
Suara mbok Asih terdengar samar memanggil namaku. Pelan, aku membuka mata.
"Bu Mila hamil!" itu kabar pertama yang aku dengar dari mbok Asih saat kedua mataku kembali terbuka, usai tak sadarkan diri. Rupanya mbak Ayu memanggilkan dokter sebab khawatir terjadi sesuatu padaku.
Mendengar kabar itu, aku yang masih belum sempurna sadarnya butuh waktu beberapa saat untuk mencerna. Ketika itulah, dengan nafas ngos-ngosan menahan amarah, mbak Ayu malah marah. Ia memaksaku menjelaskan tentang kehamilan ini.
"Saya hamil?" aku masih berusaha mencerna. Setelah sepersekian menit barulah aku menyadari bahwa saat ini di dalam rahimku telah hadir seorang makhluk kecil yang Allah amanahkan. Pantas saja beberapa waktu ini rasanya badanku terasa lemah, bangun pagi juga suka mual. Tapi kenapa aku tak menyadarinya.
"Katakan Mila, kenapa semua itu bisa terjadi?" tuntut mbak Ayu. Ia berjalan cepat ke arahku.
Apa yang harus aku jelaskan? Lagipula, bagaimana cara menjelaskan sementara di kamarku masih ada anak-anak mbak Ayu yang berdiri menatapku di depan pintu. Seperti sedang ikut menunggu jawaban dariku.
Aku adalah seorang perempuan dewasa yang memiliki suami. Lalu, jika aku hamil, kenapa harus dipertanyakan? Bukankah itu hal yang lumrah. Menikah, lalu punya anak? Kecuali aku belum mempunyai pasangan, wajar untuk diinterogasi seperti ini.
Tapi sepertinya tidak berlaku untuk mbak Ayu. Ia seperti seorang hakim yang siap mendakwa dan menjatuhi hukuman berat jika aku salah menjawab. Lagi-lagi aku dibuat bingung olehnya. Menjawab salah, diam apalagi.
"Jawab Mila!" ia sampai menarik lenganku.
"Apanya yang harus dijawab, mbak?" aku balik bertanya, merasa tak nyaman diberlakukan seperti itu.
"Jawab kenapa kamu bisa hamil?"
"Ya Tuhan, pertanyaan macam apa itu? Saya punya suami, lalu salahnya apa jika saya hamil? Kalaupun ada yang mesti dipertanyakan, mbak hanya sama mas Ilham saja!" Jawbaku dengan tegas. Mbak Ayu mengaku ia jauh di atasku, termasuk kepintarannya..Tapi hal seperti ini saja ia tak paham.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Mbak, sudahi semua ini. Saya sudah lelah menghadapi sikap mbak yang menguras emosi saya. Saat ini saya sedang hamil, saya butuh ketenangan sebab fisik saya lemah. Jika mbak tekan saya terus dengan pertanyaan yang tak masuk akal, saya bisa ikutan kesal nantinya!" kataku lagi.
"Mila ... mas Ilham tidak boleh tahu tentang hal ini!" Perintah mbak Ayu. "Kamu paham, kan!"
"Mbak nggak berhak melarang saya untuk memberitahu mas Ilham. Lagipula kenapa harus melarang? Mas Ilham ayah bayi ini, ia berhak tahu tentang calon anaknya."
"Nggak ... nggak boleh!" Mbak Ayu mulai histeris. "Pokoknya suamiku tidak boleh tahu. Ia tidak boleh tahu Mila. Jangan diberitahu!" Ia mulai menceracau.
"Mbak, sudahlah." Pintaku.
"Enggak..nggak Mila. kamu tidak boleh bersikap jahat padaku dengan kabar itu. Nggak boleh..Tidak. Pokoknya tak ada yang boleh tahu!" Ia mulai histeris.
Aku dan mbok Asih saling pandang. Untuk sesaat kami terdiam, lalu sama-sama bingung ketika ia kembali histeris seperti waktu itu.
"Mbak ... mbak nggak apa-apa, kan?" aku mencoba mendekat, menenangkan mbak Ayu. Tapi ia masih histeris. Tak lama, satu-persatu anak-anaknya mendekat. Tentu saja mereka sangat marah padaku sebab mengira semuanya karena aku meski sebenarnya aku tak pernah bermaksud begitu.
