
Aku masih menunggu di luar, belum ada tanda-tanda mas Ilham akan datang. Ku pikir ia butuh waktu untuk berpamitan sebab ia adalah ketua yayasan yang baru saat ini. Pastilah pusat perhatian tertuju padanya. Banyak orang yang ingin berbincang dengannya. Untuk membuang jenuh, aku memutuskan keliling di lingkungan gedung yayasan, selama ini aku belum pernah melihat lingkungan ini secara keseluruhan. Hingga akhirnya aku terhenti Di depan kolam kecil dengan air mancur. Aku ingat Mbak Ayu, kami sering ngobrol di depan kolam yang ada air mancurnya yang berada di taman rumah. Melihat penataan yayasan ini sepertinya mbak Ayu punya andil sebab tatanannya tak jauh berbeda dengan rumah yang sekarang kami tempati. Apa sekarang Aku merindukannya. Mbak Ayu memang baik padaku meski sebelumnya kami sempat bertikai.
"Bu Mila," seseorang mengenakan gamis hijau muda menghampiriku. Ia tersenyum ke arahku. Dari penampilannya aku perkirakan iya lebih muda dariku. Ia memperkenalkan diri. Namanya Elisa, salah satu karyawan di yayasan ini, dibagian keuangan. "Sebenarnya saya ingin menyampaikan sesuatu kepada ibu."
"Apa Lis, katakanlah?" Aku mempersilahkannya untuk berbicara. Hitung-hitung membuang waktu saat menunggu Mas Ilham datang.
Elisa tanpak ragu-ragu, ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tubuhnya terlihat tidak nyaman, seperti takut kalau-kalau aku juga tidak nyaman dengan perkataannya.
"Ada apa Lis katakanlah?" Aku kembali mengulang menyuruhnya untuk berbicara saja. "Ada yang bisa saya bantu?"aku kembali bertanya.
"Ya mbak, eh maksud saya Bu Mila."
"Santai saja Lis, kalau kamu nyamannya manggil Mbak tidak apa-apa."
"Begitu ya mbak. Jadi Begini Mbak, sebelumnya saya ingin menjelaskan keadaan saya kepada mbak, saya adalah seorang janda, saat ini saya memiliki dua orang anak yang masih kecil-kecil. Saya mendengar desas-desus kalau ...." ia tampak ragu, tapi kembali melanjutkan pembicaraannya. "Kalau Pak Ilham ingin mencari istri lagi."
__ADS_1
"Kata siapa?" aku cukup kaget dengan perkataannya. Siapa lagi yang menyebar gosip seperti itu. Bukankah dahulu saat Mbak Ayu masih ada, Ilham sudah konfirmasi bahwa ia tidak akan menikah lagi.
"Maaf mbak jika perkataan saya menyinggung Mbak." Elisa mulai terlihat takut.
"Tidak apa-apa lis katakan saja." Aku Harus tahu semuanya.
"Banyak karyawan yang mengatakannya Mbak. Karena itulah saya mengumpulkan keberanian untuk berbicara kepada mbak. Saya ingin mengajukan diri sebagai istrinya Pak Ilham. Saya siap menjadi adik madunya Mbak Mila." Akhirnya Elisa menyampaikan juga isi hatinya.
"Tapi Mas Ilham tidak mencari istri lagi." Aku menegaskan. Rumah tangga kami sebenarnya belum siap untuk berpoligami. Masih banyak hal yang harus kami benahi. Kami tidak mau poligami yang menjadi sunnah Rasulullah, dicemooh oleh orang-orang karena oknum yang tidak siap menjalankan poligami sesuai syariat Islam.
"Mbak Mila, saya mengerti posisi Mbak Mila, apalagi setelah ditinggal Bu Ayu, pasti mbak Mila ingin memiliki Pak Ilham sendirian. Tapi, itu tidak bisa jadi alasan untuk mbak Mila menghalangi niatan pak Ilham untuk memiliki istri lagi. Saya ini seorang janda, mbak. Saya punya tanggungan dua anak yang masih kecil-kecil, saya butuh seseorang untuk mengayomi saya. Imam yang baik, yang bisa melindungi saya. Dan menurut saya orang yang tepat adalah pak Ilham.
