MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
LIBURAN BERSAMA


__ADS_3

Sudah dua jam sejak ibu pergi ke rumah mbak Ayu. Aku dan Yumna menunggu di rumah ibu. Kami menghabiskan waktu di kamar. Sementara aku hanya berdiri di depan jendela sambil menatap jauh ke depan, sementara Yumna asyik menonton televisi dengan layar lebar yang tersedia di kamar.


Sedang apakah mereka di sana?


Pertanyaan itu menggelitik benakku. Apakah semua baik-baik saja? Apakah ibu bisa berdamai dengan mbak Ayu. Rasa-rasanya aku ingin menelepon ibu atau mas Ilham, untuk sekedar bertanya apakah semuanya berjalan seperti yang diharapkan. Tapi mengingat mbak Ayu begitu membenciku, makanya ku putuskan untuk menanti saja hingga salah satu dari mereka menghubungiku.


"Umi sedang mengintip apa?" tiba-tiba Yumna sudah berdiri di sampingku. Ia ikut membuka sedikit tirai, lalu menutupnya kembali. "Tak ada apa-apa." gumamnya.


"Ya memang tak ada apa-apa. Memangnya Yumna kira ada apa?" aku balik bertanya.


"Kirain Umi lagi ngelihatin ada yang datang,"


"Sudah selesai menontonnya?"


"Bosan."


"Lho, tadi katanya senang karena bisa nonton TV."


"Senangnya kalau ada teman, kalau sendiri ternyata bosan juga. Na kangen mbak Sabrina dan mbak Hana. Kapan kita pulang ke rumah besar?"


"Memang Na nggak suka di sini? Kan rumahnya lebih besar. Kamar yang disediakan nenek untuk kita ada televisinya juga."


"Tapi nggak ada temannya nggak enak, Mi. Kira-kira mbak Sabrina sama mbak Hana kangen Na juga nggak ya?"


"Mereka sedang kumpul keluarga, nak."


"Kumpul keluarga, kenapa kita nggak ikut? Kata Umi, kita kan bagian dari keluarga itu?"


Aku tersenyum. Untuk sekarang sayangnya belum bisa bergabung bersama. Semoga nanti mbak Ayu bisa menerima kami. "Ya sudah, sekarang kita nonton berdua yuk. Umi yang menemani Yumna." ajakku. Wajah Yumna yang sempat menyiratkan kesedihan karena ia merasa tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga langsung berubah ceria karena ajakanku.


Kami berdua menonton siaran televisi pilihan Yumna. Entah berapa lama aku menemaninya, lalu tertidur di samping Yumna. Sejak hamil ini aku memang sering di serang rasa kantuk, apalagi kalau sedang tidak punya kegiatan.


***

__ADS_1


Suara pintu di ketuk membangunkan aku. Saat hendak bangkit, rupanya Yumna juga ikut tertidur di sampingku. Sebenarnya malas sekali untuk bangkit, tapi suara ketukan belum juga berhenti. Mungkin itu pembantu yang bekerja di rumah ibu. Tak ingin suara ketukan itu membangunkan Yumna, makanya aku segera bangkit.


Begitu pintu di buka. Tampaklah Sabrina dan Hana di barisan depan, sedangkan di belakangnya ada mbak Ayu. Aku sampai mengucek mata dan mencubit lengan untuk memastikan bahwa yang datang itu beneran mereka dan nyata, bukankah mimpi.


"Mbak Ayu?" Kataku.


"Umi Mila, Yumna mana?" tanya Sabrina yang terlihat sudah tidak sabaran, ia bahkan mengintip ke dalam kamar.


"Ada, di dalam sedang tidur." kataku, sambil memberi jalan untuk Hana dan Sabrina masuk. Setelah dia kakak beradik itu masuk, barulah aku beralih kepada mbak Ayu. "A ... ada apa, mbak?" tanyaku.


"Harusnya aku yang tanya. Kamu ada apa, kok pergi nggak bilang-bilang?" tanya mbak Ayu.


Oh, itu. Maaf mbak. Tadi mau pamitan, tapi mbak dan yang lainnya masih di dalam kamar masing-masing, makanya saya putuskan pergi saja. Toh perginya nggak kemana-manw, melainkan hanya ke rumah ibu." kataku.


"O begitu."


"Ini; mbak, Hana dan Sabrina kenapa ada di sini?"


"Ada yang lain juga."


"Ada di luar Mil. Mas Ilham, Tante Sila, ibu dan anak-anak yang lain. Mereka di dalam mini bus lagi nungguin kita."


"Nungguin kita?"


"Ya."


"Maksudnya bagaimana, mbak?"


"Kami berencana pergi jalan-jalan ke puncak, Mil."


