MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
PETUAH IBU


__ADS_3

Tiga hari penuh bersama mas Ilham, ku pastikan kalau akupun sudah punya perasaan yang sama padanya. Kami sama-sama saling jatuh cinta. Benar apa kata pepatah, cinta bisa muncul karena kebersamaan, meski hanya tiga hari.


Sebelum kembali pulang, mas Ilham mewanti-wanti agar ke depannya aku bersabar menjalani semuanya. Ia berjanji akan berusaha bersikap adil, termasuk dalam memberi nafkah lahir dan batin untuk dua istrinya sebab ia takut kelak dibangkitkan kembali dalam keadaan bagi miring karena beristri le ih dari satu tapi tidak adil.


"Juga satu lagi, berjanjilah untuk selalu berada di sisi saya. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan saya meski mungkin kamu lelah." pinta mas Ilham, sembari menggenggam erat tanganku.


Kami kini sudah berada di perjalanan pulang. Semakin dekat menuju rumah, rasanya semakin deg-degan. Khawatir gambaran yang diberikan mas Ilham itu terjadi, ketika mbak Ayu kembali berusaha membuat benteng pembatas antara aku dan mas Ilham. Tapi lagi-lagi ku ingat kan diri sendiri, apalagi mas Ilham sudah janji akan berusaha tetap adik. Ia adalah pemimpin kami berdua, aku yakin ia akan adil.


"Abi sudah pulang?" senyum Hana terkembang saat membuka pintu. Tapi senyum itu hilang saat melihatku berada di belakang ayah mereka. Wajahnya yang menggemaskan langsung cemberut.


"Assalamualaikum," sapaku. Tak ada satupun yang menjawab.


"Masuk Mil, bagaimana liburannya? Suka?" tiba-tiba ibu mertua muncul. Ia menyambut kedatanganku. "Kamu pasti lelah, istirahatlah dulu." kata ibu sembari menepuk pelan punggungku.


Di barisan yang menyambut kedatangan kami, maksudku yang menyambut kedatangan mas Ilham, hanya ada kelima anak-anak, sementara mbak Ayu tak tampak di sana. Apakah ia masih marah? Kemanakah mbak Ayu?


"Mil, kamu mau kemana?" Tanya ibu lagi, saat aku hendak melangkah menuju kamar belakang.

__ADS_1


"Ke kamar, Bu." Aku menunjuk arah belakang.


"Mulai sekarang kamu tidur di kamar tamu saja dulu. Nanti setelah makan malam, ibu ingin bicara dengan kalian bertiga." tegas ibu sembari berlalu menuju kamarnya.


Ternyata selama menginap di puncak, barang-barang milikku sudah dipindahkan ke kamar tamu yang tentunya lebih luas dan ada kamar mandi dalamnya. Kata mbok Asih, ia yang memindahkan atas perintah ibu mertua.


***


Setelah beberapa jam sampai di rumah, akhirnya aku bisa melihat mbak Ayu. Ia ikut duduk bersama aku, ibu dan mas Ilham. Dari wajahnya, tak tampak kalau mbak Ayu marah, ia terlihat tenang dengan raut wajah sedikit lelah, katanya efek bergadang. Beberapa hari ini Ibed rewel. Mendengar itu aku jadi merasa bersalah, jangan-jangan mbak Ayu menelepon meminta kami pulang bukan karena tak ingin aku bersama mas Ilham, tapi karena ia kewalahan menghadapi Ibed yang memang sedang memasuki fase sering tantrum.


"Sebelum ibu pulang, ibu hanya ingin berpesan pada kalian bertiga untuk menjalani kehidupan rumah tangga ini dengan baik. Ibu tak mau ada yang zolim dan terzolimi. Ini adalah pilihan kalian bertiga. Kalian sudah dewasa dan sudah tahu bagaimana konsekuensinya. Jadi tolong, bersikap adillah satu sama lain!" kata ibu. "Ilham, ibu berharap agar dalam waktu dekat kamu mencarikan Ayu pengasuh untuk membantu Ayu mengasuh Ibed." tambah Ibu.


"Jangan menolak, Yu. Ibu tahu kamu kewalahan, apalagi kamu harus bekerja. Rasanya terlalu zolim jika kemana-mana kamu membawa Ibed, kasihan juga dia. Ibed masih kecil, tak baik juga dititip ke sana kemari pada orang yang berbeda-beda. Itu akan menghambat masa pertumbuhannya." ujar Ibu.


