
Adu mulut antara Uni Dewi dan pegawai salon itu masih berlanjut sehingga mengundang rasa penasaran oeang-orang yang kebetulan juga sudah mulai ramai di gubuk kami untuk membantu persiapan akad besok. Untungnya kami berada di dalam kamar sehingga tak ada yang berani menerobos masuk untuk menonton kecuali keluargaku.
"Sudahlah Mil, mengaku saja. Karena tergiur harta makanya kamu mau kan jadi istri kedua. Kamu nggak kasihan apa sama istrinya, Mil? Kamu itu punya anak perempuan lho, apa nggak takut anakmu kena karma akibat perbuatan ibunya yang merebut suami orang. Nanti setelah anakmu dewasa? Pakai hati nurani kamu, Mil. Jangan ngikutin nafsu saja, nyari jalan pintas biar cepat kaya!" ungkap pegawai salon tersebut.
"Ya Allah ... sudah dibilang, Mila nggak merebut suami orang!" Uni Dewi tak kalah garang membelaku.
"Heh Wi, kenapa sih kamu mati-matian membela Mila? Dapat apa kamu darinya? Kamu itu seorang istri, punya anak perempuan juga. Apa kamu ngga takut kena karma? Oh aku tahu, si Mila sudah memberikan kamu imbalan uang supaya mendukung dia, kan? Ya ampun Wi Wi. Meski miskin harusnya kamu punya harga diri. Bahkan sampai ngarang cerita istrinya ridho? Ngimpi kalian. Jaman sekarang mana ada istri yang mau berbagi suami. Kamu sendiri juga nggak mau kan Wi?"
"Saya nggak mau karena saya dan suami belum mampu, Ni. Lagian kata siapa nggak ada perempuan saliha yang mau berbagi suami dengan perempuan lain? Makanya Uni rajin ikut taklim. Jangan ngumpul sama tukang gosip saja sehingga pikirannya penuh prasangka buruk ke orang lain. Banyak kok perempuan baik seperti itu karena mereka sudah mampu. Ngerti nggak Uni!"
"Halah, tukang bohong. Kalian itu percuma rajin ke mushalla, berpakaian tertutup. Ternyata tulang rebut suami orang. Semoga saja segera dapat karma!"
"Eh Uni, nggak sopan sekali nyumpah-nyumpahin kami. Uni tahu nggak kami ini siapa? Kami pelanggan ini. Kalau saya kasih tahu pemilik salonnya, Uni bisa dapat masalah. Mau?"
"Kamu kita aku takut? Enggak sama sekali. Aku juga nggak Sudi punya pelanggan perempuan perebut suami orang. Asal kamu tahu, suamiku juga direbut oleh perempuan gatal seperti si Mila ini. Jadi aku sudah bersumpah bakalan melawan siapapun perempuan yang berani merebut suami orang."
"Oh jadi Uni ini korban pelakor? Ya ampun Ni, jangan pukul rata semua masalah dong dengan kasus yang menimpa Uni. Mila berbeda dengan perempuan yang sudah merusak rumah tangga Uni. Bahkan Mila sempai mengabaikan lamaran itu. Saya yang membujuk Mila agar mau menerimanya sebab saya tahu bahwa pasangan suami istri ini orang baik dan Mila InsyaAllah akan bahagia menjadi bagian dari keluarga mereka. Nggak akan ada yang tersakiti seperti Ini. Jadi nggak perlu marah-marah apalagi nuduh dan nyumpah-nyumpahin kami seperti itu."
__ADS_1
"Oh jadi kamu biang keroknya, Wi? Kamu yang sudah menjadi jalan untuk Mila menjadi pelakor?"
"Pelakor lagi pelakor lagi. Tolong bicara yang baik atau lebih baik Uni pulang saja. Kamu nggak butuh jasa Uni di sini. Masih banyak salon lain yang lebih baik."
"Kamu kira aku suka bekerja sama dengan kalian. Enggak. Najis!"
Uni Dewi sudah tidak bisa menahan emosinya. Ia mengusir pegawai salon tersebut. Sementara aku sendiri hanya bisa diam mematung di pojok kamar usai mendengarkan semua caci maki yang ditujukan padaku.
