MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
MBAK AYU KRITIS


__ADS_3

Tujuh belas panggilan tak terjawab dari nomor mas Ilham. Tapi di kotak pesan tak ada satu pesan pun darinya. Ada apa hingga mas Ilham menghubungi aku sebanyak itu? Sambil mengeringkan rambut usai mandi, aku mencoba menimbang-nimbang, apakah harus menghubungi balik atau menunggu di telepon kembali.


Belum ada keputusan hingga telepon berbunyi lagi. Tapi bukan dari nomor mas Ilham, melainkan nomor ibu. Segera ku angkat panggilan tersebut.


[Baru sekali berdering, langsung dijawab. Tapi telepon dari saya sejak tadi tak diangkat-angkat.] suara mas Ilham terdengar serak. [Kamu benar-benar marah pada saya, Mil? Tapi kan sudah saya jelaskan Mil, saya tidak tahu apa-apa. Bahkan saya tahu semuanya setelah kamu tahu. Lalu apakah saya harus terus menerus di salahkan juga?]


Aku tak menjawab, memilih mendengarkan saja. Sebenarnya aku tak bermaksud untuk mengabaikan telepon darinya. Apalagi sebanyak itu. Tapi tadi posisinya sedang di kamar mandi dan tak tahu kalau mas Ilham memanggil. Hanya saja belum ada kesempatan untuk menjelaskan kembali.


[Baiklah, kalau kamu masih marah, Mil. Kamu boleh mengabaikan saya meski berat sekali rasanya sebab saat ini benar-benar butuh teman untuk bertukar pikiran. Saya menghubungi kamu hanya untuk mengabarkan kalau kondisi Ayu semakin kritis. Tadi subuh ia kembali tak sadarkan diri hingga sekarang. Beberapa ini ia menyebut-nyebut nama kamu. Sepertinya Ayu benar-benar butuh untuk bertemu atau sekedar bicara dengan kamu. Jiwanya benar-benar tersiksa. Saya tak meminta apapun, apalagi untuk memaksakan kamu. Semua terserah kamu, Mil. Maafkan kalau kami sudah membuat luka yang terlalu dalam untuk kamu.] kata mas Ilham sebelum akhirnya menutup telepon.


Egois kah aku? Rasa-rasanya apa yang aku lakukan sudah keterlaluan. Aku menutup wajah dengan kedua tangan, duduk sambil menyenderkan badan di tembok kamar. Mencoba berpikir, apa yang harus aku kay.


Bagaimana kalau usia mbak Ayu tidak panjang? Padahal kami belum bicara. Atau lebih tepatnya masih menyimpan dendam padanya, padahal ia sudah berusaha meminta maaf.


Ya Tuhan ... ini benar-benar berat!


***


[Saya mau pulang.] pesan yang aku kirim ke mas Ilham. Tak butuh waktu lama, langsung ada jawaban.


[Alhamdulillah. Baiklah, akan saya jemput. Terima kasih Mil.] balasnya.


[Tidak perlu. Tolong kirimkan saja tiketnya.] pintaku lagi. Saat ini mas Ilham menemani mbak Ayu di rumah sakit, aku tidak mau konsentrasinya terbagi. Biarlah ia fokus dengan apa yang jadi tanggung jawabnya.


Satu jam kemudian, dua tiket untuk penerbangan besok dikirimkan mas Ilham. Aku kembali membayangkan, pertemuan dengan mbak Ayu. Apa yang harus ku katakan padanya? Sudah bisakah aku menatapnya tanpa kemarahan sedikitpun?

__ADS_1


"Syukurlah kamu mau segera kembali, Mil. Sekarang ibu sudah tenang setelah yakin bahwa rumah tanggamu baik-baik saja. Satu yang ingin ibu pesankan, yang namanya pernikahan, pasti ada ujiannya. Entah itu berat ataupun rubgwb. Kita hanya harus dewasa menghadapinya." pesan ibu, yang belum tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi.


Aku mengangguk. Lalu kembali ke kamar untuk berkemas barang-barang yang tak seberapa. Mengingat masa kami akan bertemu kembali membuatku harus menarik nafas dalam-dalam.


Benarkah aku sudah bisa memaafkan?


