
Sudah dua jam kami berdua sibuk di dapur untuk belajar memasak masakan khas Sumatera Barat, daerah asalku dan mas Ilham. Sesuai dengan permintaanku mbak Ayu untuk mengajarinya masakan kesukaan ibu. Kami hanya berhenti sesekali ketika Ibed mulai rewel atau Yumna butuh sesuatu dariku. Kemudian kami kembali sibuk lagi berjibaku dengan resep.
Menu pertama yang kami masak adalah rendang. Untuk mendapatkanp hasil terbaik, memang dibutuhkan waktu yang cukup lama hingga rendang berwarna kehitaman. Sebenarnya mbak Ayu sudah memperlihatkan tanda-tanda kelelahan, aku pun sudah meminta mbak Ayu untuk istirahat dan menawarkan diri melanjutkan pekerjaannya. Tapi mbak Ayu menolak dengan alasan kalau aku yang mengerjakan, kapan ia bisanya.
Baru hendak mengaduk kembali rendang yang setengah jadi, tiba-tiba mbak Ayu ambruk ke lantai. Secara spontan aku berteriak meminta bantuan, sementara Yumna dan Ibed yang membersamai kami langsung menangis karena takut dengan kondisi mbak Ayu.
"Bu Ayu kenapa, Bu?" tanya mbok Asih yang berlari tergopoh-gopoh menghampiri kami. "Kenapa jadi begini?"
"Enggak tahu Mbok, tiba-tiba saja ambruk. Mungkin kelelahan." kataku. "Bagaimana ya? Apa kita bawa ke rumah sakit sekarang?"
"Sebaiknya begitu Bu, khawatir terjadi sesuatu pada Bu Ayu." kata mbok Asih.
"Ya sudah kalau begitu panggil Farid!"
Tergopoh-gopoh mbok Asih memanggil Farid, tak berapa lama ia kembali bersamanya. Lalu kami bertiga membopong tubuh mbak Ayu menuju mobil.
"Mbok tolong jaga anak-anak, saya akan bawa mbak Ayu ke rumah sakit." Kataku.
"Lalu pak Ilham bagaimana, Bu?" tanya mbok Asih.
"Nanti saya kabari di jalan. Semoga saja mas Ilham langsung merespon saya."
Kami bertiga langsung menuju rumah sakit. Sepanjang jalan aku berusaha menghubungi mas Ilham, tapi ia tak menjawab teleponku. Pesan yang ku kirimkan juga belum dibacanya. Sebenarnya aku paham kenapa belum ada balasan dari mas Ilham, hari ini ia sedang sibuk mempersiapkan pemilihan yang tinggal menghitung hari. Mas Ilham tak akan memegang Hpnya. Sementara nomor telepon kantor aku tak tahu.
"Duh, bagaimana ini?" Aku menggerutu. Saat seperti ini aku memang butuh bantuan seseorang yang bisa kami andalkan. Yaitu mas Ilham. Tapi ia malah tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
"Mbak Mila masuk saja dulu, biar saya yang urus pendaftarannya."'Farid menawarkan diri sehingga membuatku lega. Aku tak terlalu paham dengan pendaftaran di rumah sakit sebesar in, makanya butuh bantuan sekali.
Farid sangat cekatan mengurus semuanya. Hanya dalam hitungan menit ia sudah kembali ke tempatku menunggu mbak Ayu yang sedang di periksa. Semua berkas pendaftaran diberikan padaku.
"Bagaimana dengan Bu Ayu, mbak?" tanyanya.
"Masih belum ada kabar dari dokter. Sepertinya kondisi mbak Ayu sangat serius." jawbaku. "Oh ya, sebaiknya kamu sekarang pulang, Rid. Mumpung urusan administrasi rumah sakit sudah selesai. Kamu kan harus menjemput anak-anak. Nanti kalau ada yang harus diurusin biar aku yang ngerjain."
"Tapi ... mbak Mila nggak apa-apa di tinggal sendiri?"
"Enggak apa-apa. Nanti juga paling mas Ilham sebentar lagi datang."
"Oh, kalau begitu saya pulang dulu ya mbak. Kalau ada apa-apa, mbak Mila kabari saya saja. Saya akan langsung meluncur ke sini. Semoga Bu Ayu cepat sembuh."
