
Aku beruntung ayah dan ibu tak memaksaku untuk menceritakan semuanya sebab mereka masih menghargai privasi. Bahkan ketika melihatku menunjukkan sikap tidak nyaman, kedua orang tuaku malah menyuruhku untuk beristirahat.
Rasanya badan ini memang tak kalah lelah bila dibandingkan hati, setelah melakukan perjalanan cukup panjang, ditambah dalam kondisi hamil. Sampai di kamar, aku yang seharusnya istirahat memilih untuk merenungi semuanya. Mempertimbangkan, apakah harus menceritakan atau didiamkan saja dengan konsekuensi berbeda pula. Tapi bagaimana jadinya jika suatu saat mereka semua tahu ini semua? Ahhh, semua pilihan benar-benar membuat pusing.
***
"Untuk apa mas ke sini?" Aku membuang pandangan saat mas Ilham datang menemui. Rupanya ayah yang memberitahunya bahwa aku sudah di rumah, makanya ia buru-buru ke sini.
"Mil, apa kabar? Selama tiga hari ini kamu kemana saja? Kamu baik-baik, kan?" tanya mas Ilham.
Pertanyaan basi. Aku memilih tak menjawab.
"Saya mengerti kamu pasti kaget dan marah dengan semua kenyataan ini. Saat tahu pun saya sama kagetnya seperti kamu, makanya saat itu juga saya memilih untuk menyusul kamu karena saya benar-benar khawatir. Sayangnya kamu tak pulang ke rumah, makanya saya kebingungan harus mencari kemana lagi."
"Lalu bagaimana tanggapan mas?"
"Mil, demi Allah saat tahu saya begitu marah pada Ayu. Tak ada kata-kata yang bisa saya ungkapkan selain meninggalkan dirinya saat itu juga sebab ia sudah berani membohongi saya dan tentunya kamu."
"Dia sudah mempermainkan perasaan saya!"
"Ya Mila, saya paham dan kamu berhak untuk marah. Tapi ..."
"Tapi apa?"
__ADS_1
"Semula saya datang ke sini untuk memberi sedikit hukuman pada Ayu agar ia menyadari kesalahannya. Tetapi dua jam lalu ibu menelepon, mengabarkan kalau kondisi Ayu semakin parah. Saat ini ia sudah di rumah sakit. Ayu sedang menjalani perawatan, dokternya yang menangani Ayu juga mengatakan bahwa waktunya mungkin tak akan lama. Saat mendengar itu, seluruh kemarahan saya langsung luruh. Ia memang benar ia melakukan kesalahan yang sangat fatal, tapi ia sudah menyesalinya Mil dan ia sudah menyatakan siap untuk bertanggung jawab."
Aku tak menjawab. Mendengar mbak Ayu sakit parah saja hatiku sudah tak karu-karuan, tapi di satu sisi juga aku berharap keadilan untuk bang Hasan.
"Mila, maafkan saya. Tapi sepertinya saya harus kembali ke Jakarta. Saya akan mendampingi Ayu dimasa-masa akhirnya." mas Ilham menarik nafas sejenak. "Dan ... jika kamu berkenan, maukah kamu ikut pulang dan bertemu dengan Ayu?"
Aku yang semula membuang pandangan langsung beralih ke mas Ilham, menatapnya penuh tanya. Apa benar aku harus melakukan itu semua? Oh tidak, saat ini hatiku masih hancur. Aku belum bisa merelakan apa yang terjadi pada suamiku, bagaimana mungkin sekarang aku diminta kembali untuk menemui mbak Ayu.
"Mila, kamu mau kan?" tanya mas Ilham.
"Enggak. Jangan minta hal itu pada saya." kataku. Aku membuang wajah, menahan sekuat tenaga agar tak ada air mata yang tumpah meski rasanya dada ini teramat sesak. Aku tak bisa melihat m aku Ayu sekarang..emosiku masih belum bisa terkendali. Aku tak ingin menyakitinya dengan kata-kata, jika mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Abinya Yumna.
"Baiklah Mila. Saya mengerti. Kalau begitu saya akan kembali hari ini juga ke Jakarta. Izinkan saya untuk selalu mengabari apa yang terjadi pada Ayu, ya. Kalau kamu berubah pikiran, jangan ragu-ragu untuk menghubungi karena saya akan langsung menjemput kamu."
