MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
BUKU DARI FARID


__ADS_3

Seluruh pekerjaan rumah akhirnya selesai juga. Mbok Asih pun sudah pergi meninggalkan dapur. Sebenarnya akupun ingin masuk ke kamar karena tak tahu harus melakukan apalagi. Di rumah sedang sepi, hanya ada; aku dan mbok Asih. Mas Ilham dan mbak Ayu sudah berangkat ke kantor masing-masing, sementara anak-anak ke sekolah. Termasuk sibungsu Bilal yang juga sekolah. Entah apa yang dipelajarinya anak berusia dua tahunan itu di sekolah. Tapi jenuh juga jika harus mengurung diri sendiri. Makanya ku putuskan untuk keluar rumah, sekedar menghirup udara segar.


Sedang asyik melihat-lihat kolam ikan sambil sesekali melempar makanannya, tiba-tiba sebuah suara memanggilku. Ternyata Farid. Ia tengah duduk tak jauh dari kolam. Aku tak menyadari keberadaannya sebab tertutup rimbunnya pohon-pohon kecil hasil cangkokan.


"Mbak Mila sedang apa?" tanya Farid.


"Enggak ngapa-ngapain, cuma mau habisin waktu saja. Bosan di dalam, enggak tahu juga harus ngapain lagi, semua pekerjaan rumah sudah selesai." jawabku.


"Mbak Mila suka baca, nggak?"


"Suka. Suka banget malahan. Dari dulu aku termasuk kutu buku lho. Cuma karena keterbatasan biaya, makanya jarang bisa beli buku. Biasanya kalau mau baca buku, aku minjem di perpustakaan sekolah. Setelah putus sekolah, baca di perpus mushalla, itupun dengan koleksi buku yang terbatas."


"Oh begitu. Memang mbak Mila suka baca buku jenis apa?"


"Fiksi dan non fiksi saya suka semuanya. Yang penting bagus."


"Kalau saya pinjamkan buku, mau nggak?"


"Mau banget."


Farid cepat berlalu menuju kamarnya yang berada tak jauh dari garasi mobil. Tak lama ia kembali membawa setumpuk buku yang lumayan tebal. Melihat buku-buku itu, senyumku langsung terkembang. Membayangkan betapa nikmatnya bisa menyalurkan hobi baca.

__ADS_1


"Ini ada buku fiksi, ditulis oleh penulis terkenal, sudah best seller. Ada juga buku motivasi dan buku agama. Kalau mbak Mila suka, saya masih punya banyak koleksi buku yang lainnya."


"Wah, saya suka banget buku-buku seperti ini. Boleh saya pinjam ya?"


"Tentu saja, mbak."


Buku-buku yang dibawa oleh Farid kini sudah berpindah ke tanganku. Kami berbincang sebentar tentang koleksi buku Farid. Aku baru tahu kalau diapun suka membaca. Sehari-hari, usai bekerja menjadi supir dan kuliah, Farid menghabiskan waktunya dengan membaca. Pantas saja ia terlihat begitu cerdas dan banyak wawasan sebab suka membaca.


Sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara deheman. Rupanya mbak Ayu. Entah kapan ia pulang, tak ada suara mobil yang terdengar.


"Mbak Ayu sudah pulang? Kok saya nggak dengar suara mobilnya ya?" kataku, sambil celingak-celinguk ke kiri dan kanan.


"Iya mbak, maaf. Saya sama Farid hanya ...." tiba-tiba kata-kataku di potong.


"Apa? Jangan berpikir karena nggak ada aku sama mas Ilham di rumah makanya kamu bisa bersikap seenaknya. Bebas berinteraksi dengan siapapun. Tidak Mila. Kamu sudah tidak bisa bersikap bebas. Lagipula kamu perempuan seperti apa, sih? Aku kira kamu perempuan saliha yang tahu batasan pergaulan antar perempuan dan laki-laki, ternyata ... kamu bebas sekali!" Mbak Ayu bicara dengan berapi-api.


Kata-kata yang diucapkan mbak Ayu benar-benar diluar dugaanku. Memang benar, tak seharusnya seorang muslimah berduaan dengan lelaki yang bukan mahramnya. Tapi aku dan Farid berada di tempat terbuka, kami juga tak bermaksud apa-apa selain membicarakan masalah buku.


