
"Mas!" panggilku. "Ini terakhir saya bicara. Saya sadar sudah melakukan kesalahan dengan tidak menuruti kata-kata, mas. Tapi saya punya alasan kenapa melakukannya. Terkadang seorang ibu tidak bisa menggunakan logikanya jika itu berkaitan dengan anaknya.
Bukan berarti juga saya tak peduli dengan bayi di kandungan saya. Sungguh saya tidak tahu bagaimana bahayanya seorang ibu hamil melakukan perjalanan udara. Tidak ada yang memberitahukan saya dan saya yang bodoh ini juga tidak terpikirkan untuk mencari informasi tentang ini. Sebab saya pikir semuanya akan aman-aman saja karena mas juga tidak memberitahu saya.
Tapi jika penjelasan dan permohonan maaf saya tetap tidak bisa meredakan kemarahan mas, tidak mengapa. Saya akan sabar menunggu hingga mas merelakan kesalahan saya. Hanya saja jika harus menunggu hingga lahiran, saya juga bukan manusia yang bisa bersabar selama itu didiamkan untuk kesalahan yang menurut saya bisa untuk dibicarakan baik-baik. Saat ini saya sedang hamil, butuh hati yang tenang juga untuk menjalani kehamilan ini. Saya tak akan tenang jika terus didiamkan, apalagi untuk jangka waktu cukup lama.
Karena itu, saya memutuskan dengan berat hati, sebaiknya mas memulangkan saya pada orang tua saya demi ketenangan hati dan jiwa saya." kataku, menegaskan. Inilah sikap yang aku ambil untuk masalah yang menimpa kami. Aku tak bisa bertahan dalam keadaan didiamkan seperti ini. Aku juga butuh ketenangan. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan berbulan-bulan dalam kondisi hamil di rumah yang semua penghuninya tak ada yang ingin bicara denganku.
"Maksud kamu apa, Mila?" tanya mas Ilham.
"Saya rasa semuanya sudah jelas, mas. Keputusan akan mas ambil setelah bayi ini lahir. Sayangnya saya tidak bisa menangis selama itu. Saya perempuan biasa yang punya hati."
"Oh, kamu minta bercerai?"
"Begitulah, mas."
"Kamu tahu kan, seorang istri yang minta cerai pada suaminya maka ia tak akan bisa mencium aroma surga. Kamu mau merasakan itu, Mila? Juga keluarga kamu. Kalau kita berpisah, lalu kamu tidak mengapa keluarga kamu kehilangan tunjangan yang selama ini kami berikan? Iya, Mila?"
"Mas ... saya tahu semua itu. Tapi pikirkan juga tentang kenyamanan saya. Jangan hanya menuntut saja tapi mas nggak tahu bagaimana cara membuat istri-istri mas bisa saling menerima satu sama lain. Saya lelah dengan semua ini. Saya butuh ketenangan. Memang benar kalian memberikan jaminan keuangan untuk keluarga saya dengan pernikahan kita, tapi itu bukan berarti kalian bisa bersikap seenaknya pada saya. Saya juga punya hati. Lagipula keluarga saya juga tak berharap kemewahan dengan menggadaikan kenyamanan anaknya. Mereka siap kehilangan semuanya, asal kami bahagia."
"Oh begitu."
"Ya mas. Sekarang silakan tentukan. Kalau mas memang tetap dengan keputusan awal mas, saya siap pulang sekarang."
__ADS_1
"Kamu mendesak saya."
"Sebagai perempuan, saya hanya mencoba memperjuangkan hak saya. Saya tidak ingin digantung seperti itu!" Aku bukan mbak Ayu yang akan mengemis terus-menerus. Aku juga punya prinsip. Kalau salah, harusnya diluruskan, bukan dibuat frustasi dengan didiamkan.
Mas Ilham tak menjawab. Ia kelihatan bingung. Mungkin merasa tersudut dengan tuntutan yang barusan aku berikan. Meski aku sudah berjanji, ketika bayi ini lahir, ia tetap akan mendapatkan hak untuk bertemu anaknya seperti dengan anak-anaknya yang lain. Tapi mas Ilham tetap tidak bisa menjawab.
"Baiklah, kalau mas diam saja. Saya anggap mas setuju dengan apa yang saya katakan." kataku. Tak banyak waktu yang aku berikan untuknya berpikir. Jika ia bisa menggabtungku, maka aku pun bisa bersikap yang sama.
