MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
RAHASIA MBAK AYU


__ADS_3

Sampai di rumah sakit, aku meminta Farid untuk mengurus semua urusan administrasi, termasuk menanda tangani surat pernyataan untuk observasi sebab aku sendiri selain tak punya uang juga tak paham bagaimana mengurus masalah administrasi mbak Ayu.


Untungnya Farid sangat cekatan. Ia cepat mengurus semuanya, smenetara aku menemani mbak Ayu yang tengah mendapatkan tindakan dari dokter.


"Sudah berapa lama Bu Ayu minum obat depresi?" tanya seorang dokter sambil menyembutkan merek obat dosis tinggi untuk pasien yang mengalami depresi padaku.


"Saya kurang tahu, dok. Saya baru datang dari kampung." jawabku.


Dokter menjelaskan padaku tentang kondisi mbak Ayu saat ini. Ada banyak istilah-istilah kedokteran yang tak bisa ku pahami. Aku hanya bisa menyimpulkan kalau mbak Ayu mengalami depresi berat.


"Bu Ayu mengalami gangguan kesehatan mental. Bahkan sudah meminum obat dengan dosis tinggi yang diperkirakan sudah hampir tiga tahunan. Efek dari gangguan mental tersebut yang membuat suasana hatinya berubah-ubah menjadi buruk. Pasien terlalu keras menilai dirinya sendiri, sehingga ketika tidak bisa mewujudkan apa yang ia inginkan maka pasien harus meminum obat dengan dosis terlalu tinggi untuk bisa menenangkan diri sendiri. Untuk memastikan semuanya, setelah Bu Ayu sadar, kita akan melakukan beberapa tes lab dan pemeriksaan mental." jelas dokter.


Depresi berat? Kini, sedikit demi sedikit tabir yang menjadi rahasia perubahan sikap mbak Ayu akhirnya terjawab juga. Meski belum sepenuhnya tahu, tapi sudah bisa jadi gambaran untukku kenapa mbak Ayu berubah drastis.


Separah itukah sakit depresi?


Sejujurnya aku belum paham dengan penyakit yang dialami oleh mbak Ayu. Tapi penjelasan dokter cukup memberi gambaran. Ditambah hasil searching di internet. Aku yang semula agak kesal padanya kini mulai merasa iba. Tapi ada banyak tanda tanya juga yang muncul. Kalau aku yang membuatnya jadi depresi, kenapa dokter memperkirakan mbak Ayu sudah mengidap penyakit mental ini sejak beberapa tahu lalu, padahal aku baru masuk ke kehidupan mereka beberapa waktu ini, belum genap satu bulan.


***


Mas Ilham. Ia adalah orang terdekat dengan mbak Ayu, mustahil tak tahu semuanya. Saat ia berada di hadapanku, aku tak bisa menahan diri untuk tidak mempertanyakan semua. Aku tak terlalu peduli dengan privasi mereka lagi. Aku sudah terlanjur masuk dalam masalah ini.


"Sebenarnya ada apa dengan mbak Ayu?" tanyaku. "Dokter sudah menjelaskan semuanya. Sekarang giliran mas yang menjelaskan." kataku.

__ADS_1


"Apa Mil?" mas Ilham masih bersikap tenang. Tampak ia begitu lelah usai melakukan perjalanan.


"Depresi berat. Mbak Ayu mengalaminya. Bisa mas jelaskan sama saya? Dokter bilang penyakitnya sudah beberapa tahun."


"Baiklah. Iya, Ayu mengalami depresi. Sudah hampir tiga tahunan ia mengkonsumsi obat depresi meski kadang-kadang tetap saja kambuh."


"Tapi kenapa?"


"Saya juga tidak tahu, Mil."


"Mustahil mas nggak tahu. Mbak Ayu itu istrinya mas. Apa mbak Ayu depresi karena keinginan mas untuk menikah lagi?"


"Astaghfirullah, bukan saya yang ingin menikah lagi, Mil. Justru pernikahan kedua itu muncul dari Ayu. Bukan dari saya. Kalau kamu tidak percaya, tanya pada ibu atau Tante Sila."


"Mil, kamu nggak paham. Hampir tiap hari ia mengingatkan saya agar mau menikah lagi hingga saya benar-benar lelah. Kalau tidak dituruti, bisa-bisa saya yang stres!"


