
[Mas, saya sudah sampai di kampung. Tadi di jemput Ayah. Sekarang sedang ngumpul bersama keluarga. Mas, mbak Ayu dan anak-anak bagaimana kabarnya?] sebuah pesan ku kirimkan pada mas Ilham. Hanya dibaca, tapi tidak dibalas olehnya. Aku berpikir positif bahwa mungkin mas Ilham masih sibuk mengurus mbak Ayu.
Tapi ternyata perkiraanku salah, mbok Asih mengatakan kalau mas Ilham sudah pulang ke rumah tak berapa lama setelah aku berangkat. Yang menjaga mbak Ayu di rumah sakit adalah saat ini adalah Bu Sila bergantian dengan Iqbal..Entah apa pertimbangannya.
Ingin sekali aku menghubungi mas Ilham. Minta maaf sebab berani pergi tanpa izin darinya, tapi ku urungkan niat tersebut, khawatir menggangunya. Kata mbak Ayu, bulan ini akan jadi bulan tersibuk mas Ilham, inilah penentuan apakah ia pantas jadi ketua yayasan atau tidak.
Sayangnya, sudah tiga hari berlalu, pesan-pesan yang ku kirimkan tidak kunjung dibalasnya. Bahkan pesan yang terakhir tak lagi dibaca. Apakah ia masih marah? Belum Ridha kah dia? Tidak mungkin mas Ilham tak punya sedikit waktu untuk membalasnya..Rasanya mustahil sekali.
"Kapan kamu kembali ke Jakarta, Mil?" tiba-tiba ayah sudah berdiri di sampingku. "Suamimu tidak datang menjemput? Ini sudah tiga hari kamu di sini, dia nggak apa-apa kan? Kabar istri pertamanya bagaimana? Apa masih di rawat di rumah sakit? Sudah tahu sakit apa?"
"Mbak Ayu masih di rumah sakit, Yah. Masih pemulihan. Harus menjalani beberapa terapi lagi baru bisa pulang ke rumah." jawabku.
"Parah sakitnya?"
"Lumayan, pak."
"Ya Allah. Lalu suamimu?"
"Mas Ilham masih persiapan untuk pemilihan ketua yayasan. Jadi ya kita bersabar dulu. Lagian memang nggak boleh Mila lama-lama di rumah orang tua Mila sendiri?"
__ADS_1
"Bukan begitu, Mil. Ayaj hanya khawatir saja ada apa-apa dengan rumah tangga kamu. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Rasanya sedih kalau tahu dari orang lain, bukan dari anak sendiri."
"Enggak ada apa-apa, Yah. Semua baik-baik saja. Kami hanya sedang diuji dengan sakitnya mbak Ayu. Doakan saja semoga semuanya baik-baik saja supaya Mila bisa cepat pulang. Mila sebenarnya juga tidak enak harus pergi saat seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, Mila sudah sangat rindu pada Yumna." kataku.
"Mil, tapi kamu benar tidak menyembunyikan sesuatu, kan?"
"Dih, ayah. Tentu tidak, bagi Mila gak perlu ada rahasia bersama ayah dan ibu." usai berbincang, aku lalu pamit ke kamar karena tak ingin ditanya lagi oleh Ayah.
Hatiku memang belum bisa tenang sebelum mas Ilham membalas pesanku. Dimarahi juga tidak apa-apa, asalkan ia mau bicara. Didiamkan seperti ini benar-benar sangat menyiksaku. Rasanya seperti digantung saja.
***
Sudah sepuluh hari. Makanya aku nekat menelepon mas Ilham. Sayangnya teleponku tidak dijawabnya. Tiga kali panggilan, ketiganya diabaikan begitu saja. Saat aku menelepon ke rumah besar, Hana yang menjawab, mas Ilham juga menolak untuk berbicara denganku..Alasannya ia ditunggu oleh perjalanan. Padahal ia online. Aku semakin yakin kalau mas Ilham benar-benar serius marah padaku. Lalu, apakah ia akan melaksanakan kata-katanya, tak akan menjemputku? Ya Allah, kalau begini, aku harus bagaimana?
