MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
PERANG DINGIN


__ADS_3

"Bu, tadi ibu hanya dengar sedikit saja perdebatan aku dan Mila tapi ibu sudah langsung menyimpulkan bahwa akulah yang bersalah. Coba lihat dari sisi aku, Bu. Apa tidak wajar jika aku marah sebab Mila tak memberitahu kedatangan ibu. Ia membiarkan aku sibuk sendiri dengan teman-teman padahal aku pun juga menantu ibu." ungkap mbak Ayu. "Aku kesal Bu, makanya marah dan sampai berpikiran negatif pada Mila."


"Hingga menyuruhnya pergi dari kehidupan kalian?" tanya ibu. "Itu namanya jahat, Yu."


"Ya aku jahat Bu. Aku sangat jahat sekali. Puas ibu? Aku jahat karena aku pikir Mila akan mencari perhatian ibu, padahal akupun ingin dekat dengan ibu. Aku juga ingin melayani ibu, jadi menantu yang baik seperti Mila. Aku cemburu jika ibu dan mas Ilham terlalu dekat pada Mila ketimbang padaku. Apa itu salah, Bu? Padahal mas Ilham menjanjikan pernikahan kami akan selalu adil." tegas mbak Ayu.


***


Sudah dua hari orang-orang di rumah ini bersikap diam. Seperti sedang melakukan perang dingin. Sejak pertengkaran malam itu, mbak Ayu mengurung diri di kamarnya. Mas Ilham belum bicara sepatah katapun.


Sementara ibu memilih bertahan di rumah ini hingga mas Ilham membuat keputusan. Ibu memilih bertahan di kamarku.


Tentu saja perang dingin ini membuat anak-anak makin membenciku. Sikap mereka tak kalah dingin, terutama Hana. Ia selalu berusaha melakukan hal-hal yang membuatku kesal. Tapi aku berusaha menahan diri agar masalah tidak bertambah.


Ternyata menjalani kehidupan poligami memang tak mudah. Apalagi kalau harus tinggal satu atap.


Memasuki hari ketiga, akhirnya mas Ilham mengajakku berbicara. Ia mengajakku keluar rumah sebab tak nyaman jika harus membicarakan semuanya di sini.


Kami berdua pergi ke salah satu restoran yang menurutku sangatlah mewah di daerah Jakarta Utara. Mas Ilham yang memesankan menu karena aku tak paham jenis-jenis makanan yang disediakan di sini.


"Kamu tahu kenapa saya diam saja selama tiga hari ini?" tanya mas Ilham, setelah hidangan tersaji.


"Untuk membicarakan masalah kemarin?" tebakku.

__ADS_1


"Ya. Kamu benar Mil. Sejujurnya saya bingung harus memutuskan apa. Saya ...."


"Apa, mas?"


"Saya sulit untuk mempertahankan Ayu."


"Astaghfirullah, mas bicara apa sih? Mas, tolong istigfar dan janji nggak akan bicara seperti itu lagi. Mas ingat nggak sih, mas punya lima anak bersama mbak Ayu, ada Ibed yang masih kecil juga. Bagaimana kalau kalian berpisah, bisa-bisa mereka kehilangan sosok ayah."


"Semua itu tak akan terjadi. Saya akan berusaha selalu ada untuk anak-anak."


"Tapi tetap saja rasanya akan beda. Kalian biasanya bersama, tapi tiba-tiba harus berpisah. Seperti apapun mas berusaha selalu ada akan tetap berbeda untuk anak-anak. Mereka masih sangat butuh figur ayah dan ibu. Kalaupun ada yang harus pergi, itu benar adalah saya mas."


"Mil .... tolong jangan begitu. Saya tak akan bisa menghadapi semua ini tanpa dukungan kamu. Selama ini sebenarnya saya sudah goyah, Mil. Tapi saya coba bertahan hingga saya benar-benar rapuh. Begitu bertemu kamu, saya merasa hidup saya kembali bersemangat. Lalu kamu ingin pergi, sama saja membuat saya makin hancur!"


"Sudah Mil, tapi tak baik juga terlalu mencintai sesuatu secara berlebihan. Kita sudah memberinya satu kesempatan lagi tapi ia tetap tak berubah juga."


