
Rumah itu meskipun besar namun terasa sunyi. Tak ada suara siapapun. Padahal menurut cerita Farid dan juga dari keterangan Uni Dewi, mbak Ayu dan mas Ilham sudah punya lima orang anak. Apa jangan-jangan mereka belum pulang, mengingat tadi mbak Ayu mengatakan akan menjemput anak-anaknya yang dititipkan pada mertua saat mereka berada di Padang.
Aku jadi kepikiran, kalau mbak Ayu mau ketemu mertuanya, kenapa tidak sekalian mengajakku, mengingat aku kan sekarang juga istrinya mas Ilham. Berarti mertua mbak Ayu juga mertuaku.
"Bu Mila, kan?" tiba-tiba seorang perempuan paruh baya menghampiriku.
"Iya," jawabku.
"Saya mbok Asih, yang kerja di rumah ini. Tadi Bu Ayu menyuruh saya menyambut Bu Mila."
"Mbak Ayu belum pulang?"
"Belum Bu. Sekarang kita masuk ya." Mbok Asih membantu membawa tas milikku. Ia berjalan duluan sambil sesekali melihat ke belakang, memastikan bahwa aku mengikuti langkahnya.
"Kalau mas Ilham, belum pulang, Mbok?" tanyaku, basa-basi.
"Belum Bu. Belum ke rumah sejak ...." ia melirik ke arahku.
"Oh ya. Tadi dari hotel kata mbak Ayu, mas Ilham mau ke yayasan dulu."
Baru sampai di depan pintu rumah, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di halaman. Tak jauh dari kami. Turun empat orang anak diikuti oleh mbak Ayu yang menggendong seorang anak yang lebih kecil.
"Nah itu Bu Ayu sudah sampai." ungkap Mbok Asih.
"Eh iya." jawabku. Sambil tersenyum ke arah mereka yang baru datang. Satu-persatu wajah itu ku pandangi. Wajah lima orang anak-anak mbak Tau dan mas Ilham. Mereka terlihat menggemaskan, wajahnya tampan dan cantik, persis ayah dan ibunya.
"Baru sampai, Mil?" tanya mbak Ayu.
"Iya mbak. Ini anak-anak semua, mbak?" tanyaku, sambil melempar senyum pada anak-anak, berharap mendapatkan balasan yang sama, namun semuanya mematung. Ada yang memandangku dengan tatapan aneh, ada yang membuang muka. "Siapa saja ini namanya?" aku mencoba mengakrabkan diri. Pada yang paling besar, aku mengulurkan tangan, tapi tak ada balasan.
"Mbok, antar Mila ke kamarnya." kata mbak Ayu.
"Oh ya, Bu." Mbok Asih mempersilahkan aku kembali.
__ADS_1
"Eh, mau kemana mbok?" tanya mbak Ayu.
"Ke kamar tamu kan, Bu?" tanya mbok Asih.
"Kenapa ke kamar tamu? Mila kan bukan tamu. Ke kamar belakang saja." kata mbak Ayu.
"Kamar belakang? Kamar bekas Mirna, Bu?" tanya mbok Asih.
"Iya!" tegas mbak Ayu, lalu ia berlalu bersama kelima anaknya. Meninggalkan aku dan mbok Asih.
"Ya sudah. Ayo Bu." Mbok Asih mengajakku kembali masuk ke rumah besar itu.
Kami melewati ruang tamu bernuansa putih. Ruang tamu yang benar-benar megah dengan kursi besar dan juga keramik serta bunga-bunga meski bukan asli tapi terlihat cantik sekali. Setelah itu kami melewati ruang makan dengan meja makan panjang yang tak kalah menakjubkan, masih dengan nuansa putih. Lalu kami melewati ruang keluarga, hingga kemudian melewati dapur yang ukurannya tiga kali lebih besar dari gubukku.
"Nah ini kamarnya Bu." ucap mbok Asih yang masih terlihat kebingungan.
"Kenapa mbok?" tanyaku. Sambil membuka kamar tersebut. Di sana ada tempat tidur berukuran cukup besar, sebuah lemari kayu besar, kursi dan meja dengan kaca besar.
"Enggak, mbok cuma bingung saja. Kenapa ibu Mila tidur di sini, kan ibu istrinya pak Ilham juga sekarang."
"Ini kan kamar ...." ia tampak ragu.
"Kamar apa?"
