
"Bi, Abi berangkat dulu ya. Sabrina baik-baik sama Tante Mila." pesan mas Ilham pada Sabrina.
"Ya Abi," Sabrina menganggukkan kepalanya.
"Mila, tolong titip Sabrina dulu ya. Kalau ada apa-apa langsung telepon saya saja." pinta mas Ilham.
"Hmm, mbak Ayu bagaimana, mas?" tanyaku.
"Masih di kamar. Sepertinya ia tak akan turun. Nanti suruh mbok Asih nganter sarapan untuk Ayu dan Ibed ya." pinta mas Ilham lagi. Sebelum berangkat ia mengulurkan tangannya, lalu mengecup pelan keningku. "Maaf ya untuk ketidak nyamanan ini. Saya janji akan segera membuatnya menjadi baik-baik saja. Kamu bersabar ya." ucapnya.
Pagi ini aku mengantar keberangkatan mas Ilham sampai di depan pintu. Meski dengan rasa berat hati sebab masih banyak masalah yang belum terselesaikan. Siapa sangka, ada sepasang mata yang mengawasi apa yang aku lakukan tanpa sepengetahuanku.
"Sabrina sekarang ikut ke kamar Tante ya." Aku membimbing tangan Sabrina menuju kamarku. Untuk urusan merapikan meja makan sementara waktu aku serahkan pada mbok Asih.
Sampai di kamar, aku memberikan Sabrina buku bacaan yang ia pegang, memintanya untuk membaca sementara aku harus menenangkan diri terlebih dahulu usai menyaksikan keributan di meja makan tadi.
"Tante," Panggil Sabrina. "Apa Tante akan mengambil Abi dari Umi dan kami semua?" tanyanya, sambil menatapku.
"Hah? Oh, kata siapa?" aku agak kaget dengan pertanyaan Sabrina. Anak kelas dua SD itu kenapa bisa berpikir seperti itu.
"Kata kak Hana. Makanya Sabrina dilarang dekat-dekat Tante."
"Astaghfirullah. Enggak benar Bi. Tante nggak akan mengambil Abi dari kalian. Abi tetaplah milik kalian."
"Lalu kenapa Abi mencium Tante?"
Astagfirullah. Lagi-lagi aku kembali mengucap istighfar, tak seharusnya bersikap mesra di hadapan anak-anak, apalagi dalam kondisi yang mereka belum bisa menerima kehadiranku. "Maafkan Tante kalau sudah membuat Bi dan yang lainnya tidak nyaman. Tante janji akan berusaha menjaga sikap, enggak akan terlalu dekat dengan Abi." kataku.
"Kenapa Tante harus menikah dengan Abi?"
"Karena ... Bi, ada beberapa hal yang kadang enggak bisa kita jelaskan. Tapi Tante berada di sini bukan untuk menyakiti kalian. Tante sayang sama Sabrina, kak Iqbal, kak Asad, kak Hana dan Ibed juga."
__ADS_1
"Tapi Tante membuat Umi sedih dan itu sama saja membuat kami sedih!"
"Tante minta maaf sayang, tapi Tante berada di sini sudah disetujui Umi kalian, bahkan beliau yang mengajak Tante ikut ke sini."
"Tapi kenapa Umi marah sama Tante?"
"Entahlah. Lagi-lagi tidak semua pertanyaan bisa Tante jawab sayang."
"Tante mau jadi ibu tiri kami, ya? Tapi kan kami masih punya Umi? Tante mau membunuh Umi?"
Lagi-lagi pertanyaan Sabrina membuatku terkaget-kaget. Dan yang menambah keterkejutan adalah ternyata sumbernya dari Hana. Sepertinya ia benar-benar membenciku. Aku benar-benar bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada Sabrina agar ia tahu bahwa aku gak sejahat itu.
"Ibu tiri itu kan jahat. Persis seperti di film-film. Ibu tiri nggak ada yang sayang sama anak tirinya. Kalau Umi sudah meninggal, pasti Tante akan membuang kami. Iya kan? Tapi kenapa sih Tante harus sejahat itu? Kenapa harus menikah lagi dengan Abi? Apa Tante tahu, kalau anak yang masih punya Umi, enggak perlu punya ibu tiri." Sabrina masih mengoceh, mengemukakan pendapat.
"Bi, mau bantu Tante nggak?"
"Bantu apa?"