Dalam masa sendiri, aku mencoba mencari ke dalam lubuk hati, perasaan marah dan kecewa yang semula tertuju pada mbak Ayu. Dan rasa sakitnya masih ada sebab aku hanya manusia biasa. Meski ia sudah melakukan banyak kebaikan untukku dan keluarga, tapi rasa-rasanya belum bisa memaafkan seratus persen. Namun, aku juga takut jika nanti terlambat bertemu dan menjadi penyesalan yang kedua karena bagaimana pun ia sekarang sudah menjadi bagian dari keluargaku.


***


Pesawat dari Padang ke Jakarta sudah mendarat di Bandara. Kali ini aku bisa melangkah lebih santai bersama Yumna karena sudah beberapa kali naik pesawat. Tempat-tempat yang dituju setelah turun dari pesawat pun aku sudah hafal.


Usai mengambil tas kain, aku dan Yumna keluar. Di sana sudah ada supir yang diutus oleh ibu. Rencananya kami akan langsung ke rumah sakit, mumpung masih siang dan ada jam besuk.


"Umi Ayu masih sakit, Mi?" tanya Yumna, sehingga membuatku tersadar dari lamunan.


"Umi Ayu sakit apa sih, Mi? Kok bisa masuk rumah sakit? Sakitnya parah ya? Kak Hana dan kak Sabrina pasti sedih. Adik Ibed juga. Siapa yang menjaganya? Kasihan sekali ya, Mi." celoteh Yumna.


"Na ...."aku melirik Yumna. "Apa Yumna sayang sama Umi Ayu?"


"Sayang, Mi."


"Seberapa besar?"


Yumna tampak berpikir sejenak. Lalu ia menunjukkan bulatan Besar dari tangannya.

__ADS_1


"Sebesar ini. Bahkan lebih besar." jawabnya. "Umi ini bagaimana sih, kan Umi yang menyuruh Na untuk sayang sama Umi Ayu dan anak-anaknya. Harus sama sayangnya seperti rasa sayang pada Umi. Begitu, kan?"


"Ya." aku mengusap lembut kepalanya. "Kalau Umi Ayu melakukan kesalahan. Apakah Na bisa memaafkan Umi Ayu?"


"Memang Umi Ayu melakukan salah apa?"


"Umi belum bisa cerita sekarang. Tapi apakah Na bisa memaafkan Umi Ayu?"


"Ya." Yumna mengangguk dengan mantap.


Aku memaksakan senyum. Berharap, kelak saat Yumna dewasa ia benar-benar bisa memaafkan mbak Ayu yang sudah menabrak Abinya.


Tak terasa, mobil yang kami tumpangi memasuki halaman salah satu rumah sakit terbesar di kota Jakarta bagian Selatan. Di dekat lobi, supir berhenti dan mempersilahkan kami untuk masuk. Katanya ibu sudah menunggu di lobi rumah sakit. Aku diminta untuk menghubungi kalau sudah sampai supaya bisa diantar ke ruangan mbak Ayu.


Entah kenapa, rasanya jantungku berdegup begitu kencang. Aku takut, sangat takut. Tak bisa menahan amarah dan pada akhirnya kembali meledak di hadapan mbak Ayu padahal saat ini kondisinya sedang tidak baik-baik saja.


"Mi," Yumna mengguncang pelan lenganku. "Ayo. Katanya mau membesuk Umi Ayu." kata Yumna.


"Ya." kataku. Dengan langkah kaku seperti sebuah robot, aku turun dari mobil, berjalan pelan hingga Yumna harus menarik lenganku agar mempercepat langkah.


Aku tak tahu apakah aku siap untuk bertemu. Aku takut ... takut jika bayangan bang Hasan kembali muncul. Takut kalau ternyata apa yang aku lakukan salah. Aku tak tahu harus melakukan apa. Aku benar-benar bingung.


"Mila!" baru saja aku hendak berbalik pergi meninggalkan lobi rumah sakit, tiba-tiba suara ibu sudah memanggil. Ia memburu langkahku. "Kamu sudah datang." Ibu memelukku, lalu beralih pada Yumna. "Terimakasih sudah berbesar hati datang ke sini, Mil. Ibu tahu ini tidak mudah, tapi Ayu benar-benar membutuhkan kamu. Jiwanya benar-benar tidak tenang." ujar ibu.


"Apa saya harus menemui mbak Ayu?" sebuah pertanyaan yang tak harusnya aku tanya, sebab keneradaanku di sini harusnya sudah menjadi jawaban bahwa aku bersedia bertemu.

__ADS_1


"Semua terserah kamu, Mil." ibu menyerahkan semuanya padaku.


__ADS_2