
Aku dan Ibed terlibat pembicaraan. Meski banyak nggak nyambungnya karena usia Ibed yang masih muda, namun setidaknya aku tak terlalu merasa sepi. Sudah ada yang menanggapi perkataan ku meski oleh seorang balita.
"Mbak Mila enggak makan?" tiba-tiba seseorang muncul di hadapanku. Farid, ia hanya berjarak beberapa meter dariku. Entah kapan ia datang, aku tak terlalu menyadari.
"Eh Rid, iya sebentar lagi. Saya masih jagain Ibed." kataku.
"Mbak Mila ke saung saja, biar Ibed sama saya. Meski laki-laki, tapi saya sudah biasa kok jagain Ibed."
"Enggak usah Rid, kamu sendiri juga belum makan, kan?"
"Saya makan di rumah mbak. Masa supir makan sama majikan," ia terkekeh. "Sini mbak, Ibednya. Biar sama saya." Benar yang dikatakan Farid, begitu diminta, Ibed langsung girang beralih ke gendongan Farid. Bahkan kini ia sudah bisa tertawa lepas saat dicandai. "Sudah mbak, sana makan saja. Ibed InsyaAllah aman kok sama saya. Iya kan Bed?" Farid mulai mengajak Ibed berjalan-jalan mengitari tempat bermain.
Aku mengikuti kata Farid, menuju saung untuk bergabung bersama yang lain. Apalagi kebetulan perutku juga sudah lapar.
"Lho Mil, kok di sini. Ibed mana?" tanya mbak Ayu, sambil melihat ke arah kiri dan kanan.
"Itu mbak ... Ibed sama Farid." aku menunjuk ke arah tempat bermain anak-anak.
"Sama Farid? Lho, kan aku nitipnya sama kamu." ucap mbak Ayu. "Gimana sih Mil. Aku nitip sebentar saja. Enggak sabaran banget. Ya sudah makan saja sana. Farid itu kan supir, bukan pengasuh anak!" Mbak Ayu ngomel.
"Biar Hana yang ambil Ibed, Mi!" Hana langsung berlari ke arah Ibed dan Farid.
Mendengar respon Mbak Ayu, aku hanya bisa diam mematung usai mengucapkan permohonan maaf. Aku sungguh tak menyangka ia akan sekesal itu padaku. Memang aku juga punya salah sudah membiarkan Ibed berada dalam pengawasan supir, tapi aku benar-benar tidak tahu kalau itu tidak boleh dilakukan. Aku kira tak masalah jika Ibed digendong oleh Farid karena ia pun bekerja pada keluarga ini.
__ADS_1
"Ya sudah, makan dulu." perintah mas Ilham.
Bagaimana bisa makan kalau suasananya sudah begini. Aku benar-benar enggak enak hati pada mbak Ayu. Apalagi beberapa kali aku meminta maaf tetap tidak digubris olehnya. Kini, nasi dan lauk yang ku suap terasa sulit untuk ditelan. Bagaimanapun, aku adalah gadis Minang yang terbiasa hidup dengan rasa-rasa. Setelah membuat orang lain kesal dan belum mendapatkan maaf pastilah rasanya tidak enak.
"Ya sudah, makan saja sana. Jangan lama-lama, sebentar lagi kita pulang!" cetus mbak Ayu.
Inikah wajah asli mbak Ayu. Sebegitu besarkah kesalahanku di matanya hingga sepertinya ia sulit memberikan maaf. Ahhh tidak, bukan aku mau mengungkit. Aku merasakan sikap mbak Ayu berubah sejak kedatanganku di hotel Padang. Ia, mbak Ayu sudah mulai berubah sejak di sana. Ia bicara ketus. Sikapnya yang manis saat pertama kali kami bertemu langsung berubah. Tapi kenapa?
Saat itu aku yakin betul belum melakukan kesalahan apapun. Sebelum akad pun kami masih sempat komunikasi lewat UNI Dewi dan ia terlihat begitu manis.
Apakah yang sebelum-sebelumnya adalah sebuah kepalsuan?
