
Aku menggeliat dari balik selimut, beberapa kali menguap hingga tersadar kalau sudah pukul tujuh malam. Terlihat dari jam di dinding kamar. Di sebelahku, mas Ilham masih terlelap. Sepertinya ia benar-benar lelah. Perlahan aku bangkit dari tempat tidur, berusaha agar tak ada suara yang timbul, supaya mas Ilham tak ikut terbangun. Sebenarnya aku agak kesal, kenapa harus ikut tertidur, padahal tadinya, setelah semua usai dan mas Ilham tidur, aku ingin menjalankan sebuah misi. Rencana besar yang aku harap berhasil.
Sebelum membersihkan diri, aku sempat menyingkap sedikit tirai jendela kamar apartemen. Tampak langit ibu kota yang berwarna gelap kini diterangi oleh lampu-lampu dari bangunan pencakar langit. Di bawah, dari jalanan masih terlihat padatnya kendaraan lalu-lalang. Sepertinya Jakarta memang tak ada matinya. Dari pagi hingga malam, penuh dengan orang-orang yang selalu saja beraktivitas.
"Apa mereka tak lelah hidup seperti itu?" Aku berpikir dalam hati.
Selesai mandi dan merapikan semuanya, aku segera menghubungi mbok Asih, meminta bantuannya menyuruh Farid menjemputku sebab aku belum hafal jalan pulang. Selain itu aku juga tidak menyimpan nomor Farid. Aku juga sengaja minta bantuan mbok Asih agar nantinya tidak ada lagi kesalah pahaman.
Menurutku jalanan kota Jakarta sangatlah rumit. Sulit sekali mengingatnya, apalagi ada banyak bangunan tinggi yang seolah menjadi pagar jalanan panjang tersebut.
Setelah memberikan aba-aba pada Farid menjemputku dimana, berikutnya aku menghubungi mbak Ayu. tentu saja melalui Hp mas Ilham. Sebelum melakukan ini, aku sampai meminta maaf sambil berbisik beberapa kali pada pemilik gadget ini atas kelancangan yang aku lakukan hari ini. Tapi aku berdalih bahwa niatku baik, ini adalah sebuah usaha untuk menyatukan mereka kembali dan ku harap usahaku berhasil.
[Tentu saja mas, aku akan segera datang ke saja dengan semua yang mas minta. Akupun sudah sangat merindukan mas.] Balasan dari mbak Ayu, diikuti emoticon hati..Tampak betul bagaimana bahagianya mbak Ayu mendapatkan pesan, meski fiktif dari suaminya.
Usai mendapatkan jawaban dari mbak Ayu. Aku buru-buru keluar dari kamar apartemen..tentu saja setelah memastikan semua jejakku tak ada lagi di kamar itu. Setelah itu aku masih harus menunggu mbak Ayu datang dari loby, di tempat yang tersembunyi. Lagi-lagi agar aksiku tidak ketahuan.
Satu jam menunggu, akhirnya mbak Ayu muncul juga. Ia memakai gamis merah tua, sesuai dengan apa yang di request oleh mas Ilham palsu, alias aku. Setelah yakin mbak Ayu masuk ke kamar mas Ilham sambil menunggu beberapa menit, barulah aku meninggalkan bangunan apartemen tersebut. Selama aku menunggu, mbak Ayu tak kembali keluar, berarti mas Ilham menerima kehadirannya.
Meskipun aku juga istrinya mas Ilham, ku harap malam ini jadi malam perdamaian antara suami dan maduku tersebut. Semoga ini jadi awal yang baik untuk memunculkan kembali benih cinta antara mereka berdua. Setidaknya mereka melakukannya demi anak-anak.
Farid menunggu di parkiran. Di tempat yang agak tersembunyi seperti yang aku pinta. Begitu aku menghampiri, ia langsung mengangguk, lalu memberitahu aku bahwa tadi melihat mbak Ayu di sini.
"Mbak Mila tadi ketemu Bu Ayu, nggak? Mbak Mila tahu kan kalau tadi ada Bu Ayu juga di sini
__ADS_1
?" Tanya Farid.
"Ya, saya tahu mbak Ayu di sini," jawbaku, singkat.