"Kamar pembantu yang lama, Bu. Harusnya kan ibu ditempatkan di kamar tamu saja. Bu Ayu kenapa sih?"
"Sudah, enggak apa kok mbok. Di sini juga sudah cukup. Di gubuk saya, malah saya nggak punya kamar sendiri sebab di sana kamarnya cuma ada satu dan itupun ukurannya jauh lebih kecil dari ini, enggak ada kasurnya juga. Padahal yang tidur di sana cukup banyak. Ada anak saya, ibu saya, kakak ipar hingga keponakan saya."
"Ya tapi kan, Bu ...."
"Sudah, enggak apa-apa kok Mbok..enggak usah dibahasakan lagi. Tapi, ngomong-ngomong, yang tadi itu anak mbak Ayu semua, kan?"
"Iya Bu."
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, namanya siapa saja ya? Tadi sebenarnya mau kenalan, tapi ...."
"Ibu jangan dimasukkan ke hati sikap anak-anak tadi. Sebenarnya mereka anak-anak baik, mungkin belum siap saja punya ibu baru. Maaf ya Bu,"
"Iya, enggak apa-apa kok Mbok, saya juga ngerti. Saya juga punya anak. Sebagai seorang ibu pasti lebih mementingkan perasaan anak-anak. Ya kan mbok?"
"Iya sih Bu. Tadi itu namanya, yang pertama mas Iqbal, sekarang sudah SMP, kelas tiga. Anak kedua namanya mas Asad, sudah kelas satu SMP..Yang ketiga namanya mbak Hana, kelas enam SD. Yang keempat mbak Sabrina, sekarang kelas tiga SD. Sementara yang paling kecil itu namanya mas Ibed, masih dua tahun."
"O begitu."
"Kalau ibu mau kenalan, mending dekati mbak Sabrina duluan karena anaknya sebenarnya baik dan cepat akrab sama orang lain. Kalau yang lain sih memang lebih pendiam seperti pak Ilham."
"Ya ya ya. Nanti saya coba kenalan sama Sabrina."
"Nah, anak Bu Mila sendiri dimana?"
Ingatanku langsung tertuju pada Yumna. Putriku satu-satunya yang selalu ramah pada orang lain..ahhh, baru berpisah sehari saja rasanya sudah begitu rindu.
"Ada mbok, di kampung." jawabku. "Maaf mbok, saya masuk ke kamar dulu. Ada hal penting yang mau saya lakukan." kataku
"Oh ya Bu. Kalau ada apa-apa, saya biasanya ada di dapur atau ke kamar saya saja. Sebelah kamar mandi ini." mbok Nah menunjukkan kamar yang terpisah dengan kamar mandi yang berada di sebelahku. Aku mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Yumna. Ya, sekarang aku ingin meneleponnya. Aku ingin tahu kabar gadis kecilku itu setelah seharian tidak bertemu dengannya. Apakah ia juga merindukanku? Apakah Yumna masih menangis mencari atau jangan-jangan ia marah karena aku tinggalkan.
Dalam Hp itu hanya ada satu nomor yaitu nomor Hp yang kini dipegang keluargaku. Sepertinya mbak Ayu yang memasukkannya. Tidak terlalu sulit bagiku untuk memahami penggunaan Hp ini karena masih ada kotak dan kertas petunjuknya.
"Umi .... !" seru Yumna dari pulau seberang. Ia melambaikan tangan sambil sesekali mencium layar Hp seolah tengah menciumi aku. Yumna terlihat ceria, ia tak lagi menangis seperti kemarin saat aku tinggalkan. "Na kangen Umi. Pengen ketemu sama Umi. Umi cepat pulang ya!"
"Iya sayang, Umi juga kangen sekali sama Yumna. Na sudah makan?"
"Sudah. Umi kemarin naik pesawat ya? Nanti Na diajak naik pesawat ya Mi? Na kan juga pengen tahu rasanya naik pesawat. Umi senang ga bisa terbang tinggi?"
Hampir setengah jam aku dan Yumna bercakap-cakao..rasanya waktu berlalu begitu cepat. Aku benar-benar bersyukur punya Hp karena bisa berbicara dengan Yumna. Jarak yang jauh tak lagi menghambat untuk bisa berkomunikasi.
__ADS_1
Na ... Umi akan segera menjemput Yumna. Umi janji, kita akan segera berkumpul.