MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
PERTENGKARAN PERTAMA


__ADS_3

"Sudah puas marah-marahnya?" Mas Ilham kembali bicara setelah aku diam. "Dengarkan. Mila ... kamu salah paham. Saya tidak bermaksud melarang kamu menangis. Saya juga tidak mengejek kamu. Saya paham bagaimana perasaan kamu sekarang. Pasti berat berpisah dengan putri kamu, Yumna. Begitu juga dengannya. Saya justru kaget karena kamu tidak membawanya. Saya kira kita akan pergi bersama. Jadi jangan salah paham. Kalau kamu tersinggung, saya minta maaf." ia menatapku. "Oh ya, satu lagi. Kapanpun kamu mau menjemput atau bertemu dengan Yumna, kamu bisa katakan pada saya atau Ayu. Kami akan mengantarkan kamu atau membawakan Yumna untukmu."


"Benarkah?" tanyaku.


"InsyaAllah." ia menjawab yakin.


"Kalau begitu, bulan depan atau pekan depan bisakah kalian jemput Yumna untuk saya?"


"Tentu saja!"


"Bener? Janji?"


"Hmm. Iya Mila."


Semoga ... semoga ia benar-benar menepati janjinya. Benar-benar akan membawa Yumna untukku. Aku berharap ini bukanlah janji sesaat agar aku tak banyak bicara lagi sebab perjalanan dari Jakarta ke Padang tidaklah dekat dan pasti butuh biaya yang banyak. Tapi, bukankah Uni Dewi mengatakan kalau mereka orang kaya raya. Pasti tak berat untuk mereka menjemput Yumnaku.


Mendapatkan secercah harapan membuat hatiku berbunga-bunga. Semangatku kembali muncul. Aku tak akan lama berpisah dengan Yumna. Setelah yakin mereka baik maka aku akan meminta Yumna kembali pada ayah.


***


Dua jam perjalanan akhirnya kami sampai di sebuah hotel yang menurutku sangat megah di kota Padang. Beberapa kali mengunjungi ibu kota Sumatra Barat ini, aku selalu melewati hotel ini, tapi tak pernah terpikirkan akan menginap di sini.


Begitu turun dari mobil, mbak Ayu langsung menyambut kedatangan kami. Ia tampak berseri-seri mengenakan gamis berwarna merah muda.


"Lho, kalian berdua saja? Anak kamu mana, Mil?" Mbak Ayu melirik ke kiri dan kanan untuk memastikan keberadaan Yumna.

__ADS_1


"Yumna nggak ikut mbak." jawabku.


"Maksudnya?" mbak Ayu agak kaget. Ia melempar pandangan pada mas Ilham seperti memastikan kebenaran kata-kataku.


"Kedua orang tua dan mertua saya meminta Yumna untuk tinggal bersama mereka sementara waktu." jawabku.


"Oh," ia memaksakan senyum. Lalu mengajakku masuk ke dalam hotel. "Kita langsung ke kamar saja, ya." Mbak Ayu menuntunku menuju kamar yang ia pesankan untukku.


Kamar 108. Begitu terbuka, tampak sebuah kamar yang benar-benar membuatku langsung terpesona. Kamar yang sangat bersih dan rapi dengan bad cover berwarna putih. Ada lemarinya, kamar mandi dalam, kulkas, televisi, serta udara yang terasa dingin karena ACnya menyala. Kamar yang belum pernah aku lihat apalagi tempati sebelumnya.


"Ini kamar kamu. Malam ini kamu tidur di sini ya Mil. Besok pagi juta berangkat ke Jakarta. Kamu istirahatlah, kalau ada apa-apa aku di kamar sebelah." ia menunjuk kamar yang ada di sebelah kanan kamarku.


Begitu mbak Ayu keluar, aku langsung duduk di atas kasur yang terasa sangat empuk. Tiba-tiba teringat Yumna, kalau saja ia ikut, pasti Yumna akan senang menginap di sini. Kembali air mataku tumpah. Sebenarnya bisa saja aku membantah permintaan emak, ayah dan ibu, tapi aku juga tak ingin bersikap gegabah. Yang mereka katakan benar, aku harus memastikan bahwa keluarga mbak Ayu dan mas Ilham benar-benar bisa.memerimaku dengan tangan terbuka. Jika tidak, cukup aku saja yang merasakan ketidak nyamanan.