"Tante jahat!" Sabrina yang biasanya masih bisa bersikap manis ikut-ikutan marah. Mereka berempat menuntun ibunya yang masih histeris menuju kamarnya di lantai dua.
"Mbok, kenapa semuanya jadi begini?" aku merasa semakin lemas. Tubuhku sampai kembali jatuh ke lantai, untung saja Mbok Asih sigap menampung. "Ya Allah, aku benar-benar bingung. Apa iya aku jahat, egois, perusak rumah tangga orang lain?"
"Bu ... Ibu jangan begini. Ibu harus tegar, demi anak di dalam kandungan ibu." Pinta mbok Asih, sambil mengusap pelan punggungku. "Ibu nggak salah apapun. Bukan ibu yang masuk dalam keluarga ini, tapi mereka yang mengajak ibu. Jadi ibu jangan menyalahkan diri sendiri. Ibu juga berhak bahagia setelah pengorbanan yang ibu lakukan selama ini."
"Tapi ... mbak Ayu nggak suka dengan kehadiran bayi ini," aku terisak. "Mbok dengar sendiri, kan. ia bahkan melarang saya memberitahu mas Ilham!"
"Ini kan anak ibu dan pak Ilham, Bu Ayu tidak berhak mengatur apapun mengenai anak ini karena ia bukan orang tuanya. Ibu nggak usah ambil pusing, lakukan saja apa yang menurut ibu benar. Yang penting ibu bahagia, itu juga berpengaruh ke calon bayi ibu."
__ADS_1
"Saya benar-benar seperti memakan buah simalakama, mbok. Semua yang saya lakukan salah. Saya hanya boleh diam mematung di sini, seperti pajangan.. itupun pajangan yang gak dianggap. Hanya dibeli untuk kembali disimpan saking nggak berharganya."
"Jangan begitu, Bu. Pak Ilham tak mungkin menganggap ibu seperti itu. Kalau Bu Ayu bersikap seperti itu, ya dimaklumi saja Bu. Bu Ayu itu sakit, ia juga posisinya adalah madu ibu. Jadi wajar kalau ia suka cemburu pada ibu. Apalagi ...."
"Apa mbok?"
"Bu Ayu juga ingin punya anak banyak seperti keinginan pak Ilham, tapi Bu Ayu sudah tidak bisa memberikan keturunan lagi karena kesehatannya tidak memungkinkan. Itu saja saat mas Ibed lahir, Bu Ayu benar-benar berjuang hidup dan mati."
Ya Allah. Aku langsung hemetar mendengar cerita dari mbok Asih. Satu sisi kasihan melihatnya, tapi di sisi lain, akupun tak bisa memungkiri kalau aku ingin juga mendapatkan hakku sebagai istri mas Ilham. Apalagi saat ini ada calon anak kami yang Allah titipkan.
"Sebaiknya ibu beritahu pak Ilham segera agar semuanya jelas." usul Mbok Asih.
Aku mengikuti nasihat mbok Asih untuk menghubungi mas Ilham. Ia segera pulang setelah ku beritahu tentang konymbak Ayu.
Satu jam kemudian, mas Ilham sampai di rumah. Ia langsung menanyakan tentang perkembangan mbak Ayu. Tak banyak informasi yang bisa kuberikan karena memang sejak dibawa ke atas, aku tak lagi diberitahu apa-apa. Semuanya dihandle oleh anak-anak.
"Kenapa Ayu kembali sakit? Kalian nggak berantem lagi, kan?" tanya mas Ilham, sembari menyusuri anak tangga, sementara aku mengikuti dari belakang.
"Ya, kami berantem lagi." jawabku.
"Kenapa?" Mas Ilham berbalik melihatku. Ia yang tiba-tiba berhenti membuatku hampir menabraknya.
"Abi!" Hana yang berdiri di tangga paling atas memanggil hingga percakapan kami terhenti.
"Ya sayang, bagaimana dengan umi?" mas Ilham langsung teralih pada anaknya, membiarkan aku sendiri berdiri di tangga.
__ADS_1