
Tawa ibu diujung telepon pecah saat ku ceritakan tentang kejadian yang membuat aku dan mas Ilham berdamai. Ibu menganggap akulah orang yang tak akan bisa dibantah oleh putranya karena ia sudah benar-benar cinta mati dan tak akan pernah mau kehilanganku.
Sebenarnya aku sangat senang mendengarnya. Istri mana yang tak bahagia dicintai oleh suaminya. Tapi aku juga harus ingat posisiku tak hanya jadi satu-satunya istri mas Ilham, masih ada mbak Ayu juga. Jadi aku harus tetap menjaga sikap, tidak boleh bertindak sesuka hatiku, apalagi sampai membuat mas Ilham kembali marah seperti sebelumnya. Rasanya cukup lelah didiamkan.
[Andai saja kamu meminta pada Ilham untuk jadi satu-satunya istrinya, pasti Ilham akan mengabulkan. Ia akan melepaskan Ayu dan menjadikan kamu satu-satunya istrinya.] kata ibu.
[Astagfirullah, ibu ini bicara apa? Saya nggak akan pernah melakukan itu sebab dosanya sangat besar membuat suami istri berpisah. Lagipula saya juga harus tahu diri, Bu. Mbak Ayu adalah orang yang berjasa mempertemukan saya dan mas Ilham, ia juga yang mengizinkan mas Ilham untuk menikahi saya. Mereka juga sudah punya anak-anak, saya tak akan mungkin menghancurkan semua itu. Kebahagiaan anak-anak juga bagian dari kebahagiaan saya.] kataku.
[Iya iya. Ibu tahu Mila. Ibu juga tidak sungguh-sungguh bicara seperti itu. Ibu yakin kamu tak akan pernah punya niat buruk pada Ayu dan anak-anaknya. Itulah kenapa ibu begitu menyayangimu dan bersyukur punya menantu seperti kamu, Mila. Sulit menemukan perempuan dengan hati yang bersih seperti kamu. Ayu beruntung punya madu seperti kamu.]
[Jadi tadi ibu menguji saya?]
[Hehehe, enggak begitu juga maksudnya ibu, Mil.]
Kami berdua masih asyik berbincang lewat telepon ketika mbak Ayu mengetuk pintu kamarku. Aku pun memutuskan panggilan telepon sebab harus menghampiri mbak Ayu.
"Kok lama sekali? Lagi nelepon siapa, sepertinya asyik sekali?" tanya mbak Ayu, saat pintu terbuka.
"Ibu, mbak." jawbaku.
"Ibu? Ibunya mas Ilham?"
"Iya,"
"Oh, ibu menelepon kamu?"
"Hah, oh ya mbak. Ibu cuma memastikan apakah saya sudah sampai atau belum."
Raut wajah mbak Ayu berubah saat tahu bahwa yang menelepon adalah ibu mertua kami. Ia tersenyum miris, sehingga membuatku jadi tak enak hati.
__ADS_1
"Oh ya, ada apa mbak?" tanyaku, bermaksud hendak mengalihkan perhatiannya agar mbak Ayu tak lagi sedih. Harusnya aku menjaga perasaannya, tidak membiarkan iabyahu tentang kedekatan aku dan ibu sebab bagaimanapun juga ini bisa jadi penyebab kecemburuan mbak Ayu dan tentunya jadi sumber masalah untukku.
"Ada tamu yang ingin aku kenalkan pada kamu, Mil." mbak Ayu menunjuk ruang tamu.
"Siapa, mbak?"
Mbak Ayu mengajakku ke ruang tamu. Di sana sudah menunggu seorang perempuan yang usianya mungkin lebih tua beberapa tahun dariku. Seorang perempuan yang mengenakan kerudung panjang berwarna hitam. Wajahnya sangat teduh, dengan senyum yang menawan sehingga membuatku bertanya-tanya, siapakah ia gerangan?
"Ini Mila, istri kedua mas Ilham." kata mbak Ayu pada perempuan itu. "Nah Mil, kalau ini Sita, ia temanku satu angkatan, dia ini baru pulang dari luar negeri setelah menyelesaikan pendidikan S3nya. bukan begitu kan, Sita?" tanya mbak Ayu padanya.
"Hehehe, iya Yu." mbak Sita menjawab pendek.