"Kata siapa, mas? Mbak Ayu berubah kok , dia ...."


"Kamu belum paham Ayu, Mil. Apa yang dikatakan Ibu benar. Ia menggunakan sakitnya sebagai tameng. Sikapnya manipulatif, supaya lawannya kalah secara mental juga dan itulah yang ia lakukan pada kamu sekarang."


"Saya nggak paham mas ngomong apa, tapi saya benar-benar nggak bisa kalau harus melihat kalian berpisah." rasanya selera makanku hilang. Kuputuskan untuk bangkit dari tempat duduk, lalu berlalu.


"Kamu mau kemana Mil?"

__ADS_1


"Mas makan saja dulu. Saya sudah nggak nafsu. Saya tunggu di mobil saja ya." aku kembali meninggalkan mas Ilham.


Pernikahan mbak Ayu dan mas Ilham enggak boleh berakhir. Aku nggak tega melihat anak-anak kehilangan sosok ayah mereka. Bagaimanapun aku akan berusaha menjaga bahtera mereka agar tetap bersatu.


Selesai dari restoran, mas Ilham tak membawaku pulang. Ia justru melaju menuju tempat lain yang akhirnya aku ketahui adalah apartemen milik mas Ilham. Tempat tinggalnya sebelum menikah dengan mbak Ayu. Apartemen yang tak terlalu mewah karena hanya terdiri dari satu kamar dengan perabotan seadanya.


"Beginilah kehidupan saya sebelum menikah dengan Ayu. Saya hanya laki-laki biasa yang hidup serba pas-pasan. Jika dibandingkan Ayu, kehidupan kami bak langit dan bumi. Tapi Ayu mengubah semuanya. Ia memanjakan saya dengan kemewahan yang sebenarnya tak saya minta. Ayu memang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk saya. Suatu hari saya pernah mengatakan padanya ingin punya anak banyak, mengingat saya dan dia sama-sama anak tunggal. Tahu apa yang dilakukan Ayu, ia berusaha memiliki banyak anak hingga akhirnya ia sakit. Dokter mengatakan setelah Ibed sebaiknya ia tak hamil lagi sebab Ayu sudah melakukan secar sebanyak lima kali. Kandungannya juga sebenarnya sangatlah lemah. Tapi Ayu tetap berusaha hingga kondisinya memburuk. Saya sebenarnya berhutang banyak padanya, Mil. Sekarang saya semakin menyadari bahwa sayapun hanya jadi beban untuknya. Ia tak benar-benar bahagia di sisi saya sebab saya tak becus sebagai suami." mas Ilham menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Kini perasaaan itu sudah hilang, Mil. Saya harus bagaimana? Padahal sudah banyak luka yang saya torehkan di hatinya!"


"Mas," aku memeluk mas Ilham, membiarkannya berbaring di pangkuanku.


"Saya benar-benar lelah, Mil." mas Ilham menangis. Ini pertama kalinya aku melihat laki-laki menangis dan ku yakini ia pasti sangat tertekan sekali dengan semua masalah ini.


Sebenarnya mereka berdua sama-sama orang baik yang tak ingin menyakiti satu sama lain. Tapi sikap mbak Ayu membuat semuanya berantakan.


Entah apa yang harus ku katakan, yang jelas, mereka berdua sama-sama dalam posisi tidak nyaman. Aku tak berani mengatakan apapun sebab takut salah. Sebenarnya mereka berdua sama-sama tak ingin membebani siapapun, tapi keduanya sama-sama terluka.


"Mas dan mbak Ayu harus kembali bersatu," aku berbisik di telinga mas Ilham.


"Enggak bisa Mil, saya sudah tidak mencintainya," balas mas Ilham.


"Kalau begitu lakukan demi saya, mas." Pintaku.


Mas Ilham kini memelukku. Ia berbisik, memintaku untuk tetap berada di sisinya agar ia bisa bertahan bersama Ayu. Ia butuh seseorang untuk terus mendukungnya. Menguatkan saat benar-benar lelah dengan sikap mbak Ayu. Tanpa kami sadari, entah siapa yang memulai duluan, nyanyian cinta kembali terjadi untuk kedua kalinya.

__ADS_1


__ADS_2