MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
MINTA IZIN EMAK


__ADS_3

Wajah tua emak tampak sumringah. Sementara aku diliputi rasa kalut. Entah harus mengatakan atau tidak. Jika tak kukatakan bahwa aku akan menikah dua hari lagi, aku khawatir emak akan bertambah kecewanya. Bagaimanapun ia adalah mertuaku. Kalau ku katakan, emak baru saja mencurahkan harapannya bisa diurus olehku di hari tuanya ini.


"Mak, maafin Mila!" aku menangis, terisak-isak di pangkuan emak. Bingung hendak mengatakan apa.


"Lho ... lho ... lho, kenapa ini? Putri emak kenapa nangis? Kamu keberatan menjaga emak, Mil?" tanya emak, sembari mengusap pelan kepalaku.


"Bukan Mak, Mila selalu senang kalau diberi kesempatan menjaga emak. Mila berharap dapat selalu berbakti sama emak. Maafkan Mila ya Kak, sebab selama ini kurang perhatian sama emak. Padahal bang Hasan sudah menitipkan emak pada Mila." kataku, sambil menggenggam sebelah tangan emak.


"Heheheh, tidak apa-apa Mil. Bagi emak, kamu adalah menantu terbaik. Kamu sudah seperti Putri emak sendiri yang selalu berbakti sama emak. Bahkan emak malu sekali karena sering menyusahkan kamu. Jangan bosan ya Mil jika emak selalu merepotkan kamu."


Menatap wajah senja emak, membuat hatiku tak tega. Harusnya, sejak pertama emak juga aku jadikan pertimbangan. Sekarang, apakah semua sudah terlambat? Bagaimana caranya memberitahu emak? Rasanya tak tega mengatakan kalau aku dan Yumna akan pindah ke Jakarta setelah menikah dengan mas Ilham. Otomatis kami juga akan berada jauh dari perempuan yang sudah melahirkan lelaki pertama yang aku cintai.


"Kenapa Mil? Sepertinya kamu memikirkan sesuatu. Ada yang mau kamu sampaikan?" tanya emak, sembari menatap kedua mataku sehingga membuatku gugup.


"Mila nggak tahu harus mulai dari mana. Mila benar-benar minta maaf, Mak." kataku.


"Maaf untuk apa, nak?"


"Kalau Mila katakan, apakah emak akan marah?"


"Apa Mil? Sepertinya sangat serius sekali."


"Mila ... akan pindah ke Jakarta."


"Apa? Ke Jakarta? Ibu kota yang ada di pulau seberang itu, Mil?"


"Iya mbak."


"Ya Allah ... jauh sekali. Tapi kenapa Mil? Kenapa kamu mau pindah sejauh itu. Ada apa? Kamu mau merantau? Bukankah ayahmu tidak mengizinkan kamu bekerja, apalagi sejauh itu Mil? Kalau kamu mengalami kendala keuangan, apalagi untuk kebutuhan kamu dan Yumna, katakan saja pada emak, Mil. Kita jual saja gubuk ini, memang tak ada harganya, tapi tanahnya lumayan Mil. Cukuplah untuk modal kamu jualan. Nanti kalau ada apa-apa, emak siap membantu kamu Mil. Yang penting kamu jangan pindah ya. Apalagi sejauh itu. Emak nggak sanggup Mil jauh dari Yumna. Dia satu-satunya darah daging Hasan yang emak miliki."

__ADS_1


"Mak," bulir bening itu kembali mengalir. Aku benar-benar bingung harus menjelaskan semuanya. "Maafkan Mila Mak, maaf."


"Enggak Mil, kamu nggak salah. Harusnya emak mendidik Hasan lebih keras lagi agar ia bisa memenuhi kebutuhan hidup kamu dan Yumna sepeninggalannya. Sekarang kamu pasti bingung harus melakukan apa sementara Yumna sudah mulai punya pengeluaran, apalagi kalau ia sekolah, pasti pengeluarannya semakin banyak. Tapi kamu bersabar ya Mil, percayalah, akan ada saja rezeki halal. Seperti emak dulu, sepeninggalannya Abah Hasan, emak benar-benar tak punya apa-apa, tidak ada juga tempat mengadu. Emak berusaha sendiri. Alhamdulillah ada saja jalan keluar untuk setiap masalah kami. Yang penting kita terus berusaha dan berdoa."


"Bukan-bukan itu masalahnya Mak, Mila ke Jakarta bukan untuk bekerja, tapi ...."


"Tapi apa Mil?"


"Mak ... meskipun apapun yang terjadi, janji Mila tetap menantu emak ya."


"Tentu saja Mil, meski Hasan sudah tidak ada, kamu tetap menantu emak. Hubungan mertua dan menantu itu tak akan pernah berakhir. Begitu yang dikatakan ustadz. Selamanya tak akan pernah bisa dihilangkan."