"Atau saya bisa titipkan Ibed pada Mila," usul Mbak Ayu.


"Tidak usah. Dalam waktu dekat, ibu harap Mila sudah tinggal di rumah sendiri." jelas ibu.

__ADS_1


"Maksudnya bagaimana Bu?" mbak Ayu menatapku, mencari jawaban untuk sesuatu yang aku pun tidak tahu.


"Sebaiknya kalian tidak tinggal satu atap, akan sangat rawan sekali para istri tinggal di rumah yang sama apalagi Ayu dan Mila sebenarnya belum saling mengenal karakter masing-masing, jaga-jaga menghindari kesalahpahaman." jawab ibu. "Untuk tempat tinggal, ibu akan siapkan rumah untuk Mila. Nanti ada kontrakan dekat rumah yang bisa ditempati. Bagaimana?"


"Ta ... tapi Bu, kenapa harus pisah tempat tinggal? Mila bisa tinggal di sini. Rumah ini cukup besar untuk kami bersama. Iya kan Mil?" mbak Ayu meminta persetujuan dariku. "Lagipula Mila masih baru di ibukota, ada banyak hal yang ia belum tahu, kehidupan di kampung dan di kota berbeda jauh. Kasihan Mila, Bu." sanggah mbak Ayu. "Aku tidak tega jika Mila harus menjalani hidup berjauhan dari kami. Mungkin memang ada ibu, tapi apa ia tidak sungkan? Jangan sampai terjadi hal-hal di luar keinginan kita. Bagaimanapun kami bertanggung jawab pada orang tua Mila."


"Kamu tenang saja. Mila akan tinggal di salah satu rumah kontrakan milik ibu. Nanti ibu akan pinjamkan salah seorang pembantu di rumah ibu untuk menemani Mila hingga ia terbiasa. Toh Mila juga punya seorang putri, kan? Biarlah mereka mencoba memulai hidup baru. Ilham juga akan sering-sering melihatnya." jawab ibu lagi. "Mila tak perlu sungkan pada ibu, ia menantu ibu, sama seperti putri sendiri. Apanya yang perlu disungkan kan?"


"Bu, maaf. Tapi ini rumah tangga kami. Biarlah kami yang menentukan semuanya sendiri. Ibu tak perlu ikut campur apalagi sampai mengatur semuanya sedemikian rupa melebihi aku dan mas Ilham. Kami sudah sepakat kalau Mila akan tinggal di sini agar mas Ilham juga tak perlu repot-repot ke sana kemari." Mbak Ayu mencoba membantah keputusan ibu. "Lagipula saya masih membutuhkan Mila di sini untuk membantu mbok Asih dan menjaga Ibed. Jadi ibu tidak perlu lagi membuat rencana dalam rencana yang sudah kami atur!"


"Yu, kamu sadar tidak. Mila itu istrinya Ilham, bukan seorang pembantu yang bisa kamu atur sesuai keinginan kamu!" kata ibu tegas.


Akhirnya timbul juga perdebatan antara ibu dan mbak Ayu yang membuatku semakin mengerutkan kening mendengar pernyataannya menikahkan aku dengan suaminya agar ada yang membantu mbak Ayu mengurus anak-anak. Kalau ia butuh bantuan kenapa tidak menggunakan jasa baby sitter saja?


"Tolong, yang tidak berkepentingan jangan ikut campur urusan rumah tangga kami. Semua sudah diputuskan dan jangan diubah lagi!" ucap mbak Ayu dengan tegas, ia kemudian memutuskan untuk kembali ke kamar, meninggalkan kami bertiga.


"Apa ibu bilang, Ham. Kalian itu tidak siap dengan rumah tangga poligami. Seharusnya sebagai kepala keluarga kamu bisa tegas menolak. Kalau sudah begini mau bagaimana? Apa kamu nggak kasihan sama Mila?" ibu menggelengkan kepalanya, menyalahkan mas Ilham untuk keputusan yang sebenarnya ia pun menghabiskan waktu cukup panjang untuk membuatnya.

__ADS_1


Akibat perdebatan itu, mbak Ayu mengurung diri di kamar, sementara ibu pulang tanpa bicara sepatah katapun sebab ia begitu kecewa pada putra dan menantu pertamanya.


__ADS_2