Tiga puluh menit kami berbincang bersama, lebih tepatnya aku yang menemani mbak Ayu dan mbak Sinta berbincang-bincang karena aku tak mengerti apa saja yang mereka bicarakan sebab kebanyakan menggunakan bahasa Inggris yang tidak aku mengerti. Setelah mbak Sita pamit pulang, barulah mbak Ayu menjelaskan maksud kedatangan mbak Sita.
"Kalau menurut kamu bagaimana dengan Sita, Mil?" Tanya mbak Ayu.
"Ya semuanya?"
"Sepertinya orangnya baik, cantik dan yang pasti pintar karena bisa sekolah sampai selesai S3."
"Ya, itu pasti. Sita itu dari dulu terkenal cerrdas. Ia selalu menjadi bintang di sekolah hingga bangku kuliah. Sita bahkan selalu mendapatkan bea siswa dan menjadi mahasiswi undangan di beberapa perguruan tinggi ternama di dalam maupun luar negeri. Dulu, banyak sekali pria-pria yang mengidolakan Sita, salah satunya ya mas Ilham."
"Oh,"
"Wajar saja kan mas Ilham mengaguminya, semua kelebihan itu ada pada Sita. Termasuk kekayaan. Selain punya karir bagus, Sita juga berasal dari keluarga kaya raya. Ia itu anak tunggal pemilik hotel di puncak. Itu, hotel tempat kami dan mas Ilham menginap, itu adalah salah satu milik ayahnya. Mas Ilham suka ke situ karena ia mengabggumi Sita."
"Tapi yang memilihkan hotel adalah ibu, mbak "
"Ya, ibu. Benar sekali. Kamu mengingatkan aku kalau ibu adalah orang yang dulu paling berharap kalau Sita bisa jadi menantunya. Kamu tahu tidak, sampai menjelang hari pernikahan kami saja ibu masih menyebut-nyebut Sita."
__ADS_1
Mbak Ayu tersenyum miris. Sepertinya ia mengingat kembali cerita yang barusan disebutnya. Sementara aku tak habis pikir, jika mbak Sita kala itu dianggap sebagai rivalnya, hingga membuatnya sakit, kenapa juga harus menyebutnya di hadapanku, bahkan sampai mengizinkan mbak Sita datang ke rumahnya.
"Mila ... kira-kira bagaimana menurut kamu kalau mas Ilham kembali bertemu dengan Sita?" tanya mbak Ayu, sambil melihatku, tajam.
"Bertemu untuk apa, mbak?" aku balik bertanya.
"Aku akan mengundang Sita makan malam bersama keluarga kita. Kebetulan mereka sudah lama tidak bertemu, sejak Sita berangkat ke Australia saat lulus sarjana."
"Kenapa juga harus dipertemukan?"
"Oh ya, aku lupa memberitahu kamu bahwa aku berharap mas Ilham menikah lagi."
"Apa?"
"Ya Mila. Aku ingin mas Ilham punya istri lagi. Istri ketiga. Bagaimana menurut kamu? Bukankah mas Ilham boleh punya istri lagi."
"Ya, memang boleh mbak. Sampai empat juga boleh." jawbaku, sambil memijit pelan keningku yang mendadak berdenyut tak karuan usai mbak ayu menyampaikan tentang rencana menikah lagi.
Aku tahu mas Ilham berhak untuk menikah lagi. Tapi kenapa harus menikah lagi? Toh mas Ilham juga sudah menyatakan tak ingin menambah istri lagi sebab dua istri saja sudah membuatnya pusing.
"Ya sudah, kalau begitu kamu bantu aku untuk mempersiapkan semuanya. Kapan perlu kita undang ibu,"
"Apa mas Ilham sudah setuju untuk menambah istri?"
"Mas Ilham belum pernah membicarakannya."
"Mbak, menikah lagi itu bukan perkara mudah. Untuk mendidik kita berdua saja mas Ilham belum maksimal, lalu apakah harus nambah lagi? Kenapa nggak kita bertiga sama-sama belajar dulu agar sama-sama siap sebelum ada istri baru lagi." kataku, menjelaskan tentang kondisi pernikahan kami yang sebenarnya masih banyak cacatnya.
Tapi bukannya menerima, mbak Ayu malah marah, ia menganggap aku takut mendapatkan saingan sebab yakin mbak Sita akan mengalahkan aku sebab sejak dulu mas Ilham sudah mengangumi mbak Sita.
__ADS_1