
Kini, kami bertiga sudah berada di kamar mbak Ayu. Untuk beberapa lama kami hanya saling diam. Saling berpikir. Aku sendiri tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Tapi setidaknya aku lebih tenang sebab sebab sekarang mbak Ayu sudah agak tenang. Ia tak lagi menangis, infus di tangannya juga sudah diperbaiki oleh perawat.
"Maafkan aku ...." tiba-tiba mbak Ayu bicara. "Kalau mas mau menceraikan aku, tak apa. Lakukan saja. Aku menyadari sudah terlalu banyak masalah yang kubuat dan semuanya sangat fatal. Maaf mas ... maaf Mila." Kata mbak Ayu. "Tapi, sebelum mas menceraikan aku, bisakah mas mengabulkan satu permintaan ku. Tolong, jika kita bercerai nanti, jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Kalau mas mau menemui anak-anak, lakukan di tempat yang tak bisa aku ketahui. Sebab aku tak ingin melihat wajah mas lagi. Aku nggak mau terluka lebih dala. Lagi, aku ...."
"Mbak, sudah cukup!" pintaku. Rasanya tak sanggup mendengarnya. Aku sangat yakin, sebenarnya mbak Ayu tak menginginkan semua ini terjadi, ia sedang sakit, menanggung beban seberat ini pasti tidaklah mudah. Aku tak ingin ia mendapatkan masalah baru yaitu kehilangan orang yang sangat dicintainya. Entah seperti apa hancurnya hati mbak Ayu nantinya. Kalaupun ada yang harus mundur, itu adalah aku sebab aku adalah orang baru di dalam kehidupan mereka. Jika aku yang mundur, tak banyak hati yang tersakiti, sementara jika mbak Ayu, ada anak-anak juga yang pastinya akan sangat terluka.
"Enggak apa Mil. Mas Ilham mencintai kamu. Ia berhak mendapatkan yang terbaik. Biarlah. Aku rela kalau kalian bersatu. Ku harap kalian bahagia." kata mbak Ayu. "Sekarang pergilah, biarkan aku sendiri."
Sebuah senyuman dilempar oleh mbak Ayu. Melihatnya seperti itu membuatku benar-benar merasa bersalah.
"Mbak, jangan bilang begitu. Kalau pun ada yang harus mundur, itu bukan mbak. Tapi aku!" kataku, menegaskan.
"Enggak Mil, mas Ilham mencintai kamu. Sementara aku ... cintanya untuk aku sudah tak ada. Untuk apa lagi bertahan. Iya, kan?" ia kembali tersenyum. Senyum miris yang membuat siapapun melihatnya akan iba.
"Enggak mbak, biar saya saja yang pergi." kataku lagi.
__ADS_1
"Cukup. Tidak ada yang perlu pergi. Kita sudah memutuskan untuk menjalani kehidupan rumah tangga seperti ini. Sebagai kepala keluarga, saya akan bertanggung jawab untuk kalian berdua. Saya akan berusaha menjadi suami yang adil. Kalaupun saya belum bisa, tolong dimengerti karena saya juga masih belajar. Jadi, mulai sekarang saya harap kalian berdua bersabar. Tujuan kita menjalani poligami bukan semata untuk nafsu, tapi karena ingin menjalankan syariat Allah. Jangan sampai syariat poligami jadi semakin buruk karena ketidak siapan oknum seperti kita." ucap mas Ilham. "Jadi sekarang, ayo kita mulai lagi memperbaharui niat. Kalau sebelumnya kita menjalankan poligami karena sesuatu hal selain Allah, sekarangnkita luruskan kembali niatnya agar Allah Ridha pada kita. Jangan sampai sudah lelah di dunia, lelah pula di akhirat nanti. Kita sama-sama belajar."
"Mas ...." mbak Ayu tersedu. "Maafkan aku." ia berusaha meraih mas Ilham.
"Sudahlah. Yang lalu kita lupakan saja. Kita taubati pada Allah, semoga Allah mengampuni kita. Kamu juga harus benar-benar berubah. Jangan mencintai sesuatu melebihi cinta kamu pada Allah, Yu. Kalau kamu tetap mempertahankan prinsip kamu itu, yang ada kamu yang rugi." ungkap mas Ilham.