Sikap mbak Ayu menurutku terlalu berlebih-lebihan sehingga aku tak tahu harus berkata apa. Sejujurnya aku benar-benar kaget. Kalau menurutnya salah, bisa dibicarakan dengan baik tanpa harus menilai secara berlebihan. Karena tak mau menambah masalah, aku memilih mengiyakan saja kata-kata mbak Ayu.


"Sekarang mendingan kamu masuk ke dalam dan jangan keluar-masuk sembarangan. Jaga sikap kamu, Mil. Sekali lagi aku melihat kamu seperti itu, enggak tertutup kemungkinan kalau aku nggak akan mengizinkan kamu keluar rumah. Oh ya, satu lagi, sebentar lagi teman-temanku datang, kamu bersiap-siap karena aku akan mengenalkan mereka. Ini, kamu pakai gamis ini nanti!" Mbak Ayu melempar sebuah paper bag ke tanganku, lalu ia berlalu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Melihat sikapnya itu, aku hanya bisa mengelus dada. Sebenarnya ada apa dengan mbak Ayu, kenapa ia sensitif sekali denganku. Sepertinya apa yang aku lakukan selalu salah. Teringat tadi pagi saat aku menghindangkan sarapan di meja makan, mbak Ayu marah-marah karena menganggap susunannya tidak tepat. Sebenarnya ia bisa memberitahu baik-baik karena ini pertama kalinya aku ikut menghindangkan makanan di meja makan.


"Maaf ya Rid, gara-gara saya kamu jadi ikut kena semprot." kataku, sambil menautkan kedua tangan.


"Enggak apa-apa mbak. Mbak Mila yang sabar ya." kata Farid.


"Ya, saya masuk dulu ya. Nanti mbak Ayu marah lagi kalau saya lama-lama di sini." aku buru-buru meninggalkan Farid, berlalu menuju kamarku sendiri.


Sebenarnya, ada luka di hati ini atas sikap mbak Ayu. Sebagai perempuan berdarah Minang yang terbiasa dididik dengan lemah lembut, rasanya sakit sekali dituduh yang bukan-bukan. Aku memang bukan orang yang berpendidikan tinggi seperti orang-orang di rumah ini, tapi aku masih tahu batasan-batasan pergaulan antara perempuan dan laki-laki. Kalau memang salah, aku tak menutup diri untuk dinasihati.


Perlahan, air mata itu tumpah juga. Ku biarkan ia mengalir terus membanjiri pipi. Terkadang, kita butuh ini untuk meluapkan segala emosi, sebab kalau dipendam, khawatir malah menjadi penyakit atau dendam yang akan merusak hati. Walau bagaimanapun, mbak Ayu sekarang adalah bagian dari keluargaku juga. Ia adalah istri pertama suamiku.


Suami? Tiba-tiba senyum getir muncul di bibir. Entahlah, aku merasa bingung dengan pernikahan ini. Kenapa semuanya terasa aneh. Bahkan tadi pagi, saat berpapasan pun, mas sikapnyaIlham tidak melirik atau menyapaku sedikitpun. Padahal aku ini sudah sah sebagai istrinya. Sikapnya itu seolah-olah aku adalah orang asing atau hanya pekerja di rumahnya yang tak berhak atas dirinya.


Senyum itu masih tetap ada, terus terukir meski air mata juga semakin deras. Apakah aku menyesal dengan pernikahan ini? Salahkah jika aku berharap dihargai sedikit saja. Diperlakukan seperti orang asing benar-benar melelahkan. Kalau mereka belum siap dengan pernikahan ini, kenapa membawaku ikut serta dalam kehidupannya?


Ada apa dengan mbak Ayu dan mas Ilham? Mereka menuntutku untuk bersikap sesuai syariat, tapi bagaimana dengan mereka? Apa yang jadi hakku belum juga mereka berikan.


"Ahhh Mila, apakah ini tandanya kamu menyesal?" tanyaku pada diri sendiri.


Sejujurnya aku tak keberatan jika harus bekerja mengurus rumah tangga. Tapi aku juga punya harapan untuk dihargai layaknya seorang istri. Meskipun tidak bisa menghargai seperti apa yang dilakukan bang Hasan dulu, paling tidak jangan bersikap seolah aku tak ada.

__ADS_1


__ADS_2