MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
AKU INGIN MENYERAH


__ADS_3

Uni Dewi masih terus bertahan bahwa ia tak bersalah. Ia sudah berusaha mengingatkan mbak Ayu, namun tidak didengarkan. Tapi menurutku, apa yang dilakukannya masih kurang. Uni Dewi mengenal bang Hasan dan keluarganya, bahkan kami terbilang cukup dekat juga, meski kala itu belum sedekat sekarang, sebab selain satu kampung, aku dan Bang Hasan mengajar di TPA yang dipimpin oleh suaminya, harusnya ia memberi tahu saat kejadian terjadi hingga bang Hasan bisa mendapatkan pertolongan meski memang hidup dan mati itu takdir Allah, tapi setidaknya ia bisa mendapatkan bantuan hingga tak harus pergi sendiri sambil menahan sakit di tengah jalanan sepi


Mengingat itu semua membuat darahku kembali mendidih. Namun entah harus melakukan apa. Semua rasanya serba salah. Menuntut mereka, ada mbak Ayu yang saat ini sedang sakit keras, membiarkan saja, aku malah merasa berdosa pada Yumna dan emak.


"Mil, apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkan jika kamu rasa aku bersalah?" tanya uni Dewi, setelah perdebatan panjang kami dan kini Yumna mulai memanggil-manggil sebab ia sudah selesai berdoa untuk Abinya, makanya Yumna mengajakku segera pulang ke rumah ayah dan ibu. Ia juga sudah tak sabar bertemu kakek, nenek juga sepupu-sepupunya.


"Harusnya uni tahu jawabannya. Apa ganjaran untuk seseorang yang menyembunyikan informasi kejahatan padahal ia tahu pelaku dan korbannya." jawabku, yang semakin kesal sebab uni Dewi masih merasa tidak bersalah.


"Mil, ayo kita bicarakan ini secara kekeluargaan saja. Aku hanya seorang saksi, jangan menuntut lebih!"


"Terserah kalau ini beranggapan seperti itu, saya tetap belum bisa memaafkan kalian, apalagi menganggap semuanya tak pernah terjadi."


"Tapi kamu juga harus ingat Mila, kebaikan yang dilakukan oleh mbak Ayu. Kalau bukan karena dia, keluargamu tak akan bisa hidup layak. Uang yang dikirimnya tiap bulan, biaya sekolah keponakan kamu, perbaikan rumah. Semua itu nggak bisa kamu dapatkan secara cuma-cuma."


"Jadi uni mau hitung-hitungan? Satu hal yang harus uni tahu, nyawa Abinya Yumna tak bisa diganti dengan uang sebanyak apapun. Lagipula, kalau ada bang Hasan, kami tidak butuh itu semua. Saya sangat yakin, Abinya Yumna akan bertanggung jawab pada kami!"

__ADS_1


Tak ada jawaban lagi dari uni Dewi. Sepertinya ia menyadari bahwa memang tak pantas untuk membandingkan nyawa dengan uang.


"Saya tak mau berdebat lagi dengan uni. Kami pergi duku." kataku. "Yumna, ayo nak kita pulang. Kita lihat nanti, apakah orang-orang ini punya nyali untuk bertanggung jawab, bukan hanya mengganti dengan yang. Dikiranya semua bisa dibayar pakai uang!" Tangan kananku menggandeng tangan Yumna, sementara yang kiri menyeret tas kain


Berdua kami berjalan beriringan menuju rumah.


Dari jarak beberapa meter, kami sudah melihat rumah ayah dan ibu yang dibangun cukup besar. Bila dibandingkan dengan rumah-rumah orang di kampung, rumah kami saat ini sudah bisa digolongkan besar. Mbak Ayu merancang semuanya dengan sangat baik, tak hanya menyiapkan tukang dan pembiayaan, ia juga mengaturnya sedemikian rupa hingga orang-orang yang menempatinya menjadi nyaman.