Sepasang kekasih itu saling berpelukan. Jujur, aku benar-benar lega melihat mereka berdua kembali bersatu. Ku harap, ini akan kembali jadi awal yang baik untuk rumah tangga kami bertiga.
***
Sebagai adik madunya yang juga tinggal bersamanya, aku sudah bertekad akan menjaga mbak Ayu hingga sembuh. Lagipula, selama di rumah sakit kami sudah saling memaafkan. Sudah berusaha untuk akur satu sama lain, meski sebenarnya aku tak mempermasalahkan apapun. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang yang penting memperbaiki semuanya. Seperti yang dikatakan oleh mas Ilham. Semuanya harus sama-sama belajar, kesalahan yang lampau tak perlu lagi diungkit-ungkit.
"Nanti, sampai di rumah mbak mau dimasakin apa?" kataku. Setelah kami bertiga berada di dalam mobil, meluncur menuju rumah. Mas Ilham yang nyetir, sementara aku dan Mbak Ayu duduk di belakang.
"Apa saja Mil. Enggak usah repot-repot." mbak Ayu tersenyum.
__ADS_1
***
Ada banyak harapan setelah mbak Ayu keluar dari rumah sakit. Salah satunya, hubunganku dengan anak-anaknya. Ku harap, mereka bisa menerimaku dengan tangan terbuka. Menganggap aku tak lagi sebagai perusak rumah tangga kedua orang tua mereka, terutama Hana. Sejujurnya aku tak tega, anak seperti Hana, yang menurut mbok Asih baik serta saliha, harus berubah jadi kasar dan arogan hanya karena belum bisa menerimaku hubunganku dengan ayah mereka.
"Bu Mila harus banyak sabar ya." pinta mbok Asih. "Percayalah, ketulusan pasti akan jadi pemenang nantinya. Meskipun kadang untuk mendapatkan perlu pengorbanan luar biasa." mbok Asih yang menjadi teman curhatku selama tinggal di rumah ini mencoba menenangkan sebab melihat sendiri bagaimana kasarnya Hana padaku.
Gadis itu memang masih belum terima dan beberapa kali masih menyebutku dengan sebutan pelakor. Padahal aku sudah mengancamnya. Sebenarnya aku tak ingin terlalu keras, apalagi gara-gara kuadukan pada mas Ilham beberapa waktu lalu, Hana benar-benar dimarahi ayahnya.
Aku sendiri tak tega. Tapi itulah kelemahanku. Entah kenapa selalu gampang tersulut ketika ia menyebut kata-kata itu. Apalagi dengan ekspresi yang benar-benar menekanku.
"Mbok tenang saja, saya sudah mempersiapkan stok sabar yang banyak. Kemarin-kemarin saya salah. Gampang sekali terpancing oleh Hana. Tapi saya sudah bertekad nggak akan mau dikalahkan oleh emosi lagi. Saya akan tetap berlaku baik padanya sebab bagaimanapun juga sekarang Hana adalah putri saya juga, kan?" Kataku, sambil berusaha tersenyum meski hati masih miris.
"Nggak. Enak saja. Aku anak Abi dan Umi. Bukan anak Tante. Jangan sembarangan ya. Sampai kapanpun aku nggak akan pernah mau jadi anak Tante!" ia bicara keras saat tak sengaja mendengar pembicaraan kami.
"Ya sudah, kalau sekarang nggak mau nggak apa. Semoga nanti mau ya." aku tersenyum, sembari menjawil pipinya. Sementara ia cepat-cepat menepisnya.
__ADS_1
"Enggak mau, pokoknya enggak mau!" anak kelas enam sekolah dasar itu langsung memasang wajah cemberut. Sementara itu, melihat ekspresi Hana mengingatkan aku akan Yumna. Ahhh, putri kecilku yang sekarang jauh di sana. Ia juga suka ngambek kalau aku jahilin seperti itu.