"Kamu benar-benar ya Mil ...." ia mendengus kesal. "Baiklah, saya maafkan kamu!" katanya.
"Benar, mas?" tanyaku, antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Benarkah aku sudah berhasil meluluhkan hati mas Ilham?
"Iya Mila!" tegasnya.
"Hem Hem Hem," suara deheman mbak Ayu membuat kami refleks melepaskan pelukan, lalu menjauh satu sama lain. "Sarapannya sudah siap?" tanya mbak Ayu, diikuti anak-anaknya.
"Sudah mbak." jawabku.
"Jaga sikap di depan anak-anak!" kata mbak ayu pada kami berdua.
Sarapan pagi ini rasanya lega sekali sebab akhirnya mas Ilham memberikan maafnya untukku, meski mbak Ayu dan Iqbal menatapku dengan tatapan cukup tajam. Mungkin mereka bingung sebab perubahan sikap mas Ilham yang cukup drastis, padahal menurut orang-orang terdekatnya, mas Ilham tipe laki-laki yang sulit untuk memberikan maaf atas sebuah kesalahan yang dilakukan orang terdekatnya.
***
__ADS_1
Setelah Yumna ikut denganku. Mas Ilham sudah menyiapkan agar Yumna sekolah bersama anak-anaknya mbak Ayu yang lainnya. Rencananya Yumna akan didaftarkan TK tahun ajaran baru nanti karena sebelumnya Yumna juga belum pernah sekolah.
Sebenarnya aku agak berat ketika mas Ilham menawarkan sekolah yang sama dengan anak-anaknya yang lain sebab sekolah mereka bertaraf internasional yang sangat mewah, sementara kami sendiri berasal dari kampung. Aku khawatir malah membuat Yumna terbebani, makanya ku beranikan diri untuk mengajukan sekolah di sekolah TK yang tak jauh dari rumah.
"Tapi kan itu sekolah biasa, Mil. Isinya juga anak-anak yang tinggal di luar kompleks sini. Rata-rata anak buruh dan pegawai biasa." tukas mbak Ayu.
"Ya nggak apa-apa, mbak. Saya rasa Yumna lebih nyaman sekolah di sana. Enggak terlalu jauh beda dengan lingkungannya sebelumya. Biayanya juga pasti nggak terlalu tinggi dan yang pasti anak-anaknya masyarakat asli semua." kataku.
"Duh, jangan deh. Apa kata orang-orang nantinya. Dikira aku dan mas Ilham membedakan Yumna, padahal kami nggak seperti itu." kilah mbak Ayu.
"Enggak kok mbak, ini demi kenyamanan Yumna saja." jawbaku.
"Enggak Mil, aku nggak setuju. Selain itu, kwalitas sekolah di sana juga nggak bagus. Namanya juga sekolah kampung!" tegas mbak Ayu. "Yumna itu sudah tinggal dengan keluarga ini, mau tidak mau dia juga harus belajar beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggalnya agar tidak jomplang nantinya."
"Ya sudah, kalau Mila maunya seperti itu dan yakin itu yang terbaik untuk Yumna. Silakan saja." kata mas Ilham, menengahi kami berdua.
"Apa mas? Kenapa begitu? Apa yang aku katakan itu demi kebaikan Yumna, tapi kenapa malah ditentang? Mas tahu tidak efeknya bagaimana nanti? Orang akan menganggap kita membeda-bedakan Yumna. Belum lagi tentang masa depannya Yumna. Mau jadi apa kalau sekolahnya di tempat biasa seperti itu, bisa-bisa dia kayak ibunya." ejek mbak Ayu.
"Memang kenapa kalau seperti ibunya? Rasanya nggak ada yang salah." kembali mas Ilham membelai.
"Ahhh sudahlah. Kayaknya yang aku katakan ditentang semua. Lain kali buat keputusan sendiri saja, kapan perlu biayai sendiri juga semuanya supaya nggak merepotkan orang lain!" mbak Ayu berlalu meninggalkan aku dan mas Ilham berdua.
"Nggak usah diambil hati, maksudnya Ayu itu sebenarnya baik, dia hanya ingin Yumna mendapatkan yang terbaik seperti anak-anak lainnya." nasihat mas Ilham.
__ADS_1
"Ya mas, saya paham kok." aku tersenyum.