"Wah ... selamat berlibur ya Mbak "


"Ibu, tante Sila juga ikut. Selain itu, aku ke sini juga mau jemput kamu. Aku ingin kita pergi bersama. Kamu dan Yumna juga."

__ADS_1


"Hah? Tapi mbak ...."


"Udah, nggak pakai tapi-tapi. Mending sekarang siapin pakaian ganti. Kita nginapnya cuma semalam kok karena lusa mas Ilham sudah ada agenda penting. Jadi kamu sekarang buruan siapin pakaian kamu dan Yumna. Kasihan ibu dan Tante Sila kalau kelamaan nungguin kita." ajak mbak Ayu lagi.


Rasanya seperti mimpi, ketika terbangun, tiba-tiba mbak Ayu datang menjemputku. Tak hanya itu, kami bisa pergi bersama. Entah kenapa aku berharap ini benar-benar tulus dari hatinya bisa akur bersama-sama.


Perjalanan menuju puncak diisi dengan celoteh riang Yumna, Sabrina, Hana dan Ibed. Iqbal dan Asad memilih tidur, sementara Bu Sila dan Ibu bercakap-cakap berdua. Mas Ilham menyetir mobil. Aku dan Mbak Ayu duduk di bangku ketiga sembari mengawasi anak-anak. Kami benar-benar seperti keluarga yang akur, tak terlihat ada masalah sebelumnya.


Sebenarnya banyak hal yang ingin aku ketahui. Tapi tidak tahu harus bertanya pada siapa dan tak ingin juga merusak suasana. Makanya, meski benakku dipenuhi banyak tanya, ku putuskan untuk menikmati kebersamaan ini dalam diam.


***


Meskipun agenda liburan ke puncak ini di laksanakan secara dadakan. Tapi terasa sangat sempurna. Begitu sampai di sana, kami langsung disuguhi aneka cemilan dan minuman yang enak-enak. Anak-anak lanjut berenang, smenetara para orang tua ngobrol santai. Tema pembicaraan kami adalah tentang rencana pemilihan ketua yayasan. Bu Sila menyatakan dukungan penuhnya untuk mas Ilham karena merasa mas Ilham sudah pantas menjadi ketua yayasan.


"Makanya Ham, mulai sekarang persiapkan pidato penyambutan karena Tante sudah memastikan kamulah yang akan menjadi ketua yayasan." kata Bu Sila


"Terimakasih atas dukungannya, Tante. Tapi biar para anggota dewan saja yang menentukannya nanti. Saya siap dengan segala keputusan mereka. Tante tak perlu repot-repot membuatkan memo. Kalau saya memang sudah pantas jadi ketua yayasan, harusnya tanpa suara dari tanye, mereka akan memilih saya." jawab mas Ilham.


Tak hanya membicarakan masalah pemilihan ketua yayasan. Ibu dan mbak Ayu juga sudah membaur. Mereka bahkan sudah bisa saling bercanda layaknya mertua dah menantu kebanyakan. Aku sampai senyum-senyum sendiri melihat keakraban yang muncul antara mereka. Berulang kali aku mengucapkan syukur, akhirnya mereka bisa sama-sama menekan egonya.


***


"Terimakasih ya Mil," kata mbak Ayu, sebelum kami berpisah menuju kamar masing-masing.


"Terimakasih untuk apa, mbak?" tanyaku.


"Aku tahu kok Mil, kamu sudah berusaha keras membuatku kembali dekat dengan ibu dan Tante Sila. Kamu juga yang membujuk mas Ilham untuk mau menerimaku kembali. Pokoknya terimakasih banyak. Aku berhutang banyak padamu."


"Mbak nggak berhutang apa-apa. Mbak kan pernah bilang kalau saya sudah dianggap seperti adik mbak sendiri. Bukankah sudah seharusnya seorang adik memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan kakaknya."


"Mila!" Mbak Ayu langsung memelukku erat, aku bisa merasakan ia amat terbawa emosi hingga meneteskan air mata. "Salahku terlalu banyak sama kamu, Mil. Aku sudah begitu jahat, tapi aku benar-benar menyesal, Mil."


"Saya tahu mbak nggak bermaksud begitu. Saya yakin mbak Ayu sebenarnya orang yang sangat baik. Makanya saya bisa

__ADS_1


memahaminya. Sekarang, ayo kita lupakan semuanya mbak, kita mulai lagi dari awal. Kita sama-sama berusaha jadi istri yang baik untuk mas Ilham."


Aku dan Mbak Ayu kembali saling berpelukan. Kali ini aku sangat yakin kalau mbak Ayu benar-benar tulus. Ia sudah berubah


__ADS_2