"Ya Mil,"
"Apa sebaiknya kita berpisah saja?"
"Mila?"
"Saya tak bisa menjadi bagian dari keluarga kalian. Saya nggak sanggup menjadi madu mbak Ayu. Saya ingin mengakhiri semuanya. Saya benar-benar merasa berdosa pada Abinya Yumna, pada Yumna dan emak juga. Jadi biarkan saya kembali pada keluarga saya seperti dulu. Saya ...."
"Enggak Mil, sampai kapanpun saya tak akan melepas kamu ataupun Ayu. Kalian adalah istri saya yang harus saya jaga hingga akhir hayat saya. Nanti kita bicarakan lagi setelah kondisi kesehatan Ayu membaik. Sekarang biar saya pulang dulu. Saat ibu kamu sedang emosi, jadi lebih baik kamu tenangkan diri dulu."
__ADS_1
Mas Ilham kini sudah pergi. Sementara aku hanya bisa menangis sebab perasaanku kacau. Bimbang harus melakukan apa.
"Ya Allah ... hamba harus melakukan apa? Satu sisi hamba tidak tega melihat mbak Ayu sakit, satu sisi lagi hamba juga tak rela dengan apa yang menimpa suami hamba terdahulu. Ia harus meregang nyawa sendirian tanpa dibantu padahal pelakunya bisa Berusaha untuk memberikan bantuan." aku masih menangis.
"Mila," tiba-tiba ibu masuk ke kamar. "Ibu sebenarnya sejak awal memang tak setuju dengan pernikahan kalian sebab ujiannya pasti jauh lebih berat dibandingkan dengan pernikahan monogami. Tetapi, setelah kamu memutuskan untuk menjalaninya, dan sekarang kamu sedang hamil, ibu sudah bisa menerima pernikahan kalian. Bahkan ibu berharap dan selalu berdoa agar pernikahan kalian sakinah mawadah warahmah. Ibu ingin kamu lebih sabar, lebih ikhlas menjalani pernikahan kamu seberat apapun ujiannya. Jangan cepat berpikir untuk mengakhiri semua meski berat, Mil. Sebab calon anak kedua kamu juga berhak lahir di tengah keluarga yang lengkap." nasihat ibu yang belum tahu alasan sebenarnya kenapa aku pulang sebab aku tak memberitahu, begitu juga dengan mas Ilham.
Saat ini aku belum siap untuk memberitahu siapapun juga. Biarlah mereka tahu, tapi tidak dari aku.
***
Sudah dua hari sejak mbak Ayu masuk rumah sakit. Mas Ilham mengabarkan kalau sejak semalam ia tak sadarkan diri. Kondisinya semakin lemah. Bu Sila juga menelepon, berharap aku datang dan memberikan maaf pada putrinya. Tapi permintaan itu tidak dapat ku kabulkan.
"Sekarang rencana kamu apa, Mil?" tanya Ayah, usai kami sarapan bersama.
"Kenapa Yah? Apa Mila dan Yumna sudah tidak boleh berlama-lama di sini?" tanyaku.
"Astagfirullah, bukan begitu Mila. Ayah sama ibu hanya ingin tahu rencana kamu selanjutnya. Istri pertamanya Ilham kan sedang sakit, apa tidak sebaiknya kamu kembali ke sana? Sepertinya mereka sedang butuh bantuan kamu. Mengingat anak-anak Ilham dari istri pertamanya masih kecil-kecil. Mungkin kamu bisa menggantikan peran istri pertamanya semnetara waktu dan ..." belum selesai ibu bicara, aku langsung memotongnya.
"Mila nggak akan kembali, Bu. Mila mau di sini saja. Kalau ayah dan ibu keberatan, Mila akan tinggal dengan emak." kataku. Aku lalu memanggil Yumna, mengajaknya mengunjungi emak.
"Mil ... Mila! Ayah dan ibu nggak bermaksud mengusir kami. Ini rumah kamu juga. Ibu hanya ingin kamu, Ilham dan yang lainnya baikan. Apapun masalah kalian." pinta ibu, saat kami beranjak pergi.
"Enggak akan bisa melupakan semuanya secepat itu, Bu. Nggak akan bisa!" kataku. Sembari berjalan. "Kami pergi duku. Assalamualaikum." aku membimbing tangan Yumna keluar dari rumah ini.
__ADS_1