Ya Allah ... kenapa semuanya jadi begini? Aku tak punya niat jahat. Aku menikah dengan tujuan membantu perekonomian keluarga. Apakah itu salah?
Perlahan buliran bening itu keluar dari netraku. Sementara badanku masih gemetaran. Ini pertama kalinya mendapatkan cacian secar langsung dan rasanya benar-benar menyakitkan.
"Ayah sama ibu mendengar apa yang dikatakan Uni tadi?" tanyaku, pelan.
"Iya. Mereka menunggu di depan pintu kamar. Cuma mungkin segan masuk ke kamar karena kamu sedang melakukan perawatan."
Ya Allah. Entah bagaimana perasaan kedua orang tuaku saat ini. Aku saja sakit mendengar hinaan itu, apalagi mereka yang sudah melahirkan dan membesarkan aku.
__ADS_1
"Ayah dan ibumu kan tahu Mil apa yang sebenarnya terjadi. Kamu nggak merebut siapapun. Mereka juga mendengar sendiri apa yang dikatakan mbak Ayu, jadi nggak usah khawatir. Maklumi saja. Uni yang tadi itu mungkin masih belum berdamai dengan dirinya sendiri atas masalah yang menimpanya. Makanya ia nggak bisa membedakan masalah dia dan orang lain. Dijelaskan juga tetap nggak terima. Ya sudahlah."
Belum menikah saja rasanya sudah berat. Hari ini masih ada Uni Dewi yang membelaku habis-habisan. Masih ada gubuk kami untuk tempat bersembunyi dari celaan orang-orang. Juga ayah dan ibu yang akan menampung tangidku. Tapi bagaimana setelah menikah nanti? Tak akan ada Uni Dewi, ayah, ibu, ini Siti. Lalu apakah aku akan kuat sementara nanti aku akan jauh dari keluarga.
Ya Allah Mila, kenapa kamu malah mencari masalah yang kamu sendiri tak yakin bisa menghadapinya!
"Masih belum terlambat untuk membatalkan semuanya, Mil. Toh belum akad ini. Uni benar-benar nggak yakin, Mil." ucap Ini Siti, saat aku sendiri di kamar. "Tadi Ayah dan ibu terlihat hancur mendengar kata-kata tukang salon itu. Belum lagi kata tetangga dan yang lainnya. Duh, benar-benar mengiris hati, Mil. Sudahi sajalah."
"Tapi Ni," aku tak tahu bagaimana mengatakannya. Kalau dibatalkan, apakah orang-orang bisa melupakan semua ini? Cap sebagai pelakor sudah tersemat padaku. Sementara sudah banyak dana yang digelontorkan Mbak Ayu dan keluarganya. Bisa-bisa ia pun murka padaku. Ini benar-benar seperti memakan buah simalakama. Kemanapun selalu salah.
"Lagian kamu nggak merasa aneh dengan si Dewi? Dia terlihat ngotot sekali agar kamu segera menikah." ucap Uni Siti.
"Astagfirullah, jangan berprasangka buruk Ni. Setelah bang Hasan meninggal, kan uni Dewi sering menjadi perantara aku untuk mendapatkan jodoh pengganti."
"Tapi caranya itu terlalu memaksakan. Bisa saja kan ada udang di balik batu. Entah apa tujuannya, uni berdoa agar nasib baik selalu menyertai kamu. Cepat atau lambat yang jelek akan terungkap juga!"
Prasangka yang dihadirkan Uni Siti membuatku semakin bimbang. Bukan karena aku mencurigai hal buruk oleh Uni Dewi. Aku tahu ia orang baik dan suka menolong ku. Hanya saja aku tak bisa membohongi diri sendiri kalau akupun terpikir dengan kata-kata kakak ipar ku. Apakah benar ada sesuatu?
__ADS_1
Astagfirullah astagfirullah. Aku menggelengkan kepala kuat-kuat agar hal buruk itu segera pergi. Uni Dewi orang baik, tak mungkin punya niat jahat padaku. Toh ia hanya menjadi perantara perjodohan seseorang. Bukankah syariat membolehkan bahka