MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
SYUKURAN WALIMAHAN


__ADS_3

Di depan kaca aku masih mematut diri. Jujur, aku merasa terpesona dengan penampilanku sendiri malam ini. Terlihat berbeda dari aku yang biasanya lusuh dengan gamis yang sudah tua dan itu-itu saja, tetapi kali ini memakai gamis panjang berwarna putih tulang.


"MasyaAllah, cantik juga kamu Mila!" kataku pada diri sendiri. Hal yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan. "Ini pasti berkat gamis panjang yang dibelikan mbak Ayu!" aku tersenyum, tapi kemudian senyum itu hilang setelah ingat kejadian tadi siang. Menyesal sudah mengatakan mbak Ayu yang tidak baik, padahal sebenernya ia baik. Buktinya, sudah membelikan aku gamis secantik ini. Pasti harganya sangat mahal sekali. Mbak Ayu benar-benar baik.


Malam ini akan ada pesta syukuran atas walimahan antara aku dan mas Ilham. Ini semua sudah diatur mbak Ayu sebagai penyambutan sekaligus mengenalkan aku kepada kolega mereka. Bagaimanapun mas Ilham dan mbak Ayu sangat terpandang dan memiliki banyak kenalan, itulah kenapa pernikahan mas Ilham denganku harus diumumkan agar kelak tak ada kesalah pahaman. Untuk menghindari fitnah. Sebagai orang yang dikenal salih, hal-hal seperti ini sangat sensitif sekali. Terbuka merupakan pilihan yang benar.


Masih asyik mematut diri di kaca, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Mbok Asih rupanya. Ia mengatakan bahwa sudah banyak tamu yang datang, acara akan segera dimulai, jadi aku diminta untuk ke depan menemui semua orang. Mbok Asih disuruh mbak Ayu untuk memanggilku.


"Duh, bagaimana ya. Saya kok gugup mbok." kataku, setelah sampai di tengah perjalanan. Langkah kaki ini langsung kaku begitu mendengar suara gelak tawa dari ruang tamu. Dari suaranya sepertinya banyak yang hadir.


"Lho Mila, ditunggui dari tadi kok malah diam di sini. Ini lagi, mbok Asih, disuruh bawa Mila ke depan malah parkir di sini!" tiba-tiba mbak Ayu muncul. Melihat penampilannya yang begitu mewah, dengan gaun putih panjang dan kerudung berwarna senada serta hiasan yang aku yakin harganya tidaklah murah membuatku jadi ingin mundur. Aku kira tadi akan menjadi yang paling cantik, tapi siapa sangka, penampilan mbak Ayu jauh lebih memukau. Kini, gaun yang ku pakai malah terlihat terbanting dibandingkan apa yang dipakai mbak Ayu. "Ayo Mil!" mbak Ayu agak menarik tanganku agar segera berjalan ke depan.

__ADS_1


"Nggak Mila. Jangan berpikir macam-macam. Sudah untung mbak Ayu membelikan kamu gaun yang bagus seperti ini. Sebenarnya, bisa saja gaun yang dipakai mbak Ayu harganya sama denganmu, tapi mungkin karena dipakai mbak Ayu makanya terlihat lebih mewah." aku mengingatkan diri sendiri agar tidak sembarang berpikiran buruk.


Mbak Ayu itu terbiasa memakai barang-barang mewah, jadi wajarlah jika ia terlihat lebih anggun dan penampilannya mewah dibandingkan diriku yang kalau berpakaian selalu apa adanya. Gamis yang kupunya hanya tiga lembar, itupun sudah lusuh semuanya termakan usia, ditambah satu lembar pemberian Uni Dewi yang paling bagus milikku.


***


Acara syukuran ini dihadiri banyak orang. Ruang tamu berukuran cukup besar sampai penuh hingga ke bagian dalam. Begitu aku keluar bersama mbak Ayu, semua orang langsung menatapku. Tatapan yang entah apa maknanya. Yang jelas, tak sedikit yang melihatku dari atas ke bawah.


Mas Ilham ikut menjelaskan tentang pernikahan keduanya. Ia menyatakan bahwa semuanya sudah seizin mbak Ayu. Bahkan ini semua terjadi atas permintaan mbak Ayu sendiri yang merasa sanggup untuk berbagi suami. Tujuannya mencarikan istri untuk suaminya semata-mata karena ibadah.


