MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
Pasang Badan Untuk Asad


__ADS_3

"Kalau kamu nggak bisa mendengar kata-kataku, tak bisa baik kepada anakku dan terus kasar maka aku akan pergi membawa anak-anakku; Iqbal, Asad, Hana, Sabrina, Yumna dan Ibed. Mas tinggallah sendiri supaya tak perlu lagi emosi mengurus kami!" Tegasku.


"Mil!" mas Ilham marah.


"Anak-anak adalah segalanya untuk saya, mas. Bagi seorang ibu, lebih baik hancur lebur asal tetap bersama anak-anaknya!" Kataku.


"Umiiii ...." tiba-tiba Asad memanggilku. Ia berdiri sambil berlinang air mata. Wajahnya yang masih polos, kini ada luka lebam di pipinya. Bahkan bibirnya berdarah. Aku begitu hancur melihatnya. Buru-buru ku peluk anak tersebut sembari menghapus darah yang mengalir.


Sejak aku menginjakkan kaki menjadi madu ibunya, ia tak pernah berkomentar apapun. aku tahu ia tak terima jika ibunya harus berbagi ayahnya, tapi meski begitu ia tak pernah melakukan hak buruk padaku hingga akhirnya ia kehilangan ibu kandungnya. barulah anak ini berubah, meski lewat tatapan saja. Ia yang biasanya tenang kini terlihat mulai tak terpegang. Anak itu sebenarnya sangatlah baik, ia hanya menyimpan luka makanya berubah menjadi keras.


"Umi ada si sini, Umi akan menjaga Asad. umi tahu Asad tidak bersalah. Asad anak baik!" kataku, kami berdua saling menangis.


"Umii," ia masih terisak memanggilku. Sementara, dengan ujung mata aku melihat senyum di bibir mas Ilham yang entah apa artinya.


Aku dan Asad kini hanya tinggal berdua di ruang tamu kantor polisi. Untuk bisa membawa pulang Asad, maka kami harus bisa membujuk Asad untuk memberitahu siapa pemilik barang haram itu.


"Asad, kalau Asad percaya pada Umi, bicaralah. Tapi kalau Asad belum bisa mempercayai umi, tak apa-apa. Umi akan menunggu sampai Asad mau bicara, umi tak akan pulang kalau tidak bersama Asad." kataku


"Kalau Asad bicara, apa orang yang memiliki barang ini akan dihukum, Mi?" tanya Asad.


"Ya. Karena ini perbuatan kriminal. Tapi Asad harus bicara supaya polisi melepaskan Asad."


Asad tertegun. Ia ingin pulang tapi tak tahu harus berbuat apa. "Asad takut, Mi. Asad ingin pulang. Jangan tinggalkan Asad sendiri ya, Mi." pinta Asad.

__ADS_1


"Umi nggak akan meninggalkan kamu, nak. Umi akan menemani Asad. Jangan takut, nak. Banyak berdoa sama Allah agar Asad ditolong. Saat ini hanya Allah yang bisa menolong kita."


"Mi, doakan Asad,"


"Dia umi selalu untuk Asad, nak,"


Butuh waktu cukup lama untuk membujuk Asad hingga akhirnya ia buka suara juga. Namun apa yang dikatakan Asad membuat kami semua kaget, bahkan aku sampai lemas dibuatnya. Ternyata barang haram itu didapat oleh Asad dari Iqbal.


"Iqbal!" Mas Ilham yang tadinya sudah lebih tenang dan reda amarahnya kini kembali marah. Aku pun sebenarnya kesal, kenapa Iqbal bisa setrga itu kepada adiknya. Entah apa maksudnya. Untuk memperjelas semuanya, mas Ilham menyuruh Farid untuk membawa Iqbal ke sini.


***


Begitu datang, Iqbal terlihat tenang. Ia bahkan masih bisa senyum-senyum seolah tidak terjadi apa-apa padahal rahasianya sudah terbongkar dan kini ia sedang ada dalam masalah besar yang tak hanya berurusan dengan Abinya, melainkan dengan polisi juga.


