
Dari informasi yang aku dapatkan, Mas Ilham begini karena permasalahan yang datang bertubi-tubi. Setelah menjatuhkan talak, mas Ilham benar-benar menyesal, ia kalut, baru hendak menjemputku, Iqbal kembali membuat ulah. Ia ikut geng motor dan ikut aksi pembegalan. Ulah Iqbal yang terus-menerus seperti itu membuat kredibilitas mas Ilham yang baru memulai karirnya dipertanyakan, apalagi usahanya adalah jasa pengajaran dimana harus memberikan contoh terbaik tapi mendidik anaknya sendiri ia tak mampu.
"Ilham sudah bangkrut. Ia terlibat hutang banyak." tiba-tiba ibu memberi informasi yang pastinya membuatku terkejut.
"Allah ...." aku menyebut nama Allah. Berzikir berulangkali untuk menguatkan diri sendiri.
"Kamu bagaimana, Mil?"
"Apanya Bu?"
"Setelah semua yang terjadi, kekacauan ini, kondisi Ilham yang seperti itu dan anak-anaknya yang tak bisa diatur. Keuangan yang kacau balau bahkan dililit hutang. Apakah kamu akan tetap bertahan atau pergi? Kalau kamu pergi pun ibu gak akan menyalakan kamu karena kamu berhak mendapatkan yang lebih baik. Ini semua bukan kewajiban kamu untuk menanggung nya."
"Saya akan tetap di sisi mas Ilham, Bu. Saya akan terus membersamainya, seperti janji saya pada mbak Ayu."
"Alhamdulillah Mil, Ayu benar-benar tak salah pilih. Ia menitipkan anaknya pada orang yang tepat. Ibu bersyukur sekali."
__ADS_1
Tak mudah memang menjalani semuanya. Aku harus menggantikan mas Ilham menjadi kepala keluarga untuk seorang suami yang sedang sakit dan enam orang anak-anak. Apalagi aku tak punya banyak kemampuan untuk mencari nafkah.
"Kita akan pindah dari rumah ini." Akhirnya aku memutuskan untuk menjual rumah peninggalan mbak Ayu. Sebuah keputusan yang terpaksa aku ambil sebab kami tak punya pilihan lain. Hutang mas Ilham sudah jatuh tempo. Tagihan mbak Ayu juga harus dibayarkan tapi tak ada uang sepeser pun.
Mendengar keputusanku tentu saja membuat Iqbal berang. Ia tak terima harta ibunya aku jual makanya ia memakiku habis-habisan.
"Akhirnya kelihatan juga bagaimana aslinya kamu, perempuan tamak. Kamu menikahi ayahku hanya untuk mengambil harta kami. Setelah membuat ibuku meninggal sekarang kamu pikir kamu bisa berkuasanya makanya menjual rumah ini. Tapi aku tak akan membiarkan. Aku tak akan mengizinkan siapapun menjual rumah ini. Ngerti!" kata Iqbal.
"Bicara yang sopan, Bal." Pintaku. "Rumah ini sudah dijual. Kita hanya punya waktu satu pekan untuk mengosongkannya. Jadi tolong kerjasamanya. Jangan membuat masalah lagi karena masalah keluarga ini sudah terlalu banyak."
"Hehhhh, dengar baik-baik. Ini rumah kami, jadi tidak ada yang berhak menjual selain kamu. Ngerti! Lagipula apa ayahnya Yumna tak mampu memberimu uang hingga harus merecoki keluarga kami?"
"Kenapa? Apa ia jenis laki-laki tak bertanggung jawab yang hanya mengandalkan istrinya untuk mengeruk harta orang lain? Lalu, setelah kamu mendapatkan uangnya apa kamu akan meninggalkan keluarga kami?"
"Iqbal!" Aku benar-benar geram melihat anak ini. Akus udah teramat lelah. Tapi ia tak juga berubah. "Apa kamu tidak sadar, kamu adalah salah satu sebab kenapa rumah ini dijual. Kamu lupa berapa banyak hutang yang kamu buat karena ulah kamu, Bal. Untuk menebus kamu, melepaskan kamu dari kantor polisi, ganti rugi pada korban geng motor kamu, juga untuk biaya rumah sakit ayahmu yang juga sakitnya karena kamu. Puas!
