MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
CAHAYA DI WAJAH MBAK AYU


__ADS_3

Ibu dan anak-anak masih berdebat. Sama-sama menunjukkan kesaksian yang menimbulkan pro dan kontra tentang mbak Ayu. Aku hanya bisa menyimak, tak berani buka suara karena menyadari bahwa ini bukan ranahku.


Saat itu, bel rumah berbunyi. Tak lama masuklah mbak Ayu dan mas Ilham. Mereka pulang setelah dua hari menginap di apartemen.


"Assalamualaikum ibu, anak-anak ... Mila. Maaf ya, kami baru pulang, sebenarnya masih ingin berlama-lama di apartemen, tapi ... Umi sudah sangat rindu anak-anak Umi. Makanya buru-buru pulang!" seru mbak Ayu.


Wajahnya menunjukkan ekspresi ceria. Berbeda dengan mbak Ayu yang biasanya. Aku bahkan menangkap rona di kedua pipinya saat sesekali ia menatap mas Ilham. Sementara yang ditatap memilih diam seribu bahasa. Bahkan saat ditanya, tak banyak merespon.


Ada apa dengan mas Ilham? Kenapa ia jadi semakin dingin? Aku menggigit bibir keras-keras, khawatir kalau ia marah atas kelancangan yang aku lakukan.


"Oh ya, kalian sudah makan belum?" tanya mbak Ayu.


"Sudah mi, kami sudah makan!" Hana mewakili.


"Yahhh, padahal umi mau ajakin kalian makan di luar. Umi pengen traktir kalian makan." ujar mbak Ayu.


"Kenapa tiba-tiba?" Hana mengerutkan keningnya. "Biasanya kan kita susah sekali untuk makan bersama di luar kecuali untuk merayakan sesuatu."


"Karena umi sedang bahagia. Ahhh, bahagia sekali!" Mbak Ayu langsung bergelayut manja di lengan kiri mas Ilham.


Melihat mereka berdua kembali dekat, rasanya aku senang. Sepertinya rencanaku berhasil. Semoga saja setelah ini semakin membaik ke depannya.


"Mil, bisa kita bicara sebentar?" tanya mas Ilham. "Saya tunggu di kamar kamu!" dengan enteng ianberlalu masuk ke kamar.


Sekilas, aku melihat senyum di wajah mbak Ayu memudar. Sementara yang lain langsung mengalihkan pandangannya padaku. Seperti seorang terdakwa, aku benar-benar kikuk. Rasanya berat sekali melangkah masuk ke kamar, tapi mas Ilham yang memanggil, dan aku tak boleh menolak panggilannya.


"Ada apa, mas?" tanyaku, saat kami berdua sudah berada di kamar.


"Kenapa kamu lakukan semua ini?" ia sepertinya tak suka bertele-tele, langsung ke pokok permasalahan. wajahnya juga terlihat kesal. Seperti ingin menelanku saat itu juga. Mungkin saking kesalnya.

__ADS_1


"Maafin saya kalau apa yang saya lakukan salah, mas. Saya hanya ...."


"Apa? Kamu tidak suka bersama saya?"


"Bukan. Bukan begitu, mas. Istri mana yang tak suka bersama suaminya. Hanya saja rasanya saya zolim jika menghabiskan waktu bersama mas semnetara mbak Ayu tidak mendapatkan haknya."


"Tau apa kamu tentang hak istri saya yang lain? Katakan saja secara jujur, kalau kamu tidak mau maka saya gak akan pernah memaksakan lagi!"


"Enggak mas, sungguh." Aku dan mas Ilham masih berdebat.


"Lalu kenapa kamu pergi dan menyuruh Ayu untuk menggantikan? Kamu tahu bagaimana kesalnya saya? Sungguh ini seperti penghinaan untuk saya, Mil. Setelah bersama, saya kira kamu bisa merasakan perasaan cinta saya. Meski kamu belum bisa membalasnya, setidaknya pura-pura saja untuk menghargai perasaan saya. Bukan bersikap sebaliknya. Meninggalkan saya begitu saja tanpa berkata sepatah katapun, malah membuat rencana yang benar-benar nggak masuk akal!"


"Bagaimana mungkin saya bisa menolak lelaki yang sudah diam-diam menjadi raja di hati saya." Kataku, sambil tertunduk malu.


