
"Kamu takut, kan. Sita akan mengalahkan posisi kamu di hati, mas Ilham. Makanya kamu nggak mau mas Ilham menikah lagi. Iya kan Mila!" mbak Ayu menuduhku. "Mengakulah kalau kamu minder jika harus bersaing dengan Sita. Kamu yang bukan siapa-siapa, akan dengan mudah digantikan olehnya yang menjadi idola mas Ilham sejak masih sekolah!"
"Bukan masalah takut tersaingi, mbak. Untuk apa menikah lagi kalau rumah tangganya seperti neraka? Mbak sadar nggak sih, kita berdua saja penuh dengan kepalsuan. Sekarang jujurlah pada saya, mbak sebenarnya nggak bisa menerima saya, kan? Sikap mbak itu hanya pura-pura saja untuk mengelabuhi mas Ilham, tapi sebenarnya mbak tetap tak menginginkan berbagi suami dengan saya. Kalau itu saja sudah berat, lalu kenapa sekarang mbak ingin menambah madu baru. Mendatangkan badai yang jauh lebih hebat lagi. Sementara menghadapi badai ini saja kita sudah kepayahan. Jangan sampai pernikahan yang tujuannya untuk ibadah malah jadi ladang dosa untuk kita. Ingat mbak, jangan sampai kekesalan mbak pada saya malah berimbas pada anak-anak. Bersikap dewasalah!" kataku.
"Lho lho lho, kenapa kamu jadi menuduh aku yang bukan-bukan, Mil. Kita kan sudah berdamai. Jangan-jangan kamu yang nggak ikhlas memaafkan aku. Begitu, Mil?"
"Enggak usah mengelak atau berpura-pura lagi mbak. Di sini hanya ada kita berdua. Bersikap jujur saja, saya sudah dengar semuanya. Pembicaraan mbak dan teman-teman, mbak, bahwa yang akan mbak pertahankan hanya bayi yang sedang saya kandung, sementara saya akan segera mbak singkirkan. Begitu, kan?"
"Ka ... kamu!" mbak Ayu kaget mendengar pernyataanku. Ia tak pernah menduga kalau aku akan mengetahui semuanya. Wajahnya langsung merah padam. "Kamu nguping pembicaraan kami? Lancang sekali kamu Mila!"
"Mana yang lebih lancang, membicarakan orang di belakang dari pada mendengar pembicaraan yang dilakukan tanpa sengaja? Sampai kapan mbak akan terus bersandiwara? Apa mbak nggak iba dengan anak-anak? Mereka akan bingung melihat ibunya seperti itu! Mbak, Iqbal, Asad dan Hana itu sudah besar, sudah bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Mereka mengikuti kata-kata mbak bukan karena tahu mbak benar, tapi karena mereka bimbang, tak ingin mengecewakan ibunya. Jadi tolong jangan sakiti perasaan mereka.
Saya nggak peduli bagaimana hubungan mbak dengan mas Ilham. Saya hanya ingin mbak menjadikan anak-anak sebagai patokan sebelum bertindak sesuatu. Jikapun mbak nggak menginginkan saya sebagai madu, semuanya sudah terlanjur terjadi. Mau tidak mau, mbak harus menerima sebagai konsekuensi dari pilihan mbak sendiri." kataku.
"Tidak usah ikut campur urusanku, Mila. Kamu suka atau tidak, aku akan tetap mengajukan Sita sebagai calon istri ketiga mas Ilham. Sita sudah setuju, hanya tinggal bicara pada mas Ilham maka semuanya akan terjadi. Jadi, bersiaplah menyambut madu baru di rumah ini!" perempuan itu tersenyum, ketika ia hendak pergi, aku kembali menahannya.
"Apakah mbak sebegitu membenci saya? Sebegitu tidak percaya dirinya bersaing dengan saya?" tanyaku.
"Apa? PD sekali kamu! Kamu kira kamu sudah menjadi pemenangnya? Tidak Mila. Semua baru saja dimulai, jadi jangan kira dengan bisa dketa dengan ibu kamu sudah jadi pemenangnya. Kamu salah, aku tak bisa dekat dengan ibu karena memang aku yang tak ingin dekat dengannya sebab aku tak menyukai siapapun memiliki posisi melebihi diriku di hati mas Ilham. Termasuk ibunya. Juga kamu sekarang. Paham!"
