
Aku masih berdiri sendiri di depan lobi hotel ketika akhirnya seseorang memanggil namaku. "Mbak Mila?" tanya seorang lelaki yang mungkin usianya sepantaran denganku, atau bisa juga lebih muda. "Saya Farid, supirnya pak Ilham dan Bu Ayu." katanya, sambil menundukkan kepala.
"Oh ya. Saya Mila." aku menautkan kedua tangan ke depan.
Pagi-pagi sekali, mbak Ayu dan mas Ilham sudah pergi meninggalkan hotel. Kata mbak Ayu, mas Ilham ada urusan mendadak, sementara ia sendiri harus menjemput anak-anaknya yang dititipkan selama ia dan mas Ilham ke Padang untuk melangsungkan lamaran dan pernikahan.
Sebenarnya aku ingin langsung ikut dengan mbak Ayu saja, tapi ia tidak mengajak, malah menyuruhku menunggu di lobi hotel. Katanya akan ada yang menjemput nantinya. Terdengar agak repot sebenarnya, tapi lagi-lagi, sebagai orang baru aku tak bisa protes, harus mengikuti seperti apa yang dikatakan oleh mbak Ayu.
"Mau pulang sekarang, mbak?" tanya supir itu, membuyarkan lamunanku.
"Oh ya." Aku mengangguk. Ia mengambil tasku, lalu berjalan duluan menuju sebuah mobil yang lagi-lagi aku tak tahu jenisnya. Hanya tahu bahwa warnanya hitam, terlihat mahal sebab bentuk dan juga AC yang cukup dingin. Sejak pertama menginap di hotel Padang, lalu hotel yang sekarang, aku memang merasa agak alergi dengan AC. Aku yang terbiasa tanpa pendingin ruangan merasa agak teganggu ketika harus memakainya.
Kira-kira akan pulang kemana?
Tiba-tiba pertanyaan itu muncul di benakku. Sebenarnya ada banyak tanya yang muncul, namun sejak awal aku selalu berusaha menepisnya.
Tentang, kenapa mas Ilham tak pernah mendatangi ataupun bicara denganku padahal kami sudah menikah? Apakah ia segan dengan keberadaan mbak Ayu.
Lalu, sekarang ini aku akan tinggal dimana? Mengingat mas Ilham pun tak pernah membicarakan hal ini selain mengatakan bahwa kami akan tinggal di Jakarta, tapi secara spesifik tidak dikatakan apakah terpisah atau menyatu?
Ahhh, rasa-rasanya tidak mungkin satu atap dengan mbak Ayu. Meski ia yang mempertemukan aku dan mas Ilham, tapi ia kan juga wanita yang punya perasaan sensitif.
Aku menggelengkan kepala agar pikiran-pikiran itu segera hilang dengan cara mengalihkan perhatian pada pemandangan gedung-gedung yang ada di jalanan.
__ADS_1
"Suka lihat gedung tinggi ya, mbak?" tiba-tiba Farid bertanya. Ia kembali membuyarkan lamunanku.
"Hah, iya. Baru pertama kalinya melihat gedung tinggi. Jadinya masih terpesona begitu. Saya norak ya? Harap maklum, saya dari kampung." Kataku, sambil tersenyum malu.
"Nggak apa-apa mbak. Saya juga dari kampung. Memang, gedung-gedung tinggi ini selalu bisa menghipnotis orang-orang yang menatapnya." jawab Farid.
"Oh begitu ya. Memang mas Farid sudah lama bekerja dengan mbak Ayu?"
"Baru enam bulanan, mbak. Kebetulan saya ini masih satu kampung sama pak Ilham. Beliau berbaik hati menampung bahkan memberikan bea siswa agar saya bisa melanjutkan kuliah di Jakarta."
"Oh ya? Wah berarti mas Ilham baik sekali ya."
"InsyaAllah baik mbak."
"Mas Ilham dan mbak Ayu kerja dimana?" tanyaku.
"Pak Ilham kerja di yayasan, mbak. Saat ini sedang mencalonkan diri sebagai ketua yayasan. Kalau Bu Ayu seorang konsultan." jelas Farid.
"Oh," aku mengangguk-anggukkan kepala. "Berarti mbak Ayu sibuk sekali ya?"
