MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
PULANG


__ADS_3

"Mas, maafkan. Saya tetap ingin pulang." kataku, pada mas Ilham. Saat aku datang membesuk mbak Ayu ke rumah sakit esoknya. Ada beberapa pertimbangan yang membuatku berubah pikiran sehingga memutuskan harus terbang sekarang juga. Salah satunya karena kesehatan Yumna memburuk usai ku kabari bahwa aku gak jadi berangkat.


"Tapi Mil, kamu tahu kan bagaimana kondisi Ayu sekarang. Hingga sekarang ia belum sadarkan diri. Sudah lebih dua puluh empat jam." kata mas Ilham. "Kamu sabar sebentar lagi ya. Jangan biarkan setan memang. Kalau Ayu sudah membaik, aku janji."


"Iya mas, saya mengerti. Tapi kan saya bisa pulang sendiri. Nanti, sampai di bandara Padang juga Ayah akan menjemput."


"Kenapa kamu tak bisa menunggu dulu, Mil. Setidaknya sampai kondisi Ayu membaik. Lagipula kamu sedang hamil muda, apa nggak bahaya terbang sendiri. Kalau ada apa-apa, bagaimana?"


Sulit untuk menjelaskan pada mas Ilham bagaimana kondisi Yumna saat ini. Anak itu benar-benar kecewa. Ia bahkan mengurung diri di kamar. Perubahan sikap Yumna itu membuatku khawatir. Aku tak ingin ia berpikir bahwa ibunya benar-benar tak peduli lagi padanya.


Lagipula, kalau harus menunggu mbak Ayu sehat. Aku juga belum yakin apa mbak Ayu akan tetap membiarkan aku dan mas Ilham pergi berdua ke kampungku. Ada hal yang tidak diketahui oleh mas Ilham. Yaitu tentang istrinya yang sebenarnya hanya bersandiwara menerimaku. Dengan kejadian ini semakin membuatku yakin bahwa ia sanggup melakukan hal apapun untuk menghalangi langkahku.


"Maaf mas, saya tetap akan pulang!" kataku, tegas. "Saat ini putri saya benar-benar membutuhkan saya."


"Terserah kamu. Kalau kamu tidak mau diberitahu. Tapi ingat Mil, saya tidak akan menjemput kamu!" mas Ilham tak mau kalah.


"Maafkan saya mas," aku berusaha menjabat tangannya untuk meminta izin, tapi mas Ilham mengelak. "Saya berangkat ya mas."


Usai pamit pada mas Ilham, aku segera kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang milikku, sebelum berangkat ke bandara. Untung saja ada Farid, ia membantuku untuk mengundur keberangkatan sehingga tiket tidak jadi hangus. Untuk bekal pulang, aku juga bisa menggunakan uang pemberian mbak Ayu yang selalu diberikannya tiap bulan.


"Ibu yakin mau berangkat sendiri?" tanya mbok Asih, saat akan mengantarkan aku ke depan.


"Tidak ada pilihan lain, mbok. Saya harus ketemu Yumna, dia sangat berharap saya pulang, tadi ibu saya juga mengabarkan kondisi kesehatannya menurun. Anak itu terlalu banyak berkoy, saya tak ingin ia menanggung kesedihan sendiri." kataku.


"Tapi bapak kan belum ngasih izin, Bu. Bagaimana kalau bapak benar-benar serius tak akan menjemput ibu? Apalagi ibu sedang hamil."

__ADS_1


"Tidak apa, Mbok. Saya sudah siap dengan semua resiko yang harus saya hadapi." kataku.


Keberangkatan ini benar-benar dimulai dengan dilema. Namun aku sudah mengambil keputusan, aku tak akan merubahnya. Sekalipun tantangannya adalah mas Ilham. Ia terlihat tidak Ridha. Seharusnya aku memang menurutinya, tapi ada hal yang tak mas Ilham ketahui, yang aku sendiri juga tidak bisa memberitahu sebab tak ingin menjadi penyebab keretakan rumah tangganya dengan mbak Ayu. Jikapun ia harus tahu, biarlah lewat jalan lain, bukan karena aku.


