
"Please Mila, jangan menangis lagi atau semuanya akan curiga." pinta mbak Ayu, saat kami sudah di depan halaman rumah, sementara aku masih menangis. Makanya mbak Ayu tak langsung turun dari taksi yang kami tumpangi hingga tangisku benar-benar reda. Ia khawatir apa yang selama ini dirahasiakannya ketahuan.
"Bagaimana saya bisa bersikap biasa-biasa saja seolah nggak ada apa-apa, padahal mbak sedang sakit." kataku. Meski kami baru akur, tapi rasanya hubungan kami begitu dekat layaknya keluarga. Membayangkan mbak Ayu pergi meninggalkan kami untuk selamanya membuatku sedih, apalagi yang tahu tentang hal ini baru aku saja. Bahkan bu Sila pun belum tahu. Aku tak akan mungkin menyimpan rahasia ini. Aku tak akan tega.
"Mila ... tolong jangan begitu. Aku nggak semenyedihkan itu juga. Aku baik-baik saja. Jangan bersikap seolah-olah aku sekarat. Toh sebelum kamu tahu kondisiku sebenarnya, kamu bisa memperlakukan aku seolah tak terjadi apapun. Sekarang ayo bersikaplah seperti itu lagi."
Memang saat ini mbak Ayu terlihat baik karena obat-obatan yang ia konsumsi. Tapi sebenarnya ia juga tak sehat. Aku sering mendengar cerita tentang orang-orang yang mengidap kanker. Mereka bisa kehilangan nyawanya sewaktu-waktu. Pantas saja beberapa waktu ini aku merasa kalau mbak Ayu semakin mengurus, ternyata penyakit itu sudah menjangkitinya.
"Mbak, apa nggak sebaiknya mbak melakukan kemoterapi?" tanyaku. Tadi, itu adalah salah satu saran dari dokter untuk memperlambat penyebaran kankernya.
"Untuk apa?"
"Ya, siapa tahu dengan melakukan kemo mbak bisa sembuh."
"Sudah terlambat, Mil. Lagipula aku nggak mau mas Ilham dan yang lain tahu. Aku juga nggak mau jadi botak karena kemo. Sebelum meninggal, aku ingin mas Ilham tetap melihatku sebagai Ayu yang seperti ini, bukan ayu yang penyakitan apalagi botak."
"Enggak ada istilah terlambat untuk urusan pengobatan, mbak. Allah juga menyuruh kita berusaha dan berdoa. Bukan lepas tangan begitu saja. Itulah yang dinamakan ikhtiar mbak. Bisa saja kan Allah kasih kita semua keajaiban hingga mbak sembuh. Urusan mas Ilham dan yang lain, kalau mbak belum siap memberitahu mereka, saya yang akan membantu mas mengatur siasat agar saat pelaksanaan kemoterapi, mbak bisa keluar rumah tanpa dicurigai. Bagaimana? Mau ya mbak!"
"Tidak dulu, Mil. Aku tahu diriku sendiri. Aku bisa merasakan kalau aku nggak akan mampu menjalani kemoterapi. Yang ada nanti aku malah tambah down dan jadi beban untuk yang lainnya. Jadi biarlah berjalan seperti ini saja. Kita lihat sampai kapan Allah ngasih aku kesempatan hidup."
"Mbak!" Lagi-lagi aku menangis. Kali ini lebih sesak Rasanya. Entah apa yang harus aku lakukan untuk membantu mbak Ayu.
"Mila, maafkan aku. Tapi tolong hargai keputusanku. Aku sudah mempertimbangkan semuanya sejak awal dan aku yakin inilah yang terbaik."
***
__ADS_1
Mungkin apa yang aku lakukan bukan sesuatu yang berarti, tapi setidaknya aku sudah berusaha membuat mbak Ayu bahagia. Semua hal yang ia ingin lakukan pada mas Ilham, aku permudah. Kami yang bisanya saingan, kini aku sudah mundur perlahan. Urusan makanan, pakaian, perlengkapan hingga menemani mas Ilham pun aku serahkan padanya. Ku biarkan mbak Ayu menikmati kebersamaan bersama mas Ilham lebih lama lagi.
"Nggak asik banget!" Mbak Ayu mengeluh. Ia melempar kain lap ke atas meja yang berada tepat di depanku.
