi Iqbal nggak akan diam saja, Iqbal akan laporkan Abi ke kantor polisi supaya Abi dipenjara!"


"Astagfirullah,"


Untuk menghentikan perdebatan itu aku terpaksa menarik mas Ilham ke kamar dengan harapan Iqbal segera pergi sehingga perdebatan tidak sehat itu tak perlu berlanjut.


"Mas, tolong bersabar menghadapi anak-anak. Mereka baru saja kehilangan ibunya. Tidak mudah menghadapi semua itu." kataku.


"Tapi Iqbal sudah kurang ajar. Dibiarkan bisa-bisa dia semakin menjadi-jqdi."


"Iya, tapi dengan cara yang lembut. Dia masih berduka mas, biarkan dia menenangkan diri dulu. Iqbal itu anak baik, dia pasti akan kembali jadi baik lagi. Dia hanya butuh waktu."


Untungnya mas Ilham menurut denganku, ia mengikuti semua nasihatku dan akan mencoba lebih sabar menghadapi Iqbal.


Mengawali pagi dengan keributan, rupanya hari yang kulalui sekarang tidaklah mudah. Kini, menjadi istri satu-satunya mas Ilham membuatku tak hanya mengurus anak dan rumah, tapi juga harus menemaninya yang baru diangkat jadi kepala yayasan untuk menghadiri acara peresmian.


Aku yang tak terbiasa mendatangi a acara formal ditambah jadi istri pimpinan di sini tentunya menjadi pusat perhatian orang-orang, padahal sangat kaku sekali. Dari semua yang hadir, aku menyadari tak semua menyukai aku, bahkan mungkin hanya sebagian kecil atau bahkan tak ada sebab sebelumnya image yang melekat padaku cukup buruk karena framing mbak Ayu saat kami berselisih. Sayangnya, sebelum mbak Ayu menutup usia, kakak maduku tersebut sepertinya tak sempat konfirmasi bagaimana kami yang sebenarnya, bagaimana pernikahan antara aku dan mas Ilham. Yang orang-orang tahu hanyalah aku sebagai istri kedua dengan usia lebih muda dibandingkan mbak Ayu. Itu sudah jadi bahan gunjingan orang-orang. Apalagi di negeri ini yang namanya poligami lebih banyak dipandang buruk karena ulah oknum.


"Bu Ayu, eh maksud saya ...." seorang perempuan memakai gamis panjang dengan dandanan menor menyapaku. Ia sengaja menggantung kata-katanya.


"Mila," kataku, sambil mengulurkan tangan. Berharap ia bisa menjadi temanku sebab dari tadi aku benar-benar sendirian. Meski perbincangan awal kami kurang nyaman.


"Oh iya, Bu Mila. Maaf ya Bu, saya masih teringatnya sama Bu Ayu. Soalnya Bu Ayu yang dulunya sering menemani pak Ilham, meski sekarang Bu Ayu sudah tidak ada tapi tetap saja kita-kita ingatnya istri pak Ilham ya Bu Ayu." katanya.

__ADS_1


Aku memaksakan senyum. Persis seperti dugaanku, mereka belum bisa menerimaku di sini.


Ketidak nyamanan itu tak hanya ku dapat dari ibu yang pertama kali menyapaku. Tapi nyaris dari semua orang. Mereka selalu membandingkan aku dengan mbak Ayu, mereka menganggap kami sangat jomplang sekali. Bagaikan langit dan bumi. Meski mereka menyampaikan lewat sindiran halus, tetapi cukup membuatku tak bisa berkata-kata.


Mbak Ayu. Mbak Ayu. Mbak Ayu. Rasanya ingin menghilang dari tempat ini, saat tak ada seorang pun yang bisa menerimaku.


Sebenarnya sejak awal aku sudah berusaha untuk membesarkan hati, tapi tetap saja, perasaan minder itu muncul juga, apalagi saat ini aku tengah berbadan dua. Mungkin karena pengaruh hormon sehingga membuatku terbawa suasana.


Tak ingin terus-menerus menjadi bulan-bulanan dari sindiran ibu-ibu, akhirnya ku putuskan untuk keluar.


Sekarang harusnya jadi hari yang baru untukku. Tapi ternyata tantangannya lebih besar dibandingkan punya madu. Image ku sudah terlanjur jelek dan aku tak punya kekuatan untuk mengubahnya.


"Mil, kok di luar?" rupanya Bu Sila menyusulku.


"Eh Bu," aku buru-buru menghapus kaca-kaca di mata sebelum ia tumpah.


"Kamu nangis?"


"Enggak."


"Ada apa, Mil? Katakan sama saya, apa ada yang menyakiti kamu?"


"Enggak kok Bu, cuma belum nyaman saja di sana."


"Kenapa?"


"Mungkin di sana memang bukan tempat saya. Sepertinya ibu-ibu di dalam belum bisa menerima kehadiran saya. Mereka begitu menyayangi mbak Ayu, makanya membandingkan kami yang sangat berbeda."

__ADS_1


"Mil, maafin ya kalau ibu-ibu di sini membuat kamu tidak nyaman. Nanti saya akan bicara dengan mereka agar menghormati kamu seperti mereka menghormati Ayu."


"Kondisi kamu sepertinya tidak nyaman. Sebaiknya kamu dan Ilham pulang saja. Sebentar ya, saya panggilkan Ilham." Bu Sila buru-buru masuk ke dalam, sementara aku hanya bisa menunggu di luar. Untuk masuk kembali ke dalam rasanya tak bernyali.


__ADS_2