***


Pesawat dengan lambang warna biru itu baru saja landing di bandara internasional Minangkabau. Aku memandang dari balik jendela. Ini kedua kalinya naik pesawat, rasanya hati masih was-was ketika terbang di udara.


Akhirnya sampai juga. Aku tersenyum senang, tak sabar segera turun. Tadi ayah sudah mengabari kalau ia sudah menunggu di depan, semnetara aku masih harus mengantri mengambil tas di bagasi.


Tas butut berwarna hitam itu akhirnya berada di tanganku. Sambil berjalan cepat, aku menuju tempat ayah yang sudah menanti bersama salah satu keponakanku.


"Yumna mana, yah? Enggak ikut?" tanyaku, sambil menoleh kiri kanan, mencari sosoknya. Tapi tak ada.


"Tidak ikut." ayah hanya menjawab pendek, sambil mengambil tasku. "Suamimu tidak ikut, Mil?"


"Kalian baik-baik saja?" tanya ayah, saat kamu berjalan ke parkiran. Untuk menjemputku, ayah sudah menyewa mobil tetangga kami agar perjalanan kami nyaman. "Kamu kan sedang hamil, harusnya tidak terbang sendiri. Kalau ada apa-apa bagaimana?"


"Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa, kan Yah? Lagian mas Ilham punya alasan syar'i. Ia tak mungkin meninggalkan mbak Ayu." kataku.


"Mila ... apa dia berlaku adil padamu dan istri pertamanya? Maksudnya ayah begini, kalian kan sebentar lagi punya anak, apakah ia memberikan hak yang sama? Lalu, sampai kapan kalian akan tinggal satu atap seperti itu?"


"Yah, mas Ilham itu orang baik. Dia pasti bisa berlaku adil. Untuk tempat tinggal, sebenarnya mas Ilham sudah menyiapkan untuk Mila. Jadi ayah tak usah khawatir." Aku mencoba menenangkan ayah.


Jarak dari bandara ke rumah rasanya semakin jauh sebab rindu pada Yumna. Sepanjang perjalanan, aku terus mengirimi Yumna pesan suara, tapi ia tak mau menjawabny. Kata ibu yang berada di samping Yumna, anak itu tak percaya kalau aku sedang di perjalanan menuju gubuk kami, ia mengira itu hanya dusta agar Yumna mau bicara denganku.

__ADS_1


Sampai di depan rumah..belum sempurna mobil berhenti, aku sudah meloncat turun saking rindunya pada Yumna.


"Yumna ... Yumna ... Yumna!" panggilku, sembari menyusuri kamar, rapi tetap tak ada


"Kamu sudah pulang, Mil?":uni Siti menyambut


ku.


"Yumna mana, Ni?" tanyaku, tak sabaran.


"Ada, tadi ke makam."


*Ngapain?"


"Katanya kangen Abinya."


"Pergi dengan siapa? Bukannya Yumna sakit?"


"Iya Mil, ada ibu ...."


Belum selesai Uni Siti bicara, aku langsung pergi menuju makam. Menunggunya di rumah hanya akan membuatku makin tersiksa menahan rindu. Cepat-cepat aku berjalan menuju pemakaman milik tanah wakaf.


Benar saja, sampai di depan pintu makam, tak jauh dari sana, ku lihat Yumna duduk di depan pusara ayahnya. Tak jauh darinya ada ibu yang duduk menunggu.


"Bi ... Na kangen Umi, tapi Umi sepertinya sudah lupa sama Na. Umi tak akan kembali lagi karena sekarang Umi sudah punya keluarga baru. Sebentar lagi Umi akan punya adik bayi, Umi akan menyayangi adik bayi lebih dari pada Umi menyayangi Na." kata gadis kecilku. Tangannya mengusap nisan ayahnya.

__ADS_1


"Siapa bilang Umi nggak sayang, Na?" kataku, sembari jalan mendekat.


"Umi?" Yumna berbalik badan, ia kaget mendapati aku di sini. Lalu Yumna melompat dalam pangkuanku. "Umi ... ini benar umi, kan? Na benar-benar kangen umi!" kami berdua melepas rindu.


__ADS_2