MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
APAKAH AKU HARUS MENYERAH?


__ADS_3

Ada apa dengan mbak Ayu? Kenapa semuanya jadi begitu rumit seperti ini? Apakah aku harus mundur? Tiba-tiba terpikirkan olehku untuk mengakhiri semua ini karena sejujurnya ini sangat berat. Harus menjalani pernikahan poligami yang cukup rumit.


Kalau saja tak ada persetujuan dari pihak istri pertama, mungkin bisa dimaklumi jika aku mendapatkan perlakuan kacau seperti ini. Tapi yang menghadirkan dan membawaku ke sini adalah mbak Ayu sendiri. Tapi kenapa ia juga yang seolah menyerang ku terus menerus, bahkan sekarang ditambah mempengaruhi anak-anaknya agar membenciku. Kalau sudah sekacau ini, apa lagi yang bisa aku lakukan. Sementara untuk keluar dari rumah ini pun tidak diizinkan.


"Mbok, saya titip Ibed dan Sabrina sebentar ya." pintaku, lalu berlalu menuju kamar.


[Sebenarnya ada apa dengan mbak Ayu?] aku sudah tak bisa menahan rasa ingin tahu. Aku tak yakin mbak Ayu baik-baik saja dengan emosinya yang sungguh labil. Meski aku bukan perempuan yang berpendidikan tinggi sepertinya, tapi naluriku mengatakan kalau ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku.


Tak berapa lama mas Ilham membalas pesanku. [Dia marah-marah lagi, ya? Saya segera pulang.]


[Mbak Ayu sudah di kamarnya,] belum selesai mengetik pesan, tiba-tiba terdengar suara mbok Asih. Sepertinya sedang berdebat dengan mbak Ayu. Aku buru-buru menyambar kerudung, keluar kamar untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Bu ... Ibu mau kemana? Kasihan Ibed, Bu." pinta mbok Asih, sambil berusaha menahan Ibed dalam gendongannya. Lagi-lagi Ibed menangis karena ditarik-tarik oleh dua orang dewasa.


"Mbak mau kemana?" tanyaku, dengan suara pelan. Berharap ia tak marah lagi.


"Lepaskan aku, jangan cegah aku. Biarin aku pergi supaya kamu puas bisa tinggal di sini dan merebut suamiku!" teriak mbak Ayu.


"Dari pada mbak yang pergi, lebih baik saya yang keluar dari rumah ibu. Mbak lebih berhak di rumah ini ketimbang saya. Lagipula kasihan anak-anak, mbak " Kataku. "Saya akan keluar sekarang, mbak nggak usah pergi ya." aku hendak menuju kamar, mengambil tas dan barang-barang milikku.


"Ka ... kamu mau kemana Mil?" tanya mbak Ayu dengan suara terbata.


"Entahlah. Mungkin ke kontrakan yang dijanjikan ibu," jawabku.


"Nggak, enggak. Kamu nggak boleh ke sana. Kamu di sini saja. Mila tolong jangan pergi. Kamu di sini saja. Aku mohon kamu jangan pergi. Di sini saja!" Sikap mbak Ayu berubah seratus persen, ia yang semula meledak-ledak langsung mengiba, bahkan hampir memohon agar aku tak pindah. Lagi-lagi sikapnya membuatku benar-benar bingung.


Saat kami berdebat tentang kepergianku, tak lama mas Ilham pulang. Ia segera membawa mbak Ayu ke kamar.

__ADS_1


"Mbok, kenapa semuanya jadi begini?" aku benar-benar lelah. Sambil menyenderkan badan pada mbok Asih yang berdiri di sebelahku. Rasanya tak sanggup menahan beban ini.


"Bu Mila sabar ya. Ibu orang baik, InshaAllah jalannya akan dimudahkan Allah." nasihat mbok Asih. "Bu Ayu juga sebenarnya bukan orang yang jahat, semoga saja nanti ada penyelesaian dalam masalah ini."


Dengan langkah terhuyung-huyung, aku kembali ke kamar. Sementara Ibed dan Sabrina ikut mbok Asih.


***


Bruk. Tiba-tiba saja sepasang tangan mungil mendorong badanku. Pelakunya adalah Hana. Aku yang tengah berdiri di depan westafel saat itu agak terdorong maju. Sebenarnya dorongannya tak menyakitkan, hanya saja aku kaget dengan apa yang dilakukan anak tersebut.


