MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
ADA APA DENGAN MBAK AYU


__ADS_3

Usai sarapan, Mas Ilham mengajakku jalan-jalan mengitari hotel. View yang sangat indah membuat kami terpana. Selama berjalan-jalan, ada banyak hal yang kami bahas, salah satunya tentang rencana ke depan nanti.


"Kalau boleh, saya ingin tempat tinggal kami terpisah." pintaku pada mas Ilham. Bukan tanpa sebab aku meminta hak tersebut, dari cerita mas Ilham semalam, aku menyimpulkan bahwa mbak Ayu belum siap berbagi suami meski ia yang mengatur semua ini. Wajar sebenarnya, sebab poligami memang tidaklah mudah. Setiap istri pasti punya rasa cemburu pada suaminya, tapi ini konsekuensi dari pilihan yang sudah ditentukan oleh mbak Ayu sendiri.


"Saya juga sebenarnya berpikir seperti itu," ungkap mas Ilham.


"Tak apa kontrakan sederhana, yang terpenting nyaman untuk kita bertiga dan anak-anak."


"Tapi saya belum bisa mewujudkan dalam waktu dekat, Mil. Ada beberapa hal juga yang belum kamu ketahui."


"Apa?"


"Ini tentang Ayu. Saya belum bisa memberitahu sekarang karena sejujurnya saya juga bingung mau menjelaskan dari mana. Apakah kamu mau bersabar, Mil?"


Belum sempat menjawab pertanyaan mas Ilham, Hp milikku berbunyi. Dari nomor asing. Nomor ini hanya diketahui oleh keluargaku di Sumatra, makanya aku langsung mengangkat. Tapi ternyata dugaanku salah, yang menelepon adalah mbak Ayu.


[Mana suamiku? Kamu kemanakan suamiku? Kenapa ia tak menjawab telepon atau membalas pesanku?] tanya mbak Ayu dengan nada suara yang tak biasa. Suaranya serak dengan nada tinggi. Apakah ia marah?


[Mbak Ayu? Oh, mas Ilham ada di sini,] kataku.


[Aku ingin bicara dengan suamiku!] mbak Ayu memerintahkan agar aku memberikan Hp pada mas Ilham.


"Mbak Ayu mau bicara," Hp ku serahkan pada mas Ilham yang terlihat ogah-ogahan menjawab telepon.

__ADS_1


[Aku akan mati mas, aku akan mati!] sekilas terdengar suara teriakan mbak Ayu. Lalu mas Ilham menjauh dariku. Ia berbincang dengan mbak Ayu cukup berjarak denganku hingga tak ada lagi percakapan antara mereka yang ku dengar.


Ada apa dengan mbak Ayu?


Aku memelintir ujung kerudung, mencoba mencari jawaban atas sikap mbak Ayu barusan. Kenapa ia bisa semarah itu?


Usai berbicara dengan mbak Ayu, mas Ilham memberikan Hp padaku sembari berpesan agar tak menjawab panggilan telepon dari mbak Ayu lagi sampai bulan madu kami selesai.


"Sebenarnya ada apa, mas?" rasa penasaran itu sudah tidak bisa aku tahan lagi. Aku yakin pasti ada sesuatu yang membuat mbak Ayu marah besar.


"Sudah saya katakan, saya tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang sebab saya juga belum paham seratus persen. Saya masih butuh waktu untuk mencari tahu semuanya secara lengkap. Sebenarnya ini juga salah saya, harusnya tak menerima tawaran Ayu untuk menikah lagi sebelum menemukan jawabannya. Tapi saya benar-benar kebingungan setiap hari di desak agar mau menikah lagi, ditambah ...."


"Apa mas?"


"Sejujurnya saya sudah jatuh cinta saat melihat kamu pertama kali lewat fotomu, Mil. Ada banyak perempuan yang ditawari Ayu, tapi entah kenapa hati saya condong ke kamu padahal saya belum pernah bertemu langsung, hanya lewat foto."


"Ia tak ingin saya memberikan nafkah batin padamu."


