
Efek pertengkaran antara aku dan Iqbal berakibat pada diamnya anak-anak. Sehingga kini suasana rumah baru kami menjadi sepi. Tak ada lagi suara tawa dan canda anak-anak, bahkan sekedar mereka lelarian di dalam rumah. Semuanya berubah jadi pendiam dan sangat tenang, mulai dari yang kecil sampai besar. Kami sama-sama menjadi tidak nyaman.
Aku sendiri merasa tak enak hati, aku menyadari sudah membuat mereka terluka meski kata-kata yang ku sampaikan adalah kebenaran. Tapi tak seharusnya ku ceritakan semuanya sebab mereka adalah anak-anak, lagipula mereka tak bertanggung jawab atas perbuatan ibunya.
Di meja makan kami semua berkumpul, seperti sebelumnya, meski semua hadir namun tak ada sedikitpun celotehan yang terdengar, termasuk dari mulut kecil Ibed. Ia seperti tahu ketidak nyamanan ini. Seolah menanggung tanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan ibunya.
"Iqbal," kataku, saat kami sedang makan. Semua orang terdiam, langsung berhenti makan, mereka mencuri pandang ke arahku dengan takut-takut. "Setelah makan umi mau bicara." kataku. Lalu kembali melanjutkan makan. Sekilas, dengan ujung mata aku melihat Hana dan Asad melihat ke arah abangnya. Mereka saling melempar isyarat. Mungkin takut aku kembali marah, tapi tak berani bicara apapun karena saat ini kondisi mereka benar-benar di bawah kekuasaan ku.
***
Aku dan Iqbal. Hanya berdua, di ruang tamu sederhana rumah kami. Anak-anak yang lain, aku yakin sekarang tengah berusaha mencuri dengar pembicaraan kami secara sembunyi-sembunyi karena salah satu tadi terlihat olehku. Tapi ku biarkan saja. Yang akan kami bicarakan bukan sesuatu yang rahasia, aku juga tak berniat marah pada anak ini.
"Aku akan mendaftarkan kamu SMA si Singapura." Kataku. Iqbal kaget, ia langsung mengangkat kepalanya Yang tadi tertunduk. "Jadi persiapkan semuanya dengan baik, ya. Termasuk ujian kamu. Kalau nilai kamu jelek maka aku terpaksa mendaftarkan di pondok." kataku.
"Ke kenapa begitu?" tanya Iqbal dengan suara pelan. "Aku mau SMA di sini saja."
"Enggak, itu sudah jadi keputusan."
"Tapi .... Iyu," ia diam. "Anda membenciku?" tanyanya, sehingga membuatku menatapnya. "Ya, aku tahu aku keterlaluan, makanya anda menghukum ku dengan membuangku ke luar negeri atau ke pesantren, kan?"
"Apa maksudnya?"
__ADS_1
"Anda mendaftarkan aku sekolah lanjutan yang jauh dari rumah dan keluarga agar anda tak melihatku, kan?"
"Kenapa berpikir begitu?"
"Anda, pasti lelah menghadapi aku."
Aku terkekeh, sementara ia menatapku heran. "Kamu tak lupa, kan. Kesepakatan apa yang kamu buat dengan umi Ayu? Bukankah dulu kamu yang meminta dengan sangat bisa lanjut di SMA Internasional Singapura agar kamu bisa mendalami dunia robot yang sangat kamu sukai itu. Dan jika nilai kamu jelek, tidak bisa masuk di sana maka kamu sendiri yang mengatakan ingin masuk pesantren saja. Kamu ingin jadi ustad. Enggak lupa, kan? Cita-cita kamu masih sama, kan?"
Bruk. Tiba-tiba remaja lima belas tahun itu menghambur dalam pelukanku. Dalam hitungan detik aku mendengar suara tangisnya pecah. Aku benar-benar kaget sekaligus bingung, ada apa dengan anak ini. Apa aku melakukan kesalahan? Rasa-rasanya tidak. Aku hanya melanjutkan apa yang menjadi kesepakatan ibu dan anak itu. Aku hanya berusaha melakukan semuanya dengan baik. Sesuai dengan harapan mbak Ayu.
"Umiii ... umiiii ... Umiiii." panggilnya. "Anda umiku, kan? Benar, kan? Anda mau kan mau jadi umi ku? Menggantikan umi kami yang sudah meninggal." teriak Iqbal.