Mas, jangan salah paham dulu..saya memaksa berangkat bukan karena tak ingin mematuhi mas. Saya adalah seorang ibu yang kelemahannya adalah anaknya. Saya sungguh tak sanggup menahan beban rindu dan juga melihat anak saya menderita sebab tak jadi berjumpa dengan saya. Maafkan saya, mas. Tolong maafkan saya. Kalau mas baca pesan ini, tolong balaslah. Setidaknya, demi ketenangan saya yang juga berpengaruh terhadap bayi dalam kandungan saya.]
Tak ada senjata lain, aku terpaksa menggunakan anak dalam kandunganku sebagai alasan agar ia mau membalas pesanku, dengan alasan ia bisa luluh. Tapi ternyata tak juga berhasil. Mas Ilham hanya membacanya, ia tak membalas sama sekali padahal aku sudah menunggu berjam-jam.
***
__ADS_1
"Sepertinya mas Ilham tak akan menjemput saya, Uni." kataku pada Uni Dewi. Hari ini ia menemuiku di TPA, usai aku mengajar mengaji. Sejak tiga hari lalu aku memang kembali mengajar di sini seperti sebelum menikah untuk mengisi waktu. Uni Dewi datang sesuai dengan permintaanku. Menurutku hanya ia yang saat ini bisa dijadikan teman bercerita sebab bagaimanapun Uni Dewi mengenal mas Ilham dan mbak Ayu. Aku juga merasa lebih tenang bercerita padanya ketimbang pada keluargaku sendiri. Khawatir menambah beban pikiran mereka.
"Harusnya kamu nggak pulang tanpa seizin pak Ilham, Mil." kata Uni Dewi. "Itu sama saja kamu tengah menundukkan bahwa kamu punya aturan di dalam aturan."
"Tapi semuanya sudah terjadi Ini. Saya pun sudah sampai di kampung sekarang. Lalu harus bagaimana lagi? Masa terus menyesali keputusan yang sudah saya kerjakan."
"Hmmm, aku juga bingung Mil. Entah harus melakukan apa untuk menolong kamu."
"Tak bisakah Uni berbicara pada mas Ilham? Katakan padanya kalau saya benar-benar menyesal sudah melanggar kata-katanya. Tapi bukan berarti saya tak mau patuh. Ada alasan yang tak bisa saya beritahu.".
"Aku juga tak berani berbicara dengannya kalau kondisi seperti ini,"
"Sebenarnya seberapa kenal Uni dengan mereka?" ada banyak hal yang harus aku ketahui dari Uni Dewi tentang mbak Ayu dan mas Ilham. Sejujurnya akupun juga penasaran, apakah ia tahu kondisi mbak Ayu yang mengalami depresi dan penyakit mental?
"Ya kenal begitu saja, Mil. Seperti yang kamu tahu, ayahnya Pak Ilham adalah seorang yang berada dua kampung dari kampung kita, mereka cukup sering pulang kampung saat ayahnya masih hidup. Pak Ilham juga sering membantu warga lainnya yang membutuhkan bantuan. Termasuk untuk TPA kita juga pernah mendapatkan donasi dari pak Ilham dan mbak Ayu, seperti yang aku ceritakan dulu.
Cerita-cerita Uni Dewi tak terlalu menjawab rasa penasaranku tentang mereka.. Sebenarnya aku ingin tahu tentang hal yang lebih spesifik lagi dari mereka. Tapi sepertinya Uni Dewi pun tidak terlalu tahu.
"Kenapa kamu tak coba minta bantuan mertua kamu, Mil? bukankah kalian cukup dekat?"
__ADS_1
ahhh, kenapa aku bisa lupa pada ibu? ya, ia sepertinya satu-satunya orang yang bisa menolongku untuk keluar dari masalah ini.
Rasanya aku ingin cepat-cepat pulang dan menghubungi ibu mertuaku. Ia adalah orang yang di dengar oleh mas Ilham. ia adalah orang yang tepat untuk mendamaikan kami.