"Kalau sudah begini, kita harus bagaimana?"


***


Hari kedua dirawat di rumah sakit, mbak Ayu menyampaikan pesan pada mas Ilham untuk membawaku ke rumah sakit. Ia ingin berbicara padaku. Sampai di rumah sakit, mas Ilham meninggalkan kami berdua sesuai permintaan mbak Ayu.


"Kamu sudah tahu semuanya." mbak Ayu membuka suara. "Terimakasih sudah membawkau ke rumah sakit." ungkapnya.

__ADS_1


"Kenapa mbak harus minum obat sebanyak itu? Apa mbak nggak tahu bagaimana bahayanya? Kalau terjadi apa-apa dengan mbak, bagaimana dengan anak-anak? Mbak nggak kasihan sama mereka? Anak-anak masih kecil-kecil, mereka butuh mbak!" kataku, menegaskan tentang berita baru yang baru ku ketahui bahwa ternyata beberapa saat sebelum aku mengantarkan bubur ke kamar mbak Ayu, ia menelan obat cukup banyak.


"Aku sedang tidak baik-baik saja, Mil."


"Tapi kenapa, mbak? Bukankah mbak sudah punya segalanya."


"Aku tertekan jadi istri mas Ilham, Mil."


"Maksudnya, mbak?"


"Nggak mudah Mil, nggak mudah jadi istri seorang Ilham Muhammad." cerita mulai meluncur dari bibir mbak Ayu.


Sejak SMA, mbak Ayu sudah mengenal mas Ilham. Mereka satu sekolahan, beda angkatan. Mbak Ayu adik kelas mas Ilham. Dahulu, mbak Ayu yang terlahir dari keluarga broken home pernah ditolong oleh mas Ilham hingga ia benar-benar terobsesi dengan mas Ilham. Mbak Ayu menganggap hanya mas Ilham yang bisa membuatnya bahagia.


Saat kelulusan, mbak Ayu terus mencari tahu keberadaan mas Ilham. Ia mengikuti dimana mas Ilham kuliah. Usaha mbak Ayu untuk menarik perhatian mas Ilham akhirnya terkabul ketika mas Ilham melamar mbak Ayu.


Obsesi yang terlalu tinggi pada mas Ilham, membuat mbak Ayu ingin menjadi sumber kebahagiaan mas Ilham. Segala hal ia lakukan untuk bisa mewujudkan apapun yang mas Ilham inginkan. Mulai dari memiliki anak banyak, kehidupan berkecukupan.Termasuk menjadi kepala yayasan, sebuah mimpi besar mas Ilham. Meski sebenarnya mas Ilham tak menginginkan semua itu.


Seiring berjalan waktu, suatu waktu, mbak Ayu mendengar sendiri celoteh teman-temannya tentang poligami. Mereka mencandai mbak Ayu, namun ditanggapi serius. Mbak Ayu khawatir kalau mas Ilham memiliki keinginan untuk punya istri lagi, mengingat ia berada di lingkungan orang-orang salih yang menganggap syariat poligami itu biasa dilakukan dan mereka memang banyak yang mempraktekkan.


Awalnya mbak Ayu ketakutan jika harus kehilangan suaminya. Makanya akhirnya ia berinisiatif mencarikan perempuan yang mau menikah dengan suaminya, namun mau diatur olehnya.. tentulah perempuan yang kedudukannya berada di bawah mbak Ayu. Makanya pilihan dijatuhkan padaku, sebab ia menilai aku berada di bawahnya dalam segala hal.


Aku hanya bisa bengong mendengar cerita yang dituturkan mbak Ayu..ternyata ada perempuan yang begitu terobsesi pada pasangannya hingga membuatnya menderita sendiri. Demi membahagiakan mas Ilham, ia rela menderita sendiri. Padahal sebenarnya mas Ilham tak menuntut apapun. Mbak Ayu yang membuat ekspektasi tinggi untuk suaminya, hingga ia berlaku keras pada dirinya sendiri. Ia memaksakan apapun untuk membuat mas Ilham bahagia. Padahal sebenarnya mas Ilham sudah sangat Bahagia dengan kehidupan mereka yang semuanya bisa dikatakan sudah ada.

__ADS_1


__ADS_2