__ADS_1
"Hehehe, lucu sekali mbak ini. Tidak ingin ada yang melebihi dirinya tapi sikap mbak justru menjauhkan diri mbak dari mas Ilham. Pertama, dengan sikap posesif itu. Kedua, membenci orang-orang yang disayanginya. Ketiga, sekarang hendak mendatangkan perempuan lain yang mbak sendiri tahu dia pernah punya tempat istimewa di hati mas Ilham. Itu sama saja mbak membuat jurang makin dalam dengan mas Ilham. Mikir dong, mbak. Lagian, sikap seperti apa itu, membenci orang-orang yang disayangi mas Ilham. Sakit!"
Plak. Sebuah tamparan dilayangkan mbak Ayu tepat di pipi kiriku. Mungkin ia tersinggung sebab ku katakan sakit. Tapi memang seperti itu yang aku rasakan. Bagaimana mungkin ia ingin memiliki hati mas Ilham hanya untuk dirinya sendiri, padahal ada orang-orang lain juga yang sudah hadir sejak dulu. Ini makin membuatku yakin bahwa mbak Ayu memang benar-benar sakit jiwa dan mentalnya.
"Kamu lancang!" Tuduhnya. Ia menunjuk wajahku dengan tangan gemetaran. Menunjukkan kalau emosinya sudah memuncak. Aku yakin ia semakin membenciku. Tapi semua perlu dijelaskan padanya supaya mbak Ayu tahu dimana letak kesalahannya. Terkadang seseorang perlu ditampar untuk mengetahui keburukannya, meski kadang ia sudah menyadarinya.
"Maafkan saya mbak, tapi semua demi kebaikan kita semua, teutama anak-anak. Saya melakukan semuanya karena kita adalah keluarga."
"Keluarga? Cih, siapa yang mau jadi keluarga kamu, Mila? Kita itu berbeda. Kalau bukan untuk Bayar hutang, aku juga tak Sudi menjadikan kamu ...."
"Bayar hutang? Maksudnya?"
"Cepat atau lambat, InshaAllah mereka akan menerima saya."
"Jangan mimpi kamu, Mila!"
Emosi mbak Ayu kembali memuncak. Ia baru diam dan buru-buru berlaku ke kamar saat mendengar suara mobil mas Ilham datang. Akupun mengikuti jejak mbak Ayu, segera masuk ke kamar.
"Umi berkelahi dengan uminya mbak Sabrina?" tanya Yumna, saat aku masuk ke dalam.
__ADS_1
"Yumna melihatnya?" tanyaku, pelan. Sambil duduk di samping Yumna.
"Tadi Na mau keluar nyusul Umi, tapi Na lihat umi sedang berkelahi dengan Uminya mbak Sabrina. Makanya Na cuma ngintip dari balik pintu. Na juga lihat Umi dipukul. Pasti sakit ya pipinya?" Yumna meraih pipiku, mengusapnya pelan. "Umi yang sabar ya." ia meniupnya, lalu kembali mengusapnya.
"Enggak apa-apa kok. Nggak sakit, mukulnya pelan." kataku. "Besok-besok nggak boleh nguping seperti itu, ya nak."
"Mi, kenapa Uminya mbak Sabrina nggak suka sama kita?"
"Siapa bilang? Memangnya Uminya mbak Sabrina pernah marah sama Yumna? Kayaknya nggak pernah, kan?"
"Enggak sih, tapi Na sering lihat dia marah sama Umi. Na juga bisa merasakan kalau dia nggak suka sama kita."
"Begitulah orang dewasa, kadang ada hal-hal yang nggak bisa dimengerti oleh anak kecil, nak."
"Kata mbak Sabrina karena Umi ngambil Abi mereka."
"Lalu Na bilang apa sama mbak Sabrina?"
"Na bilang itu tidak benar. Abi dan Uminya mbak Sabrina yang datang ke rumah kita, kan. Mereka yang menjemput umi. Berarti bukan umi yang mengambil abinya. Tapi mereka yang mengambil umi dari kakek dan nenek."
__ADS_1
Aku terkekeh mendengar penjelasan Yumna. Tak lupa kuingatkan gadis kecilku untuk selau menyayangi saudara-saudaranya, jangan sampai masalah orang dewasa mempengaruhi pikiran anak-anak.