Untung saja ini di kantor polisi. Jadi banyak orang yang menengahinya. Mungkin kalau ini di rumah, Iqbal sudah pasti menjadi bulan-bulanan Mas Ilham.


"Jawab Bal!" bentak mas Ilham lagi.


Merasa tak bisa membuka mulut Iqbal, akhirnya mas Ilham menyuruh polisi untuk menahan Iqbal.


"Mas, jangan begitu!" aku langsung protes. "Lihat apa yang sudahmas Lakukan, Iqbal jadi kaget."


"Biarkan saja, Mil. Supaya dia kapok dan sadar tidak lagi membuat masalah untuk keluarga!" kata mas Ikan.

__ADS_1


Mas Ilham benar-benar meninggalkan Iqbal di kantor polisi. Ia membawaku dan Asad pulang. Aku sudah berulang kali protes karena menurutku meninggalkan Iqbal di kantor polisi bukankah sebuah solusi. Ia akan semakin jauh dari kami, bahkan kebenciannya padaku akan semakin bertambah-tambah.


"Sudahlah Mil, ini keputusan saya, jadi jangan protes lagi!" Tegas mas Ilham saat aku terus memberikan masukan. "Lagipula mereka adalah anak-anak saya!"


"Mas salah, ini adalah rumah tangga kita berdua, anak-anak adalah tanggung jawab kita berdua juga. Jadi jangan hanya memutus semuanya sendiri. Saya tahu mas kecewa, marah, kesal pada Iqbal. Tapi apa mas bisa bayangkan juga bagaimana perasaan anak itu pada kita? Saat kita tinggalkan ia pasti merasa sendiri dan akan semakin jauh dari kita.


Padahal ia butuh kita.. Bagaimanapun juga, Iqbal begitu karena kehilangan sosok ibunya. Ia sedang kehilangan arah, mas. Jangan biarkan ia semakin terpuruk. Izinkan aku ikut terlibat menjaga mereka, mas. Aku akan berusaha semaksimal mungkin!" kataku.


***


Maski mas Ilham menolak dan bahkan terkesan tak peduli ketika aku memintanya untuk tidak memusuhi Iqbal, tapi tetap saja ia menuruti masukan yang ku beri.


Mas Ilham menyewa pengacara terbaik untuk mengeluarkan Iqbal dari kantor polisi. Hasilnya, hanya ditahan beberapa jam akhirnya Iqbal kembali juga, tapi persis seperti yang aku takutkan, ia malah semakin marah. Anak itu bahkan benar-benar memberontak. Tapi yang ku yakini itu efek karena sempat ditinggalkan di kantor polisi jadi ia benar-benar tak punya harapan pada kami.


"Ingat Bal, jangan lagi membuat masalah atau ...." Belum selesai mas Ilham bicara, ia sudah memotongnya.


"Apa sih, sedikit-sedikit ngancam. Kalau tidak bisa mendidik anak belajar, bukannya malah nambah istri. Kayak sudah paling pintar saja." Iqbal mencibir ayahnya.


"Kamu benar-benar ya!"


"Apa? Mau marah lagi. Hati-hati nanti malah struk!" Anak itu cengengesan. Ia meninggalkan kami semua dan kembali ke kamarnya. Sementara mas Ilham yang benar-benar kesal hanya bisa diam saja!


"Lihat kan, bagaimana sikapnya itu. Benar-benar tidak tahu diri. Harusnya ia sadar, bukan malah bersikap seperti itu. Dia itu memang sebaiknya diberi pelajaran yang membuatnya kapok ya memasukkannya ke dalam sel penjara. Biar dia tahu enggak enaknya dipenjara. Dia pikir dia bisa keluar kalau tak ada orang tuanya. Makanya lain kali harus keras dan tegas supaya ini semua selesai!" mas Ilham marah-marah.

__ADS_1


__ADS_2