Usai berbicara dengan Farid, aku segera masuk ke IGD karena dokter memanggilku. Dokter menjelaskan padaku tentang kondisi rahim mbak Ayu yang menjadi penyebabnya jatuh pingsan.
Sebenarnya aku tak terlalu paham sebab banyak bahasa kedokteran yang digunakan oleh dokter. Intinya, mbak Ayu sakit karena kanker yang hidup di rahimnya sudah menyebar ke beberapa bagian tubuh lainnya.
"Ya Allah mbak Ayu ...." air mata ini tak dapat lagi di bendung saat dokter kembali mengatakan bahwa kemungkinan mbak Ayu bertahan tak akan lama sebab kondisinya semakin parah. Rupanya selama ini ia menyimpannya sendiri.
***
Aku dan Mbak Ayu saling diam. Tak ada kata yang keluar dari mulut meski sebenarnya banyak tanya yang ingin aku lontarkan, terutama tentang kesehatannya. Kenapa ia tega menyimpan semuanya sendiri. yang kami ketahui hanyalah ia mengidap depresi berat sehingga membuat emosi mbak Ayu tidak stabil, ternyata ada penyakit yang lebih parah, yaitu kanker yang hidup di rahimnya. Mungkin karena itu juga kini ia tak bisa memiliki keturunan lagi. Atau jangan-jangan mbak Ayu depresi karena penyakitnya ini?
"Sudah. Yuk kita pulang sekarang. Kasihan anak-anak, mereka pasti nyariin ibunya. Kamu bisa ke bagian pembayaran kan Mil? Tolong bayarin semuanya." akhirnya mbak Ayu buka mulut. Ia menyerahkan kartu kreditnya padaku, tapi ku biarkan saja.
__ADS_1
"Enggak. Kita tunggu sampai mas Ilham datang dulu." Kataku.
"Untuk apa, Mil? Nunggu mas Ilhamnya di rumah saja. Yuk!" mbak Ayu mau bangkit, tapi aku mencegahnya.
"Mbak, kenapa mbak tega sama kami semua. Terutama sama mas Ilham dan anak-anak. Bagaimana perasaan mereka jika tahu semua ini. Sudah berapa lama mbak menyimpan ini semua? Mbak ... mereka berhak tahu kalau mbak sedang sakit. Ini bukan sakit sembarangan, mbak!"
"Mil ... aku itu enggak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku selalu rutin minum obatku, jadi nggak ada yang perlu di khawatirkan.."
"Apa? Mbak tahu kan kalau kesempatan mbak untuk hidup itu udah nggak lama? Jangan pura-pura enggak tahu lagi. Pokoknya aku akan ngasih tahu mas Ilham, anak-anak, ibu dan Bu Sila. Mereka semua berhak tahu kondisi mbak!"
"Mil ... tolong jangan lakukan itu."
"Enggak bisa mbak, aku nggak akan menyimpan semua ini sendiri. Semua orang di rumah harus tahu. Ya Allah mbak!" aku tak bisa menahan air mata, pertahanan ku kembali runtuh. Air mata langsung berhamburan mengingat kembali kata-kata dokter. Rasanya di dada ini terasa sesak. Baru saja aku dekat dengan mbak Ayu, tiba-tiba aku harus memberinya kenyataan bahwa ia sedang sakit dan kapanpun ia bisa kehilangan nyawanya.
"Enggak usah terlalu melebih-lebihkan, Mila. Aku baik-baik saja. Kamu tahu tidak, aku sudah menghadapinya sendirian. Jadi, di sisa usia ini, aku yakin bisa bertahan selama mungkin. Lagipula, tanpa sakit ini pun sebenarnya kita akan mengalami kematian juga kan? Kita hanya tinggal menunggu waktu saja. Lalu apa bedanya?"
"Iya, tapi ...."
"Udah, nggak ada tapi-tapian. Yang jelas kamu harus janji, jangan katakan ini pada siapapun. Apalagi mas Ilham. Ia akan melakukan pemilihan, kalau mas Ilham tahu bisa-bisa konsentrasinya pecah. Begitu juga dengan anak-anak. Selama ini beban mereka sudah banyak."
"Apa lagi yang mbak rahasiakan dari kami?"
"Sudah enggak ada, Mil."
"Ya Allah mbak!" lagi-lagi aku menangis, tak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1