"Astagfirullah. Kenapa mbak?" Tanyaku yang agak kaget.
"Kamu sengaja kan Mil? Kamu nggak mau lagi bersaing denganku. Kamu sengaja membiarkan aku sendiri yang mengurus mas Ilham. Padahal bukan seperti itu yang aku inginkan." Mbak Ayu cemberut.
Aku tersenyum. Tapi lagi-lagi ia menggerutu, menganggap kalau aku tengah mengasihinya, walaupun memang benar kenyataannya.
"Jangan begini lagi, Mil. Kalau kamu membiarkan aku menguasai mas Ilham sendirian, yang ada nanti mas Ilham akan curiga ada sesuatu yang kita sembunyikan. Lagipula dengan seperti ini maka aku pun akan kehilangan semangat hidup. Aku ingin semuanya kembali seperti dulu. Aku ingin kita bersaing secara sehat untuk melayani mas Ilham. Bisa, kan?"
"Apa salahnya jika sekarang mbak yang melakukan semuanya. Lagipula saya kan sedang hamil, mbak. Saya sulit untuk melayani kebutuhan mas Ilham."
Meski tak tega, tapi akupun tak bisa menolak permintaan mbak Ayu. Akhirnya mulai saat itu kami kembali bersaing seperti semula.
***
Apa yang aku takutkan akhirnya terjadi juga. Mbak Ayu kembali ambruk karena lelah. Iantak sadarkan diri usai memuntahkan darah segar dengan jumlah cukup banyak. Tentu saja membuat semua orang menjadi khawatir.
"Yu ... Kamu kenapa?" mas Ilham yang memangku mbak Ayu, mengguncang pelan tubuhnya. Tapi kedua mata mbak Ayu tetap saja tak terbuka.
"kita bawa ke rumah sakit sekara!" kataku
"Ada apa dengan Ayu? Apa kamu tahu sesuatu, Mil?"
__ADS_1
"Nanti akan aku kasih tahu. Sekarang yang penting kita ke rumah sakit dulu."
Kami bertiga bergegas menuju rumah sakit. Untung saja jalanan cukup sepi sehingga bisa sampai rumah sakit dengan cepat dan mbak Ayu bisa segera mendapatkan penanganan.
"Apa? Ayu sakit kanker?" Mas Ilham langsung lemas seletah mendengar penjelasan dokter. aku sampai harus membawanya ke luar ruangan dokter sebab mas Ilham tak henti marah-marah. "Apa kamu juga sudah tahu, Mila?" Kini pertanyaan itu ditujukan kepadaku. Aku hanya diam, tak tahu harus menjawab apa. "Mila, jawab! Apa kamu tahu kalau Ayu sakit kanker?"
Aku mengangguk.
"Astagfirullah. Lalu kenapa kamu tidak memberitahu saya? Kenapa kamu diam saja Mila padahal sakit ini bukan sakit main-main. Kamu tahu bagaimana parahnya penderita sakit kanker?"
"Ya saya tahu mas,"
"Lalu kenapa kamu tak memberitahu saya?"
"Mbak Ayu melarang saya, mas. sejak awal saya sudah ingin memberitahukan mas, tapi ia meminta saya untuk merahasiakan semua ini.".
"Tapi kan kamu bisa mikir Mil, mana yang harus dirahasiakan mana yang boleh dikasih tahu!" Kini giliran mas Ilham yang memarahiku.
Sebenarnya aku sudah tahu, akan ada kemungkinan munculnya risiko mas Ilham marah. Wajar, ia suami mbak Ayu, berhak tahu tentang kondisi mbak Ayu. Tetapi aku malah merahasiakan darinya.
"Maafkan saya mas, saya hanya ingin membuat mbak Ayu bahagia di sisa hidupnya saya ...."
"Sudah diam Mila. Bagaimana kamu bisa lancang mengatakan usia Ayu tak akan lama? Kamu bukan Tuhan. Dokter juga. Mereka bisa mendiagnosa apapun tapi tetap hasil akhirnya semua adalah urusan Allah."
"Iya mas. Saya mengerti. Maafkan saya."sebenarnya akupun ingin memberitahu mas, tapi aku bimbang dengan permintaan mbak Ayu
__ADS_1