"Han, kenapa?" tanyaku. "Kenapa mendorong Tante?"


"Kenapa menjahati umiku?" ia balik bertanya. Gadis kecil berparas cantik itu tampak kesal, wajahnya sampai berlipat, mungkin menahan amarah yang begitu besar.


Duh, ada apa lagi ini? Aku mencoba bersabar meski sebenarnya juga lelah. Aku tak menyakiti siapapun. Bahkan berniatpun tidak, tapi kenapa dituduh terus? "Kata siapa Tante menjahati Umi?"


"Han, tolong jangan pernah menyebut itu lagi atau ...."


"Atau apa?"


Sepasang matanya menatapku tajam. Aku yang terpancing emosi tak bisa menahan diri lagi. "Akan Tante adukan ke Abi kamu!" kataku, tegas. Anak-anak mbak Ayu sebenarnya sangatlah baik, begitu kata mbok Asih. Aku juga yakin itu, tapi mungkin mereka tak bisa terima dengan pernikahan kedua ayahnya. Tapi aku juga tak ingin disalahkan karena lagi-lagi kukatakan bahwa bukan aku yang memaksa masuk!


"Dasar tukang ngadu!" ia mencondongkan wajahnya ke arahku. "Pelakor!"


Entah terpengaruh setan mana, ditambah gemas dan kesal, tanpa sadar aku melayangkan tangan ke pipi kirinya hingga membuatnya kaget. Sebuah tamparan kecil sebagai luapan emosi. Akupun kaget atas apa yang kulakukan tadi. Sebuah sikap refleks yang benar-benar tak ku sengaja.


"Aaaaaaaa!" Hana berteriak keras sembari memegangi pipinya.

__ADS_1


"Non Hana kenapa?" mbok Asih muncul. Ia membawa semangkuk bubur yang tadi akan diberikan pada mbak Ayu.


"Mbok, mbok harus jadi saksi. Ibu tiri ini memukul Hana!" tegas Hana. "Dia jahat mbok, jahat. Dia sudah ngambil Abi dari kami, sekarang mukul Hana. Nanti pasti kami bakalan diusir dari rumah ini seperti di sinetron." Hana menggugu.


Aku menggelengkan kepala. Bukan mengelak atas apa yang kulakukan, tapi untuk menjelaskan bahwa aku tak bermaksud melakukan semua itu. Aku benar-benar terpancing emosi hingga tak sadar melakukannya. Lagipula itu hanya sebuah tamparan kecil yang menurutku juga tak bisa dikatakan sebuah tamparan. Dan untuk mengusir mereka dari rumah ini, jelas-jelas itu tak mungkin. Hana terlalu jauh berpikir. Aku tak akan Setega itu padanya ataupun mbak Ayu. Aku bukan orang jahat seperti yang ada di pikirannya.


"Jahat ... jahat ... jahat. Hana akan bilang Abi. Dasar ibu tiri pelakor!" teriak Hana lagi.


"Non Hana," mbok Asih mencoba menenangkan majikan kecilnya, tapi gadis kecil itu terus memberontak, lalu ia berlari menuju kamarnya.


"Mbok," kataku, penuh penyesalan. "Saya nggak bermaksud menyakiti Hana, saya ...."


"Ya Bu,"


"Dia mengatakan saya pelakor, untuk kedua kalinya, makanya saya kaget. Anak itu ...."


"Bu Mila harus sabar, jangan di dengarkan meski sakit. Mbok paham kalau ibu Mila bukan orang yang akan tega menyakiti anak, meski itu bukan anak kandung Bu Mila."


"Duh Bi, saya harus bagaimana? Belum selesai satu masalah sudah timbul masalah lain." aku memeluk erat mbok Asih. Rasanya makin berat. Aku yakin nanti Hana akan mengadukan semuanya pada ayahnya. Entah apa tanggapan mas Ilham.


"Nanti ibu jelaskan saja pada pak Ilham. Saya yakin, bapak akan mengerti."


"Kenapa semuanya jadi begitu berat ya mbok? Apakah sebaiknya saya pergi saja, mengakhiri semua ini?"


"Jangan Bu, kasihan pak Ilham. Mereka butuh ibu."


"Sebenarnya ada apa dengan mbak Ayu, Mbok?"

__ADS_1


Mbok Asih memilih menutup mulut dengan alasan ia tak tahu apa-apa. Meski sebenarnya aku tahu mbok Asih takut salah bicara.


__ADS_2