Tak berapa lama, tanpa komando, adik-adik Iqbal ikut berlari, menghambur dalam pelukanku, termasuk Yumna yang sepertinya belum tahu apa yang terjadi, ia hanya ikut-ikutan saudara-saudaranya saja.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau umi tahu tentang rencana sekolah yang aku bicarakan pada umi Ayu." Ungkap Iqbal, rupanya ia merasa terharu hingga tersentuh hatinya. Makanya ia yang semula sudah merasa bersalah semakin tersentuh hatinya. "Aku bukan anak yang baik, tapi aku janji, kalau umi memberiku kesempatan aku ingin menjadi anak yang baik. Aku ingin berbakti pada umi. " janji Iqbal.
"Tentu saja nak, tentu saja umi akan memberimu kesempatan. Bagi umi, meski kalian tak lahir dari umi, tapi kalian semua adalah anak-anak umi!" Kataku, sambil mengusap pelan satu-persatu kepala mereka.
"Maafkan kami juga, umi." kata Asad dan Hana yang diikuti adik-adiknya yang lain.
Aku mengangguk, sambil tersenyum. Rasanya begitu haru ketika gunung es itu mencair. Kini aku bukan lagi dianggap sekedar istri kedua ayah mereka yang menghancurkan rumah tangga orang tua mereka. Tetapi aku adalah ibu mereka. Yang menyayangi dan disayangi oleh mereka dengan tulus.
__ADS_1
Beban yang semula pernah terpatri sebagai istri kedua hilang. Aku benar-benar merasa lega sebab kini aku bisa memiliki anak-anakku. Yumna, Iqbal, Asad, Hana, Sabrina dan Ibed. Mereka adalah anak-anak ku. Aku akan bertanggung jawab kepada mereka hingga keadaan mas Ilham sebagai kepala keluarga Kami kembali membaik.
***
"Umi, boleh aku bicara?" Iqbal duduk di kursi yang berada di hadapanku.
Aku yang semula tengah sibuk menghitung hasil penjualan hari ini langsung mengakhiri pekerjaanku. Agar bisa mendengar sulung ku terlebih dahulu.
"Bicaralah nak," kataku.
"Boleh Iqbal SMA di sini saja?" Tanyanya.
"Kenapa? Bukannya menjadi saintis adalah cita-cita kamu. Kamu ingin jadi pembuat robot juga, kan?"
"Iya mi, tapi Iqbal juga tidak bisa meninggalkan umi dan adik-adik dalam kondisi seperti ini. Iqbal nggak tega. Umi masih sangat kerepotan. Lagipula biaya sekolah di Singapura tidak murah, Iqbal nggak mau menambahkan beban umi."
"Ya Allah nak, jangan bicara seperti itu. Iqbal tahu, umi sudah mempersiapkan semuanya. Untuk biaya sekolah kamu sudah umi sisihkan dari hasil penjualan rumah yang dikurangi modal jualan dan biaya berobat Abi kalian. Jadi InshaAllah cukup, kok."
"Tapi siapa yang akan membantu umi? Yang akan menjaga adik-adik juga padahal saat ini kondisi Abi masih belum baikan." kata Iqbal.
Aku diam. sebenarnya apa yang dikatakannya benar. Aku masih sangat kerepotan dengan urusan mas Ilham dan jualanku. Sehingga kadang-kadang anak-anak tak terperhatikan. Untung saja mereka sekarang sudah nurut, jadi tanpa diawasi mereka masih bisa terkontrol. Tapi tetap saja, mereka harus selalu diawasi sebab anak sebesar mereka juga butuh kasih sayang orang tuanya. apalagi di fase remaja.
__ADS_1
"Baiklah, kalau itu keputusan kamu. Umi setuju kalau kamu sekolah di sini saja. Tapi tetap kamu harus terus berusaha mewujudkan cita-cita kamu ya." aku menepuk Pelan pundak remaja itu. Wajahnya yang begitu mirip mbak Ayu membuatku sedikit merasa bersalah. Aku telah gagal membuatnya sekolah di tempat yang ia impikan.
"Umi enggak gagal. Umi justru telah mengajarkan hal lain yang lebih penting untukku yaitu bagaimana menjadi anak sulung yang sesungguhnya." Ungkap Iqbal.