__ADS_1
Dan satu hal lagi, tolong jangan bawa-bawa suami terdahulu saya sebab ia tak ada hubungannya dengan ini semua. Dengar baik-baik, suami saya memang bukan orang kaya seperti kalian tapi ia laki-laki yang sangat bertanggung jawab makanya saya sangat mencintainya meski kehidupan kami sangat pas-pasan. Sayangnya usianya tak panjang hingga saya harus mengalami ini semua. Ia meninggal dunia dan penyebabnya adalah ibumu, makanya ia getol menikahkan aku dengan ayahmu!" Kataku dengan emosi membara. Aku benar-benar kesal pada anak ini, ia sudah keterlaluan dan aku harus membungkam mulut dan sikapnya. Ianjafud berubah.
"A ... Apa?"
"Ibumu berhutang nyawa pada saya. Ia sudah membuat saya jadi janda dan Yumna menjadi yatim. Tapi bukannya bertanggung jawab ia malah membawa saya dalam masalah ini. Ia malah membebani saya dengan anak-anak dan suaminya. Sangat curang sekali, bukan. Dan kamu ... Kalau kamu benar-benar menyayangi ibumu harusnya kamu juga ikut bertanggung jawab. Kamu harus membuat hati kami berdua Ridha agar kami bisa memaafkan ibumu!"
Tak hanya Iqbal yang kaget, tapi juga Asad dan Hana yang kebetulan ikut mendengar pertengkaran kami berdua. Aku sebenarnya tak ingin mengatakan semua itu karena aku tak mau mental mereka jatuh, tapi aku tak punya pilihan lain. Anak itu terus menyerangku dengan kata-kata pedas. Ia tak mempercayai aku dan itu membuatku kelelahan.
"Mulai sekarang pikirkanlah baik-baik kalau mau membuat masalah. Termasuk kalau kalian mau menyakiti Yumna. Kalian berhutang banyak. Dan, kalau kalian tidak mau mengikuti aturan yang aku buat, silakan angkat kaki dari keluarga ini, kalian bisa tinggal dengan nenek Sila. Ia adalah ibu ibunya kalian, jadi ia pasti akan lebih menyayangi kalian!" Aku menegaskan.
Tak ingin membuat tiga anak itu terluka lebih dalam dengan mengetahui kenyataan, makanya ku putuskan meninggalkan mereka. Aku juga masih banyak urusan yang harus diselesaikan. Aku tak ingin membuang waktu berkelahi dengan anak kecil yang sekarang sudah menjadi anakku juga.
Langit kota Jakarta begitu mendung seperti suasana hatiku. Ada beban yang teramat berat dan entah kapan akan berubah menjadi biru. Aku menatap jauh ke depan. Sebenarnya Bu Sila sudah menawarkan bantuan, tapi untuk menghindari tuduhan-tuduhan Iqbal makanya aku menolaknya.
Saat ini aku sudah membuat keputusan.. uang hasil penjualan rumah ini selain untuk membayar biaya rumah sakit mas Ilham, membayar tagihan hutangnya dan mbak Ayu, sudah ku belikan sebuah rumah yang lebih sederhana. Rumah type 60. Menurutku sangat cukup untuk aku dan anak-anak. Sisanya akan ku pergunakan untuk modal jualan, kebetulan rumah itu berada di lokasi yang strategis, jadi sangat cocok untuk jualan kebutuhan sehari-hari.
__ADS_1
Mbok Asih akan tetap bekerja dengan kami, semnetara Farid aku berhentikan karena menurutku sudah tidak diperlukan dan untuk menghemat pengeluaran.
"Oh Tuhan, semoga semuanya bisa berjalan lancar. Aku bisa menjaga anak-anak dengan baik." kataku. Aku tengah mempersiapkan mental untuk bicara pada anak-anak bahwa mulai pekan depan mereka harus pindah sekolah ke sekolahan negeri untuk menghemat biaya pendidikan. Aku tak ingin ada keributan lagi meski sangat yakin Iqbal akan berontak sebab aku sudah berencana akan memasukkan ia ke pondok pesantren.