"Astagfirullah, kamu ini bicara apa sih?" Aku mulai meradang. Enak sekali ia bicara kalau aku menahan keinginan mas Ilham. Lagi pula siapa yang berani menyebar gosip kalau mas Ilham mau menikah lagi. "Kami sebenarnya justru tak siap menjalani poligami,"
"Tapi kalian sudah berhasil menjalankannya. Kalau mbak yang belum siap, setidaknya mbak bisa belajar dari Bu Ayu atau tinggal nurut saja sama pak Ilham. Kecuali gosip yang beredar benar."
__ADS_1
"Gosip apa?"
"Kalau mbak lah yang membuat pernikahan pak Ilham dan Bu Ayu berantakan. Padahal Bu Ayu sudah berbaik hati mengangkat derajat mbak dengan menikahkan mbak dengan suaminya. Saya tahu dari mana mbak berasal, bagaimana keadaan keluarga mbak. Jadi tolong belajar berbagilah. Jangan mentang-mentang sekarang mbak naik menjadi istri pertama jadi sombong dan ingin menguasai suami sendiri."
"Dengar ya Mbak Elisa. Sebenarnya saya tak mengenal anda, begitu juga anda yang hanya tahu saya dari gosip-gosip yang tidak benar. Jika anda ingin menjadi adik madu saya, harusnya anda menunjukkan adab dan akhlak yang baik meski anda mendapatkan informasi yang buruk tentang saya. Saya memang bukan orang yang kaya dan berpendidikan, tapi saya selalu berusaha untuk menjaga sopan santun pada orang lain, apalagi jika saya punya niatan bergabung menjadi anggota keluarga orang lain, adab saya harus lebih lebih baik lagi. Tidak sembarang bersikap sesuka kita hanya karena keinginan kita tidak dikabuli. Oh ya, kalau mbak nggak percaya dan tetap bersikukuh dengan gosip yang mbak dengar bahwa suami saya mencari madu, silahkan bicara langsung dengan beliau saja. Kebetulan beliau sudah di sini." Aku menunjuk mas Ilham yang berjalan menuju arah kami.
Mendadak wajah mbak Elisa berubah pucat. Mungkin ia tak menyangka jika mas Ilham akan datang secepat ini. Atau ia belum siap bicara langsung dengan mas Ilham. Tapi apapun itu, aku ingin ia menyampaikan sendiri dan aku ingin mendengar jawaban dari mas Ilham secara langsung agar ke depan tak ada lagi gosip aneh yang beredar. Walau bagaimanapun juga, aku behak meluruskan kesalahpahaman pemikiran orang-orang tentangku. Meskipun aku hanya orang biasa, aku juga punya harga diri. Aku tak ingin diinjak-injak.
Kini mas Ilham sudah berada di depan kami. "Sayang, maaf kalau kamu menunggu lama. Tadi saya harus pamitan dulu sama orang-orang." kata mas Ilham, sembari mengusap kepalaku.
Melihat sikap mas Ilham membuat mbak Elisa salah tingkah.
"Ayo kita pulang." ajak mas Ilham.
"Sebentar mas, ada yang mau bicara dengan mas. Mbak Elisa mau menyampaikan sesuatu." Kataku.
__ADS_1
"Hah, oh, ada apa Bu Elisa?" tanya mas Ilham.
"OOO itu, tidak apa-apa, pak. Tidak jadi. Maafkan saya Bu Mila. Saya salah. Saya tadi tidak sungguh-sungguh. Maafin saya, tolong lupakan apa yang terjadi tadi. Saya mohon, Bu. Saya pamit dulu." perempuan itu segera pergi dari hadapan kami. Aku membiarkan ia berlalu meski mas Ilham kebingungan.