***


Sementara itu, mbak Ayu apalagi mas Ilham tidak mengunjungi kamarku sama sekali setelah mereka mengatakan aku ke sini sejak tadi siang. Mau keluar dari kamar ini juga aku tidak berani. Makanya aku hanya bisa duduk meringkuk di samping tempat tidur sembari memegangi perut. Menyesal tadi tidak menerima bekal makanan yang dibawakan oleh Uni Siti.


Saat seperti ini aku hanya bisa mengingat Yumna. Jam segini ia pasti sudah tidur. Apakah ia masih menangis? Masih ingat padaku?


"Nak, maafkan Umi. Sesegera mungkin Umi akan menjemput Yumna." Kataku.


***


Pukul tujuh pagi, mbak Ayu masuk ke kamarku. Ia mengajakku untuk sarapan di bawah. Aku tak menolak, langsung ikut karena perutku sudah sangat lapar. Kami turun berdua karena mas Ilham sudah duluan ke bawah. Ia menunggu di meja makan.

__ADS_1


"Kamu mau sarapan apa, Mil?" tanya mbak Ayu.


"Apa saja mbak." jawabku.


Menu sarapan ini dipesankan oleh mbak Ayu. Tak berapa lama, pelayan datang membawakan tiga piring berisi sepotong roti beserta tiga cangkir teh. Aku mulai menyantapnya dengan perasaan gelisah.


"Mbak, maaf. Boleh saya tambah?" kataku, dengan suara pelan namun bisa didengar oleh mbak Ayu dan mas Ilham. Aku benar-benar membuang rasa malu. Lagipula kenapa juga harus malu, toh aku tak melakukan hal yang salah. Minta tambahan makan nggak dosa, dari pada nanti pingsan atau gelisah karena menahan lapar seperti tadi malam


"Oh, kamu mau tambah?" Mbak Ayu balik tanya. "Rotinya kurang ya? Atau kamu nggak biasa sarapan roti saja?"


"Iya mbak. Maaf ya, saya masih lapar karena sejak kemarin belum makan." aku berkata jujur, menjelaskan tentang keadaanku. Sejak pagi aku sudah dirias, hanya sempat makan satu ini rebus dan segelas teh hangat.


"Belum makan, dari kemarin? Maksudnya, semalam kamu nggak makan?" tanya mas Ilham.


"Belum mas," jawbaku. "Tadi malam saya nggak makan apa-apa."


"Yu?" mas Ilham melirik ke arah mbak Ayu.


"Hah, iya Mas. Kenapa?" ujar mbak Ayu.


"Bukannya semalam kamu sudah pesankan makan malam untuk Mila?" Mas Ilham mengintrogasi mbak Ayu. Aku tak paham pembicaraan mereka, yang jelas terlihat sekali raut wajah mas Ilham kesal, sementara mbak Ayu tak bicara apa-apa selain diam sambil memainkan ujung kerudung.


"Saya sudah pesankan nasi semalam mas, mungkin pelayannya lupa atau salah kamar atau ...." Mbak Ayu tampak kikuk.


"Apa perlu kita kroscek sekarang?" tanya mas Ilham. "Mil, kamu lanjut makan saja." Mas Ilham menambahkan pesanan baru untukku. Sepiring nasi goreng dan segelas susu hangat. Menu yang sukses membuat perutku kenyang. Usai sarapan bertiga, kami kembali ke kamar dalam diam. Entah apa yang salah, tapi mas Ilham memintaku kembali duluan sementara ia akan bicara dengan mbak Ayu. "Kamu masuk saja dulu sembari siap-siap sebelum kita berangkat ke Jakarta. Kalau ada apa-apa, saya ada di sebelah." katanya.

__ADS_1


Mas Ilham dan mbak Ayu kembali masuk ke kamar mereka, sebenarnya aku bingung, kenapa mas Ilham terlihat sangat kesal sementara mbak Ayu tampak serba salah. Hanya saja aku tak ingin ikut campur urusan mereka, meski sekarang aku adalah bagian dari mereka.


__ADS_2