
Suasana di rumah ini semakin tidak kondusif. Iqbal masih menyerang ayahnya dengan tuduhan tidak peduli pada ibunya sehingga membuat ibunya bertindak di luar batas yang berujung pada pergi dari rumah. Beberapa kali ia juga memojokkan aku sebagai penyebab semua ini. Aku sudah tak peduli seberapa marahnya ia padaku, sekarang yang terpenting memperbaiki semuanya. Anak-anak ini hanyalah korban dari orang tuanya. Meskipun bukan orang yang berilmu tinggi, tapi aku pernah membaca beberapa buku psikologi remaja tentang anak-anak yang broken home akibat perkelahian orang tua mereka di perpustakaan mushalla kampung kami.
Aku meyakini anak-anak mbak Ayu juga sama kondisi psikisnya dengan anak-anak yang mengalami broken home meski orang tua mereka tak bercerai.
Secara terang memang mbak Ayu dan mas Ilham masih hidup bersama, tapi secara hati mereka sudah tak menyatu lagi. Mas Ilham sudah membuat jarak yang begitu lebar untuk mbak Ayu sehingga mereka seperti orang asing.
Padahal sebenarnya mbak Ayu sangat mencintai mas Ilham. Cinta yang teramat besar sehingga membuatnya ingin menguasai kehidupan mas Ilham secara penuh. Banyak hal-hal yang kadang bagi orang normal tidak masuj akal tapi dilakukan oleh mbak Ayu. Seperti melamarku untuk jadi istri kedua mas Ilham, juga ketika menawarkan mbak Sita untuk jadi istri ketiga padahal ia sendiri sebenarnya tak ingin berbagi suami. Tapi begitulah terkadang orang-orang yang mengalami masalah dengan kejiwaannya. Kadang di luar nalar, namun sebenarnya mereka butuh bantuan, bukan dibuatkan jurang yang makin dalam seperti yang dilakukan oleh mas Ilham.
"Sudah diam. Semuanya harus tenang dulu!" kataku dengan tega, untuk pertama kalinya pada semua yang ada di ruangan ini sehingga mengundang perhatian semuanya. Hening, tak ada lagi yang berbicara, bahkan Hana pun menghentikan tangisnya. "Bisakah semuanya saling menahan emosi dulu? Saat ini mbak Ayu pergi dari rumah, tak ada yang tahu ia kemana sementara haru akan semakin larut. Apa kalian tega mbak Ayu terkatung-katung sendirian di jalanan tanpa kita tahu apakah ia berada di tempat yang aman atau tidak? Bisa saja kan, ada orang jahat yang mengintainya? Semnetara kita di sini yang mengaku peduli padanya sibuk berkelahi, saling menyalahkan satu sama lain. Kenapa tidak sama-sama menahan emosi, menahan diri untuk bertengkar dan fokus pada pencarian mbak Ayu. Kalau tetap ingin berkelahi, kita tak akan pernah bertemu dengan mbak Ayu, sementara polisi juga belum mau membantu mencari sebelum kepergiannya lebih dari satu kali dua puluh empat jam. Apa dengan begitu kalian masih bisa menyebutkan peduli dengan mbak Ayu?* tanyaku pada mereka semua.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Asad, setelah semuanya sempat saling diam.
"Ayo kita lanjutkan pencarian. Kita bagi tugas, yang tinggal di rumah bantu doa dan saling berkabar. Tak ada lagi yang bertengkar. Dan tolong, jika mbak Ayu kembali nantinya, ayo semuanya saling memperbaiki sikap masing-masing. Saling mengingatkan dalam kebaikan. Mulai menunjukkan sikap peduli pada mbak Ayu agar ia merasa semuanya tak ada masalah, semuanya sudah baik seperti yang diharapkannya." kataku.
"Baiklah. Asad akan bantu cari bersama om Farid. Abi dan Tante Mila silakan lanjutkan pencarian juga. Mas Iqbal bantu menelepon teman-teman Umi. Yang lainnya tunggu di rumah sambil berdoa semoga Umi cepat ditemukan dalam keadaan sehat." kata Asad.
__ADS_1
Semua kembali bergerak sesuai dengan apa yang aku katakan tadi. Kami berdua kembali membelah kota Jakarta. Meneliti setiap sudutnya, berharap menemukan sosok mbak Ayu yang menghilang bak ditelan bumi.
"Kemana lagi ya harus mencarinya." cetus ku. Hari sudah semakin sore, langit juga terlihat mendung. Aku benar-benar takut hujan turun dan mbak Ayu belum ditemukan. Mencari saat cuaca cerah saja teramat sulit, apalagi jika ditambah hujan.
"Entahlah. Saya juga bingung," keluh mas Ilham.
"Apa tak ada tempat yang istimewa yang sekiranya bisa dikunjungi mbak Ayu?"
"Tempat istimewa seperti apa?"
"Rumah orang tua, keluarga, teman atau apa?"
"Memang ada teman seperti itu?"
"Ya begitu teman-teman Ayu yang kamu tahu itu. Mereka hanya jadi support sistem untuk mengacaukan semuanya. Tapi untuk kebaikan mereka tak akan ada. Itulah kenapa ibu tak pernah suka dengan mereka. Tapi herannya, Ayu tetap mempertahankan mereka meski ia sebenarnya menyadari hanya dimanfaatkan saja."
__ADS_1
Sekarang aku mengerti betapa rumitnya masalah hidup mbak Ayu dan selama ini ia menghadapinya sendiri. Aku yang pernah dibuat kesal olehnya kini hanya tersisa perasaan iba. Aku semakin bertekad akan membantu mbak Ayu keluar dari masalahnya.
"Mas yakin, enggak ada tempat yang benar-benar berarti untuk mbak Ayu. Misalnya makam orang tuanya?" tanyaku lagi, teringat sinetron yang pernah aku tonton saat masih remaja di rumah tetangga, saat pemeran utamanya kabur dari rumah, lari ke makam orang tuanya untuk menumpahkan segala kesedihannya. Barangkali di kehidupan nyata itu juga dilakukan oleh orang-orang. Seperti aku yang juga pernah ke makam bang Hasan saat sedih ketika awal ia meninggalkan kami untuk selamanya.
"Makam ayahnya jelas saja tidak mungkin karena sayalah justru yang sering mengajaknya untuk ziarah. Mereka tak punya tempat khusus di hati Ayu." ujar mas Ilham. "Eh tapi, ahhh, apa mungkin." mas Ilham tampak berpikir.
"Kenapa mas?"
"Makam adiknya Ibed. Tapi ...."
"Tapi kenapa?"
"Apa ia kesana? Tapi yang saya lihat ia memang begitu berduka saat kehilangan bayi keenam kami dan juga menjadi akhir ia harus menjalani operasi steril."
"Segala kemungkinan, meski itu kecil, kita coba saja mas. Mungkin memang bayi itu sangat berharga untuk mbak Ayu. Kita ke sana sekarang mas." anakku.
__ADS_1
Mobil berputar arah menuju pemakaman keluarga. Tak terlalu jauh sebenarnya, namun cukup memakan waktu karena jalanan kota Jakarta yang cukup padat akibat macet sore hari oleh orang-orang yang pulang dari kantor.
Aku benar-benar sudah tak sabar untuk sampai di tempat yang mas Ilham katakan. Entah kenapa begitu besar harapanku menemukan mbak Ayu di sana meski mas Ilham masih ragu. Ia amat berharap dengan kehadiran bayiku, ia juga berharap bisa memberikan keturunan lagi untuk mas Ilham. Bisa saja kan, ia ada di sana.