"Apa Mil? Coba katakan lagi. Saya tidak mendengar secara jelas. Ayo Mil, katakan lagi!"


"Enggak apa-apa, mas."


"Baiklah. Saya mencintai mas..Sangat mencintai mas dan berharap selalu berada di sisi mas hingga akhir hidup saya."


"Benarkah kamu juga mencintai saya?"


"Tentu saja mas, tentu saja saya sangat mencintai mas dan berharap bisa berbakti hingga akhir hayat saya pada mas. Saya sudah tak memikirkan siapapun lagi selain mas."


"Buktikan, Mil. Buktikan kalau itu benar. Saya tak mau dibohongi."


"Dengan apa harus saya buktikan."


"Tunaikan semua kewajiban kamu sebagai istri. Jangan pernah lakukan hal seperti kemarin lagi. Saya tidak suka dengan keputusan yang kamu buat. Saya mengerti kamu ingin membuat saya dan Ayu kembali bersatu, tapi saya nggak suka kalau kamu meninggalkan saya seperti itu. Rasanya saya benar-benar seperti seorang lelaki yang dicampakkan oleh wanitanya. Kamu gak tahu bagaimana kagetnya saya Mil ketika terbangun malah melihat Ayu di sisi saya, bukan kamu!"

__ADS_1


"Maafkan saya mas, tapi berjanjilah mas juga akan memperlakukan mbak Ayu dengan baik. Ingat, ia juga ibu dari anak-anaknya mas. Mas punya dua istri dan wajib untuk berlaku adil!"


"Baiklah, saya janji akan berusaha adil pada kalian berdua." janji mas Ilham. Sebelum pergi dari kamarku, ia sempat mencium keningku. Rasanya hati ini jadi tenang ketika ia sudah Ridha dengan apa yang aku lakukan.


***


Mas Ilham benar-benar membuktikan janjinya. Ia yang semula dingin mulai kembali perhatian pada mbak Ayu dan anak-anak. Kini, di meja makan mulai terdengar suara celoteh anak-anak yang dijawab oleh ayah mereka hingga menghasilkan tawa. Bahkan Iqbal yang biasanya dingin pun mulai sesekali tersenyum, bahkan ikut tertawa kecil bersama saudaranya. Di sini aku menyadari kalau ternyata selera humor mas Ilham lumayan juga.


"Seperti inilah sebenarnya rumah tangga kami, Mil." kata mbak Ayu, tiba-tiba, saat kami berdua masih berada di meja makan. Sementara mas Ilham dan anak-anak sudah beranjak ke ruang keluarga. "Penuh kehangatan." tambahnya. "Dan kami tak membutuhkan perempuan lain sebagai tambahan di keluarga kami."


"Maksudnya bagaimana, mbak?" tanyaku.


"Kamu tidak perlu pura-pura bodoh, Mil. Sebenarnya kami sudah bahagia dari dahulu. Tapi kebahagiaan itu sempat hilang karena kehadiran kamu!"


"Saya?"


"Ya Mila.. karena pernikahan kamu dan mas Ilham, anak-anak jadi murung. Sikap mereka berubah jadi dingin, begitu juga ayah mereka. Keluarga kami jadi kacau ...."


"Tapi mbak yang paling menginginkan pernikahan ini. Mbak lupa siapa yang melamar saya untuk jadi istri mas Ilham? Yaitu mbak sendiri!"


"Ya ya ya. Aku tahu dan tak akan lupa itu Mila. Jadi kamu tak perlu mengulanginya lagi. Anggap saja itu sebuah kesalahan dan aku sudah mendapatkan getah atas ulahku sendiri. Sekarang aku menyesalinya dan ingin semua kembali seperti semula."


"Seperti apa mbak Ayu?"


"Saya menjadi satu-satunya istri mas Ilham!"


"Astagfirullah. Maaf mbak, tapi itu tidak bisa saya lakukan. Saya tak akan pergi dari kehidupan mas Ilham, kecuali ia sendiri yang menceraikan saya!"


"Mila ... berani kamu ya!"

__ADS_1


"Maafkan saya mbak, pernikahan bukan permainan. Yang kapanpun bisa mbak ubah seenao hati mbak.!" Tak ingin melanjutkan perdebatan, aku berlalu menuju kamar. Membiarkan mbak Ayu sendiri di meja makan


__ADS_2