Rumah itu dicat dengan warna putih. Bangunan yang semula hanya gubuk kecil kini sudah berdiri sangat kokoh dengan empat kamar tidur. Bahkan kamarku dan kamar Yumna dibuat dengan kamar mandi dalam. Sudah ada ruang keluarga juga. Ada taman dan kolam ikan kecilnya. Smenetara di depan ada toko kelontong Kecil menjual sembako sebagai mata pencaharian ayah dan ibu, meski sebenarnya tiap bulan mbak Ayu sudah mengirimkan sejumlah dana, lima kali lipat dari biaya hidup sehari-hari kami sekeluarga sehingga tiap bulan ibu bisa menabung dan berinvestasi.


"Enggak apa-apa, nek. Yumna sama Umi baik-baik saja. Tadi kami ke makam Abi dulu. Sebelumnya kami nginap di hotel. Umi ngajakin Yumna tidur di hotel besar yang ada tipi besarnya juga." cerita Yumna.


"Ya sudah kalau begitu. Ayo kita ke rumah. Kasihan ayahmu, bingung harus nyari kemana. Bahkan sudah mau lapor polisi." kata ibu, sambil mengambil tasku, lalu membimbing kami menuju rumah. "Pak ... pak. Lihat ini, Mila dan Yumna sudah pulang!" Panggil ibu.


Tak berapa lama muncul bapak, uni Siti diikuti keponakanku. Mereka sangat senang melihat kepulangan kami. Yumna langsung dibawa sepupu-sepupunya menuju dalam rumah.

__ADS_1


"Mil, kamu baik-baik saja, kan?" bapak membuka pembicaraan. Saat kami bertiga sudah duduk di ruang tamu. Tak lupa uni Siti menghidangkan makanan kecil serta teh hangat


"Seperti yang ayah dan ibu lihat. Mila nggak apa-apa, kok." aku memaksakan senyum di bibir, meski dadaku sesak. Ingin menceritakan semuanya tapi mulutku seolah terkunci. Aku benar-benar takut salah langkah.


"Mila ... dalam rumah tangga, yang namanya pernikahan itu ada saja ujiannya. Apalagi kamu dan Ilham tidak berkenalan satu sama lain terlebih dahulu. Tapi memilih jalan ta'aruf sebelum menikah. Ditambah ia juga sudah punya istri pertama. Tentu semakin banyak cobaannya dan tidaklah seringan ujian pernikahan pertamamu. Makanya, kamu harus banyak sabar. Harus banyak memahami dan ngalah. Jangan banyak nuntut, jangan gampang ngambekan. Meski usia kamu lebih muda dari mereka, tapi kamu harus tetap menyeimbangi. Harus dewasa. Toh kamu sudah punya Yumna dan sebentar lagi akan memiliki satu anak lagi " kata ayah.


Deg. Reflek aku melirik perut yang sudah mulai membuncit. Rasa bahagia yang semula terasa saat mengetahui ia hadir kini berubah jadi getir. Ia akan jadi perekat ayah dan ibunya. Tapi bagaimana mungkin aku dekat atau bersatu kembali dengan lelaki yang menjadi suami dari perempuan yang menabrak suamiku terdahulu.


Anak ini, harusnya ia tak hadir agar aku bisa dengan mudah pergi dari kehidupan mereka. Aku tak ingin kembali lagi, apalagi menjadi bagian dari keluarga mbak Ayu. Aku tak mau!


Kepala ini spontan menggeleng. Diikuti bulir air mata yang tumpah tanpa permisi. Mengapa begitu berat ujian yang Allah berikan padaku?


"Mila," ibu mengusap punggungku. "Kalau kamu mau cerita, ceritakanlah nak."


Aku menggeleng. Tak sanggup mengungkapkan semuanya. Dadaku langsung sesak. Spontan aku menangis sesenggukan, rasanya badanku benar-benar lelah. Aku ingin menyerah!

__ADS_1


__ADS_2