MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
MARAH


__ADS_3

Lelah rasanya menghadapi semua ini. Aku tahu, aku harus bersabar sebab tak mudah untuk melunakkan hati orang lain yang sudah terlanjur membenci kita. Apalagi jika kebenciannya sudah mendasar. Rasanya benar-benar seperti tak ada harapan, meski mbok Asih menasihati bahwa aku tak boleh menyerah. Tetap optimis dan terus berdoa agar Allah membolak-balik hati mereka untuk bisa menerimaku. Enggak ada yang nggak mungkin kalau Allah sudah berkehendak.


"Tapi saya sudah sangat rindu dengan putri saya, mbok. Dia juga sama, bahkan sampai punya anggapan bahwa ibunya sudah nggak sayang dia. Tapi kalau mbak Ayu tetap tak bisa menerima saya, berarti saya gak akan bisa membawa putri saya ke sini." kataku, sambil berbaring di pangkuan mbok Asih.


"Iya Bu, mbok paham. Tapi tetap harus sabar dan jangan pernah berhenti berdoa. Semoga Bu Ayu bisa segera berubah ya." jawab mbok Asih.


"Ayu kenapa, Mil?" tiba-tiba mas Ilham muncul, entah kapan ia datang.


"Enggak apa-apa." Aku buru-buru bangkit. Berharap mas Ilham tak mendengar banyak, dan sepertinya harapanku terkabul sebab ia bertanya.


"Mil? Kenapa?" mas Ilham mendekat.


Mungkin memang tak adil jika kemarahan ini aku lampiaskan pada mas Ilham, tapi saat ini aku benar-benar sedang tidak bisa berpikir jernih, makanya ia lah yang ku jadikan samsak kemarahanku. Semua ini terjadi karena pernikahan antara kami. Mas Ilham harusnya tahu, istri pertamanya siap atau tidak untuk berbagi suami. Kalau belum siap, harusnya ia tidak nekat menikah begitu saja. Apalagi hingga sekarang kami masih tinggal satu atap. Semakin membuatku serba salah.


Apa yang dikatakan mbak Ayu dan teman-temannya benar-benar mempengaruhi pikiranku. Aku jadi gamang, tak tahu harus melakukan apa.


"Enggak apa-apa," kataku.


"Mbok, boleh keluar sebentar?" pinta mas Ilham.


"Lho, kenapa? Biar mbok Asih di sini. Saya masih pengen ngobrol sama mbok Asih, lagian kerjaan mbok Asih kan sudah selesai." Kataku, sambil menahan tangan mbok Asih agar tak beranjak dari kamar.


Aku tak ingin dekat-dekat dulu dengan mas Ilham. Bersamanya hanya akan menambah kebencian mbak Ayu dan anak-anaknya. Sama juga membentangkan jarak yang makin jauh antara aku dan Yumna.


Tapi mbok Asih tak bisa menolak saat mas Ilham memerintahkan untuk kedua kalinya agar ia segera keluar sehingga aku hanya bisa mendengus kesal.


"Kenapa sih harus menyuruh mbok Aish keluar. Saya kan sudah bilang masih pengen ngobrol sama mbok Asih!" kataku tegas, dengan wajah ditekuk.


"Jadi kamu lebih suka ngobrol sama mbok Asih dibandingkan sama suami sendiri?" tanya mas Ilham, ia langsung duduk di sebelahku. Saat aku beranjak menjauh, ia kembali mendekat, kali ini langsung memelukku agar tak ada lagi jarak antara kami.


"Kenapa sih harus dekat-dekat segala?"

__ADS_1


"Kenapa memangnya? Pengen dekat sama istri saja nggak boleh."


"Nanti mbak Ayu marah,"


"Enggak kelihatan ini, ya nggak apa-apa."


"Berarti kalau kelihatan, enggak berani?"


"Kenapa sih Mil? Ada masalah lagi sama Ayu? Atau Ayu kembali mengganggu?"


"Enggak ada apa-apa. Saya cuma pengen mas juga berlaku adil pada mbak Ayu."


"Saya sudah mencoba untuk adil, Mil. Tapi adil tidak harus selalu sama, kan?"