Mungkin ada banyak pertanyaan di benak supir tersebut, tapi karena menyadari itu bukan urusannya, akhirnya ia tak berani bertanya apapun lagi..fokus melajukan mobil menuju rumah.
***
"Hatimu benar-benar luar biasa, Mil." puji ibu, sembari menatapku dalam-dalam. "Apa yang kamu harapkan dari semua ini, setelah apa yang Ayu lakukan padamu?" ibu Ternyata sudah tahu semua rencana yang aku jalankan untuk menyatukan kembali mbak Ayu dan mas Ilham.
"Berharap agar mereka bersatu. Memang menjalani poligami tidaklah mudah, tapi kami sudah terlanjur memulainya, jadi harus terus dijalani hingga akhir nantinya." kataku
"Bagaimana kalau Ayu tetap tak berubah? Kamu kan belum tahu bagaimana ia?"
"Bu ... kenapa kita tidak berpikiran bahwa mbak Ayu sudah berubah?"
"Ibu bicara seperti itu lagi. Kan sudah saya katakan, kalau mbak Ayu dengar ibu bicara seperti itu, hatinya pasti sakit sekali. Lagipula apa ibu enggak kasihan sama cucu-cucu ibu?"
"Ngomongin soal cucu, kapan kamu akan memberi ibu cucu?"
Mendadak pipiku merona saat ibu mempertanyakan tentang cucu. Teringat bagaimana nyanyian cinta yang sempat kami lakukan. Ahh, entah kapan aku bisa memiliki keturunan mas Ilham jika bertemu saja hanya dua kali. Tapi aku tak mau ambil pusing, toh ibu hanya mempertanyakan, bukan menuntut sebab saat ini saja ibu sudah punya lima orang cucu dari mbak Ayu. Rasanya sudah cukup.
"Mila, kalau kamu merasa pernikahan ini tak adil, kamu boleh menuntut Ilham agar berlaku adil. Kamu berhak mendapatkan jatah waktu yang sama seperti Ayu dan istri pertamanya tak berhak untuk melarang, apalagi pernikahan ini atas keinginan dirinya." ujar ibu.
__ADS_1
Adil? Sejujurnya memang poligami yang kami jalani masih banyak kurangnya. Untuk jatah bermalam saja masih tidak ada aturan yang jelas mengingat setiap malam adalah milik mbak Ayu, ia selalu menahan mas Ilham. Tapi untuk saat ini aku masih bersabar menunggu, aku tak akan menuntut apapun hingga kondisi kami baik, terutama mbak Ayu.
"Ayu beruntung sekali sebenarnya punya madu seperti kamu " Imbuh ibu.
"Saya pun begitu Bu," kataku .
"Kenapa?"
"Kalau mbak Ayu nggak memilih saya sebagai adik madunya, mungkin saya nggak akan jadi istri mas Ilham dan nggak akan jadi menantu ibu."
"Hehehehe, kamu ini," ibu membelai Pelan Kepalaku.
***
Sudah dua hari mbak Ayu dan mas Ilham bermalam di apartemen. Selama itu, anak-anak aku dan ibu yang handle. Sebenarnya lebih banyak ibu sebab anak-anak, terutama yang besar-besar belum mau berdekatan denganku.
Hanya Ibed dan Sabrina yang mau ku pegang, selebihnya sikapnya masih sama. Menokakku mentah-mentah hingga nenek mereka harus mengingatkan berulang kali bahwa aku adalah ibu mereka juga.
"Sikap kalian yang seperti itu membuat nenek kecewa. Asal kalian tahu, yang meminta Umi Mila ke sini itu ibu kalian, bukan siapa-siapa. Kalau kalian menolak umi Mila, sama saja kalian tidak patuh pada ibu kalian!" tegas ibu.
"Masa begitu, nek?" tanya Hana, sambil melirikku.
"Apa nenekmu ini pernah berbohong pada kalian?" Tanya ibu sambil memandang wajah cucunya satu-persatu.
__ADS_1
"Tapi Umi bilang ...." Hana tampak ragu.
"Siapa yang pernah membohongi kalian? Nenek atau umi kalian?" tanya ibu lagi.