Decak kagum pun mengalir. Pujian-pujian tertuju pada mbak Ayu. Keshalihannya pun diagung-agungkan. Bayangkan saja, mencarikan hingga menikahkan suami dengan perempuan lain adalah perkara yang tidak mudah. Hatinya harus benar-benar besar dan mbak Ayu sudah melakukan itu semua.

__ADS_1


"Aku benar-benar nggak nyangka, ternyata kamu sungguh-sungguh melakukannya. Mencarikan istri kedua untuk suamimu. Aku kira kamu hanya bercanda, Yu. Ternyata kamu melakukannya dan kamu sendirian yang mempersiapkan semuanya. Sungguh, kamu benar-benar perempuan luar biasa, Yu. Hati kamu benar-benar bagus. Tidak semua perempuan bergelar istri saliha mampu melakukannya. Kalau sudah begini, kamu pantas untuk menjadi ibu ketua yayasan mendampingi mas Ilham." puji teman-teman mbak Ayu.


"Bener Yu. Apalagi perempuan yang jadi adik madu kamu juga masih muda meskipun kecantikan kalian berbandinglah. Tapi kan tetap saja, kelak akan ada persaingan antara kamu dan madumu. Apa kamu sudah siap menghadapi semua itu, Yu? Kamu yakin nggak akan cemburu nantinya, mengingat ia lebih muda dan belum punya anak. Sementara kamu, punya kesibukan luar biasa, anak-anak sudah banyak dan usiamu di atasnya." tambah temannya yang lain.


"Cemburu itu suatu saat pasti akan muncul meski antara aku dan Mila baik-baik saja. Itu sifat alami perempuan, apalagi tentang suaminya. Tapi InsyaAllah aku sudah tahu cara memanage semua itu. Aku menerima Mila apa adanya. Ia memang masih muda, selisihnya cukup jauh dariku. Tapi Mila bukan anak gadis lagi. Ia sudah pernah menikah dan punya satu putri. Alasan aku memilihnya juga karena aku tahu Mila membutuhkan pertolonganku untuk menjamin hidupnya dan anaknya. Jadi, semua sudah terpikirkan olehku. Bukan hanya sekedar nafsu belaka." jawab mbak Ayu dengan santainya.


"Wow, kamu benar-benar luar biasa, Yu. Hatimu benar-benar bak malaikat. Kami sangat salut. Pantas saja mas Ilham begitu mencintai kamu, ternyata kamu bukan perempuan biasa, tapi sudah seperti bidadari. Calon bidadari surga!" ungkap yang lainnya.


Pujian-pujian itu masih terus diucap. Aku yang berdiri di samping mbak Ayu seperti seorang ajudan hanya bisa menyimak tanpa berkata sepatah katapun.


"Mbak Mila benar-benar beruntung punya kakak madu seperti Ayu. Mbak Mila harus ingat, tetaplah bersikap baik pada mbak Ayu. Jangan pernah bersikap buruk, meski hanya dipikiran saja padanya. Ingat lho, Ayu sudah mengangkat derajat mbak menjadi istri kedua mas Ilham. Jadi jangan pernah mengkhianati Ayu ya seperti istri kedua kebanyakan yang menusuk istri pertama dari belakang. Ingat itu. Kami semua berada di sisi Ayu, kalau ada apa-apa kami akan berdiri paling depan untuk melindungi Ayu. Jadi kalau punya pemikiran buruk, tolong dipikirkan ulang untuk melakukannya agar mbak sendiri tidak rugi!" tegas teman mbak Ayu.

__ADS_1


Tak hanya satu yang memperinagtiku, tapi cukup banyak agar aku menjaga perasaan mbak Ayu, tidak curang padanya apalagi berpikir jahat untuk menggeser posisi mbak Ayu. Tentu saja peringatan-peringatan itu sukses membuatku semakin tak bisa berkata apa-apa. Sudah tidak kenal siapa-siapa, malah terus dicurigai seolah akan melakukan kesalahan besar yang aku sendiri sebenarnya juga tidak terpikirkan apapun juga. Meski hanya orang miskin yang sebelumnya berstatus janda, aku tak pernah punya niat buruk dalam pernikahan ini.


__ADS_2