Dua orang ibu, bagiku sepeda penghalang untuk bertemu kembali dengan Yumna. Sebagai seorang ibu, aku sudah tak bisa lagi membendung perasaan rindu ini. Sejujurnya aku benar-benar merasa marah, merasa dipermainkan oleh mereka.


"Apa mas masih mencintai mbak Ayu?" pertanyaan yang tak seharusnya aku tanyakan itu akhirnya keluar juga. Aku benar-benar berharap agar mereka segera bersatu supaya harapanku pulang kampung menjemput Yumna bisa terkabul.


"Ya, saya tahu. Tapi saya bosan melihat kalian seperti orang asing padahal kalian suami istri."


"Kamu kenapa, sih Mil? Apakah ada masalah dengan Ayu? Atau kamu merasa tidak nyaman jika saya terus mendekati kamu? Mila, jangan salah paham dulu. Saya memang harus memperhatikan kamu lebih karena saya ini kamu tengah mengandung anak saya. Saya juga bersikap yang sama terhadap Ayu saat ia hamil anak-anak saya. Jadi kamu jangan kuatir jika Ayu cemburu. Sebelumnya saya sudah mengatakan padanya."


Tapi tetap saja, mbak Ayu belum bisa menerimaku. Lalu, sikapnya yang seolah-olah menerimaku itu hanyalah sandiwara saja. Ya, mbak Ayu sebenarnya hanya mengharapkan bayi dalam kandunganku saja.


"Ini semua salah, mas!" kataku.


"Kenapa Mil?" mas Ilham mengerutkan kening, tak paham apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku juga tak ingin menjelaskan sebab tak mau mas Ilham bertengkar lagi yang berujung pada perpisahan. "Apa Ayu melakukan sesuatu?"


"Nggak ... nggak ada. Saya hanya merasa nggak nyaman saja jika mas terlalu berlebih-lebihan memperhatikan saya."


"Lalu saya harus bagaimana?"

__ADS_1


"Menjauh dari saya!" kataku, sambil mendorong badan mas Ilham.


"Tapi Mil ...."


"Pergilah,"


Aku berusaha mengusir mas Ilham agar segera keluar dari kamar. Membiarkannya berlama-lama di sini hanya akan menambah kebencian istri dan anak-anaknya.


***


"Kamu kenapa sih, Mil.. Sekarang jadi nggak banyak bicara..Sering mengurung diri di kamar. Kalau ketemu aku, kayaknya kamu menghindari." tiba-tiba mbak Ayu mempertanyakan sikapku.


ya, aku memang sedang menghindari dirinya.. Berusaha agar tak selalu terlihat oleh pendangannya. Alasannya, karena aku masih kecewa dengan pembicaraan mbak Ayu dan teman-temannya. Hanya saja, aku belum punya keberanian untuk mengungkap kekecewaan ku itu.


"Enggak apa, mbak. Saya hanya butuh istirahat lebih banyak lagi." Kataku.


Beruntung aku tinggal di rumah yang cukup luas sehingga bisa menghindari mereka. Apalagi ditambah kondisi yang sedang hamil sehingga bisa jadi alasan untuk mengurung diri di kamar dengan alasan kesehatanku.


"Kamu nggak kenapa-napa, kan? Bayimu juga? Kemarin mas Ilham sampai mengintimidasi aku, dikiranya kamu berubah jadi pendiam gara-gara aku, padahal kan aku nggak ngapa-ngapain kamu." Katanya.


Secara langsung memang nggak, mbak. Tapi mbak Ayu tak tulus baik padaku. Mbak Ayu hanya bersandiwara.


Aku sebenarnya khawatir, entah rencana apalagi yang akan dilakukan mbak Ayu. Terutama untuk menyingkirkan aku dari sisi mas Ilham.


"Mbak," panggilku.


"Ya, kenapa?"


"Maafkan saya ya mbak, kalau saya banyak salah." Kataku, lalu berlalu kembali ke kamar.


Sampai di kamar, aku langsung menangis. Saat ini, hanya itu yang aku bisa. Menangisi ketidak berdayaanku. Ku harap, mbak Ayu bisa benar-benar merasakan kalau aku tulus ingin menjadi adik madu yang baik untuknya. Aku tak ingin menyakiti ia ataupun anak-anaknya.

__ADS_1


"Tuhan, tolong bolak-balikkan hati mereka." pintaku.


__ADS_2