"Tapi kenapa mas? Bukankah saya juga istri, mas. Dan saya juga berhak mendapatkan nafkah batin seperti mbak Ayu. Atau jangan-jangan ... Astagfirullah," aku menutup mulut dengan tangan. Hal yang pribadi tentang mereka berdua, tak seharusnya ku pertanyakan juga meski mas Ilham juga suamiku. Cukuplah urusan rumah tangga sepasang suami istri menjadi rahasia mereka berdua dengan Allah. Orang lain, meski itu madunya, tak usah tahu. "Mas juga masih memberikan haknya mbak Ayu, kan?" lagi-lagi aku tak bisa menahan diri.


"Astagfirullah, tentu saja Mil. Saya tak ingin menzolimi siapapun, apalagi istri saya. Itulah kenapa saya kebingungan saat kita menikah sebab semuanya benar-benar dikendalikan Ayu."


"Kalau begitu satu-satunya solusi adalah berpisah tempat tinggal." kataku lagi. Aku mengira mbak Ayu menghalang-halangi mas Ilham untuk mendekati aku sebab rasa cemburunya sebagai istri. Dengan perekonomian mereka yang bagus, rasanya tak masalah jika aku meminta tempat tinggal terpisah sebab tak ada istri yang tak cemburu melihat suaminya menginap di kamar madunya. "Biarlah hanya rumah sederhana, yang terpenting semuanya mendapatkan hak dan melaksanakan kewajiban masing-masing."

__ADS_1


"Ya, kamu benar Mil." ungkap mas Ilham. "Tapi untuk membicarakan semua ini dengan Ayu juga butuh waktu. Saya tak yakin ia akan setuju begitu saja meski kamu hanya meminta sebuah kontrakan kecil. Kamu belum tahu sisi lain Ayu, Mil. Bahkan saya yang suaminya saja kadang merasa asing padanya."


"Apa sebaiknya kita bicarakan perkara ini setelah kembali dari bulan madu?"


Hp milikku kembali berbunyi. Masih dari mbak Ayu. Mas Ilham cepat mematikan nomor tersebut. Ia sepertinya enggan untuk kembali berbicara dengan istrinya.


"Apa tidak sebaiknya diangkat saja, mas? Barangkali memang ada hal yang mendesak." kataku.


"Semendesak apa hingga ia harus menyuruh saya pulang sekarang juga?"


"Barangkali memang mbak Ayu butuh, mas."


"Sudah saya katakan, yang ia inginkan agar saya tak menyentuh kamu. Itu saja."


"Ya Allah ... Apa sebaiknya kita pulang sekarang? Saya nggak mau mbak Ayu tambah marah. Mungkin mbak Ayu butuh waktu, mas."


"Pembicaraan tentang poligami ini sudah lama ia ajukan, Mil. Dua atau tiga tahun lalu. Selama itu, entah sudah berapa banyak akhwat yang ia ajukan pada saya. Berarti ia sudah tahu konsekuensinya. Setelah suaminya menikah lagi maka akan ada masa ia harus berbagi waktu dengan perempuan lain. Dia tak bisa memaksa suaminya menikah lagi, tapi ketika itu semua terlaksana, ia justru menentang hak madunya. Itu namanya curang, Mil."


"Tapi mungkin mbak Ayu butuh waktu, Mas."


"Berapa lama lagi? Bahkan sebelum akad pun saya sudah bicara empat mata dengannya. Ia menjawab dengan penuh keyakinan. Siap dengan segala konsekwensinya!"


"Mungkin saat ini mbak Ayu kewalahan dan benar-benar butuh kita!"

__ADS_1


"Di rumah sudah ada ibu, kamu jangan khawatir. Kamu juga berhak mendapatkan jatah giliran bersama saya. Kita sudah menikah sepekan, sekarang waktunya untuk bersama setelah tertunda selama sepekan." mas Ilham membelai lembut kepalaku. "Saya lelah, Mil. Jangan paksa saya untuk menuruti keinginan kamu agar segera kembali pulang sekarang juga. Biar saya istirahat sebentar di sini bersama kamu. Saya ingin merasakan sedikit kedamaian. Kamu bisa kan tidak ikut-ikutan mendesak saya?"


Entah seberapa berat masalah yang dialami oleh mas Ilham dan mbak Ayu. Tapi dari raut wajah mas Ilham, bisa ku lihat ia begitu tertekan. Aku hanya bisa menyambut genggaman tangannya, berharap bisa menjadi tempat ternyaman untuknya saat ini.


__ADS_2