"Ya begitu mbak. Bu Ayu kan pemilik perusahaan besar di Jakarta ini. Nanti kita akan melewati gedung miliknya." seperti yang dijanjikan oleh Farid, saat kami melewati sebuah gedung bertingkat yang juga menjulang tinggi, ia menjelaskan bahwa itu adalah milik mbak Ayu.
Kalau mbak Ayu sudah sesempurna ini, kenapa harus menikah lagi?
__ADS_1
Pertanyaan itu kembali menggelitik benakku. Memiliki seorang istri yang cantik, kaya raya, berpendidikan tinggi serta punya banyak keturunan, kenapa juga harus menambah istri baru? Apa alasannya? Lalu kenapa mencari perempuan biasa yang jauh sekali dibandingkan istri pertama. Rasa-rasanya aku ingin sekali tahu semua jawabannya, namun semua kembali harus ditahan karena aku tak ingin sembarang bertanya pada Farid yang belum tentu juga tahu jawabannya sebab ia hanya seorang supir di rumah mas Ilham.
Mobil yang dikemudikan Farid masuk ke kawasan perumahan mewah yang biasanya hanya bisa kulihat lewat televisi tetangga. Untuk masuk kami harus melewati pos penjaga.
"Bawa siapa Rid?" tanya salah seorang satpam. "Calon pembantu?"
"Astagfirullah, bukan. Ini istri kedua pak Ilham, namanya mbak Mila." jelas Farid.
"Astagfirullah, maaf ... maaf mbak. Eh, maksud saya Bu. Maaf Bu." dari balik jendela, satpam itu berulang kali menundukkan kepalanya.
Aku hanya melempar senyum. Mengatakan tak mengapa. Aku tak tersinggung dengan kata-katanya barusan sebab itu penilaiannya. Wajar saja sebab aku datang memakai gamis yang terlihat sudah lusuh. Bila dibandingkan mbak Ayu rasa-rasanya memang seperti majikan dan pembantunya.
Mobil kembali berjalan memasuki kawasan perumahan. Farid yang mendengar satpam tadi ikut meminta maaf padaku. Tapi aku menjawab tenang. Tak tersinggung sedikitpun.
"Kita sudah sampai, mbak." ungkap Farid.
Mobil berhenti sesaat di depan sebuah rumah besar. Saking besarnya aku sampai melongo. Farid membunyikan klakson, tak lama dua orang satpam langsung membukakan gerbang setinggi dua meteran. Mobil kembali berjalan menuju halaman rumah. Halaman yang sangat asri dipenuhi oleh tumbuhan berwarna hijau. Di tengah-tengah ada kolam dan air mancur. Halamannya benar-benar tertata dengan sangat sempurna.
"Silakan mbak," Farid membukakan pintu.
"Ini rumah atau istana?" Aku bertanya pada Farid dengan tatapan tak lepas dari bangunan di hadapanku. Benarkah ini rumah mbak Ayu dan mas Ilham. Berarti mereka kaya sekali. Tapi pantas saja sebab mbak Ayu saja punya gedung perkantoran yang begitu tinggi. Lalu, apakah aku akan tinggal di sini juga? Sebelum masuk ke dalam, aku menarik nafas panjang, mempersiapkan diri sebelum melihat kejutan berikutnya. Ada kemewahan apalagi yang akan tersaji?
Tidak terbayangkan bagaimana reaksi kedua orang tua, Uni Siti, keponakanku dan pastinya Yumna saat melihat rumah semewah ini. Mereka pasti sangat takjub, sama sepertiku. Kini aku semakin paham kenapa disebut pembantu oleh satpam di depan. Rasanya memang lebih pantas jadi pembantu dari pada jadi nyonya kedua di rumah ini. Tiba-tiba aku ingin tertawa mengingat nasib hidupku. Meski belum tahu akhirnya, rasanya ini seperti mimpi. Orang semiskin aku, yang biasanya tinggal di gubuk sempit dengan banyak penghuninya, sekarang menjadi bagian dari keluarga kaya raya. Kira-kira, kalau orang-orang di kampung melihat ini semua, apa mereka akan semakin menjadi mengatakan bahwa aku gila harta makanya mau menjadi istri kedua?
__ADS_1