"Mak, dua hari lagi Mila akan menikah lagi."


"Apa Mil? Kamu mau menikah lagi? Oh, ya. Baguslah Mil, bukankah dari dulu emak sudah mengatakan agar kamu mencari pengganti Hasan. Emak ikut senang Mil, akhirnya ada yang bisa mengobati luka hati kamu setelah kepergian Hasan. Emak hanya bisa berdoa semoga jodoh kamu juga bisa jadi ayah yang baik menggantikan Hasan untuk Yumna, ya Mil." sepasang mata emak berkaca-kaca. Meski ia memaksakan senyum agar rasa tidak enak hati yang ku rasa bisa hilang, namun aku yakin emak juga menyimpan kesedihan sebab sebentar lagi posisi bang Hasan akan tergantikan.


Sebenarnya tak ada yang bisa menggantikan posisi bang Hasan..bagiku ia adalah lelaki terbaik yang menempati posisi istimewa di hatiku. Pernikahan ini kujalani semata-mata untuk membantu masalah perekonomian keluarga kami.


"Enggak Mil. Justru emak bersyukur. Kamu masih muda, kehidupan kamu masih panjang, kamu juga berhak bahagia. Tapi ngomong-ngomong kapan kamu akan menikah?"


"Dua hari lagi, Mak."


"Dengan siapa, Mil?"


Aku mulai menceritakan tentang lamaran mas Ilham yang disampaikan lewat Uni Dewi. Bagaimana semuanya bermula, keresahan yang sempat aku rasakan hingga aku akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran tersebut demi mengatasi masalah kami.


"Kamu serius mau jadi istri kedua, Mil? Itu gak semudah yang kamu bayangkan." ujar emak.


"InsyaAllah Mila siap, Mak."

__ADS_1


Emak menunjukkan ekspresi khawatir. "Menjadi istri muda itu tak mudah. Emak paham betul beratnya beban yang kamu tanggung. Tapi pikirkan lagi, Mil. Emak tak tega jika kamu harus menderita nantinya. Emak ingin kamu mendapatkan kebahagiaan Mil, apalagi kamu masih muda."


"InsyaAllah Mila yakin akan baik-baik saja, Mak."


"Lalu kapan kamu akan ke Jakartanya?"


"Setelah akad, besoknya kami akan langsung terbang ke Jakarta."


"Ya Allah ... secepat itu?" Emak langsung beralih pada Yumna, tanpa banyak berkata-kata, ia meraih Yumna yang tengah duduk di samping emak sembari menikmati kerupuk yang disajikan emak. "Itu berarti kita akan berpisah? Ya Allah Yumna, emak benar-benar akan merindukan kamu. Hari-hari emak pasti akan sangat berat." ungkap Emak.


"Maafkan Mila, Mak."


"Mil ... tak bisakah kalian tinggal di sini?"


"Maafkan Mila Mak, tapi mas Ilham itu tinggal dan kerjanya di Jakarta. Rasanya akan berat jika harus berulang sejauh itu dari Jakarta ke Padang."


"Beberapa waktu saja, Mil. Setahunan ini saja. Emak juga tak yakin akan hidup lebih lama lagi. Makanya emak minta, selagi emak masih hidup, tinggallah di sini bersama Yumna agar emak bisa melihat kalian?"


"Mak, emak ngomong apa sih? Emak akan baik-baik saja. Usia emak akan panjang. Emak akan melihat Yumna tumbuh besar nantinya. Jadi emak nggak boleh berpikiran begitu."


Emak menggelengkan kepalanya. Ia mulai menangis, memeluk Yumna yang kebingungan erat-erat.


"Jangan pisahkan Emak dari cucu emak satu-satunya Mil. Emak nggak melarang kamu menikah lagi, tapi emak berat jika harus jauh dari Yumna!" ujar emak sambil menangis tersedu-sedu.


"Emak kenapa? Yumna nggak akan kemana-mana kok, Yumna hanya tinggal di rumah kakek dan nenek. Kalau umi nggak sibuk, Yumna akan sering main ke sini membesuk emak." kata Yumna, sembari menggenggam tangan emak.


"Mil, kasihanilah emak yang sudah tua ini." Emak mengiba. "Emak janji Mil, akan bekerja lagi agar bisa membantu perekonomian keluarga kamu."


"Mak, jangan bicara begitu. Mila akan sangat sedih kalau emak nggak merelakan kami." kataku.

__ADS_1


Tangis kami pecah, bertiga kami saling berpelukan. Berusaha saling menguatkan meski sebenarnya hati sama-sama tengah rapuh.


__ADS_2