"Tapi Sabrina masih punya Umi. Enggak mau Umi yang lain!"
"Baiklah. Kita berteman supaya Umi dan yang lainnya nggak marah sama Tante? Janji, kalau Sabrina mau jadi teman Tante dan membantu Tante maka Tante nggak akan ambil Abi dari kalian!"
"Janji?"
"InshaAllah."
"Berarti Tante akan pergi dari rumah ini."
Fiufff, kenapa sulit sekali untuk berunding membuat kesepakatan dengan anak ini. Aku merasa cukup kewalahan menghadapi Sabrina yang memang cerdas.
"Bi, Tante janji, enggak akan ganggu Umi. Nanti Tante akan pindah jika itu keinginan Sabrina." kataku, mencoba membuat kesepakatan.
__ADS_1
"Baiklah."
"Kalau begitu kita berteman?"
"Ya!"
Ada beberapa hal yang ku minta pada Sabrina agar ia mau bicara pada Hana. Aku berharap dengan melakukan pendekatan pada gadis kecil ini maka aku bisa mendekati kakaknya juga meski aku tak yakin ini akan mudah.
***
"Untuk apa kamu mendekati putriku?" seseorang sudah berada di belakangku. Mbak Ayu, ia berbicara dengan nada tinggi sembari menggendong Ibed. "Kamu kira dengan mendekatinya maka bisa mengambil alih menjadi ratu di rumah ini? Jangan GR apalagi kepedean, Mil. Mentang-mentang ibu mendukung, bukan berarti kamu bisa mengambil posisiku. Kamu tetaplah yang kedua, sementara aku yang pertama dan posisiku tak bisa dikalahkan!" tegas mbak Ayu
"Mbak bicara apa? Saya benar-benar nggak paham." kataku. Pikiran mbak Ayu terlalu jauh, aku tak pernah berpikir seperti yang ia tuduhkan.
"Jangan mengelak Mila. Kamu mencari kesempatan untuk dekat dengan suamiku!"
"Suamiku? Mbak, sadar nggak sih, mas Ilham itu juga suami saya!"
"Apa? Oh, kamu sudah berani melawanku sekarang? Mentang-mentang ... Mila, Demi Allah aku akan menyingkirkan kamu dari hidup kami. Kamu itu ibarat duri dalam daging. Sudah diangkat derajatnya malah mau menusukku. Kamu benar-benar nggak tahu diri, pantas saja kamu miskin, enggak berpendidikan. Kok sekarang malah berani bermimpi tinggi!" Mbak Ayu berteriak sekeras mungkin sehinga membuat kaget. Yang paling kaget tentu saja Ibed sebab berada di gendongan mbak Ayu. Bocah dua tahun itu ikut-ikutan berteriak, bahkan lebih histeris dari ibunya.
Saat seperti ini aku lebih iba pada Ibed. Anak dua tahun itu tak harus merasakan ini semua. Makanya aku mencoba mengambilnya dari mbak Ayu agar bisa tenang, tapi mbak Ayu malah semakin kuat membekapnya dala gendongan hingga terjadi adegan tarik-menarik antara kami.
"Umi ... Tante Mila. Lepasin!" Sabrina yang berada tak jauh dari kami langsung mendorongku agar menjauh dari ibu dan adiknya. Tapi usahanya tak terlalu berhasil sebab kekuatanku jauh lebih besar dari pada Sabrina.
"Bi, biar Tante gendong Ibed. Kasihan dia nangis." kataku.
"Enggak. Nggak boleh. Jangan ambil Ibed dari Umi. Tante jahat, jahat, jahat. Sabrina nggak mau lagi berteman dengan Tante!" dengan tangan kecilnya, Sabrina memukul-mukul aku.
Saat seperti ini aku benar-benar kewalahan. Khawatir Ibed menjadi trauma. Untung saja Mbok Asih dan Farid segera datang. Mbok Asih mengambil Ibed, sementara Farid menenangkan Sabrina. Kini hanya tinggal aku dan Mbak Ayu.
"Aku nggak akan biarkan kamu berlama-lama di sini. Kamu harus pergi dari rumah kami. Kamu jahat, jahat, jahat!" Mbak Ayu kembali berteriak kencang, lalu berlalu meninggalkan kami semua menuju kamarnya. Sementara aku terduduk lemas, bingung dengan kondisi kacau seperti ini.
__ADS_1