Tiba-tiba perasaan itu muncul di hatiku. Atau mungkin mbak Ayu menyesal sudah berbagi suami denganku? Sebab sejak mas Ilham resmi menjadi suamiku juga, mbak Ayu seperti tak pernah rela melepaskan mas Ilham. Ia selalu berusaha mendahului bahkan tak membiarkan mas Ilham berada dekat denganku meski kami sudah halal.
***
Mbak Ayu masih bergelayut manja di lengan mas Ilham. Ia tak peduli meski berada di hadapanku. Sikap yang sejujurnya membuatku risih. Entah ini yang dinamakan cemburu atau tidak, tapi aku benar-benar merasa cukup panas saat ia terus bersikap seperti itu.
"Kenapa harus seperti itu, sih?" Aku menggerutu dalam hati.
Entah sadar atau tidak, mbak Ayu bahkan meminta anak-anaknya mengambil foto mereka berdua..sementara aku di pojokan saung hanya bisa memaksakan senyum sembari memangku Ibed yang tengah makan snaknya.
"Apakah kamu sudah jatuh cinta pada mas Ilham, Mila?" Tanyaku pada sisi hatiku yang lain. Tak ada kepastian. Sejujurnya aku masih menganggap mas Ilham orang asing sebab kami belum banyak saling kenal. Apalagi ia tipe lelaki yang cukup dingin. Hanya saja, aku sudah menjadi istrinya. Rasanya tak pantas mereka memamerkan kemesraan di hadapanku. Istri keduanya. Pada orang lain saja tidak boleh, apalagi ada istri yang lain.
__ADS_1
Acara makan siang sudah selesai. Aku dan Mbak Ayu tidak langsung pulang, kami berdua akan pergi berbelanja, smenetara mas Ilham bersama anak-anak akan pulang ke rumah.
"Kita mau belanja sayur, mbak?" tanyaku, untuk memecah kesunyian, sebab mbak Ayu hanya diam saja sepanjang perjalanan.
Mbak Ayu melirikku sekilas, lalu ia kembali konsentrasi menyetir.
Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah toko tekstil. Mbak Ayu turun, aku mengikutinya dari belakang. Persis anak buah yang mengikuti majikannya.
Suasana seperti ini benar-benar tidak enak. Kalau mbak Ayu ada masalah, kenapa tidak dibicarakan saja? Rasa-rasanya aku ingin menangis dengan perlakuannya yang seperti ini. Benar-benar membingungkan. Apa susahnya sih menjawab pertanyaan orang lain?
"Yang ini saja!" mbak Ayu memilihkan sebuah gaun berwarna putih, lalu menyerahkannya padaku. "Coba sana!" sikap mbak Ayu padaku dibanding pada pelayan tadi benar-benar berbeda. Bak bumi dan langit. Ia bisa bermanis-manis, sementara padaku begitu ketus.
"Gaun itu buat apa sih, mbak?" Tanyaku. "Mbak, memang mau ada acara ya?" aku terus menghujani mbak Ayu dengan banyak pertanyaan. Didiamkan tanpa tahu kesalahan kita apa itu benar-benar tidak nyaman. Kalau tidak suka, jelaskan penyebabnya. Aku tak mau diperlakukan seperti itu terus, makanya aku sudah bertekad akan membuatnya menjawab pertanyaanku meski ada kemungkinan ia akan semakin marah.
"Kamu itu Ternyata cerewet ya!" ungkap mbak Ayu.
"Dan mbak jutek," Kataku, dalam hati. Lalu diikuti istigfar berulang kali karena sudah mengatai kakak madu sendiri. Ya mau bagaimana lagi. Aku juga manusia biasa. Kalau sejak awal ia menunjukkan sikapnya yang seperti ini aku tak akan mau menikah dengan suaminya. "Maaf ya mbak." Kataku. "Keseringan memang begitu mbak, kita baru menyadari sikap asli seseorang setelah agak lama bersama dengannya." tambahku.
"Berisik!"
"Terus gaun ini untuk apa?"
"Dari awal aku sudah bilang supaya kamu nurut sama aku. Sekarang aku minta nggak usah banyak ngomong. Kamu diam saja. Nanti juga kamu bakalan tahu. Jadi kamu sabar, jangan banyak tanya!" tegas mbak Ayu sebelum akhirnya meninggalkan toko tadi.
__ADS_1