MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
KEMBALI KE KAMPUNG


__ADS_3

Hari ketiga. Aku memutuskan untuk kembali ke kampung. Sebelum pulang ke rumah, aku dan Yumna mampir dulu di makam bang Hasan. Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padanya, meski ia tak akan memberikan jawaban, tapi setidaknya ini bisa jadi obat untuk hatiku yang tengah gelisah.


"Bang, kami pulang. Aku datang bersama Yumna juga. Maafkan aku karena terlambat tahu tentang semuanya. Maafkan juga karena aku sempat menjadi bagian dari mereka yang sudah membuat abang seperti ini. Ku harap, Abang tidak membenciku. Aku benar-benar bodoh, tak mencari tahu semuanya terlebih dahulu. Maafkan aku, bang. Maaf! Andai waktu bisa diputar, aku bahkan tak ingin mengenal mereka, Bang. aku benar-benar benci dengan semua ini." kataku di dalam hati, sambil memegang nisan bang Hasan. Satu-persatu air mata berjatuhan. Dadaku terasa sesak, seolah saat ini kami saling berhadap-hadapan.


"Umi ... Na senang kita pulang ke kampung. Soalnya, Na bisa sering-sering datang ke makam Abi dan bertemu dengan emak. Kasihan emak, sudah tua, tak ada yang menemani." celoteh Yumna, sembari menabur mawar yang kami beli saat baru keluar dari hotel tadi. Ia sesekali merapalkan ayat pendek yang sudah dihafalnya, katanya sebagai hadiah untuk Abinya.


"Maafin Umi ya, Na. Tapi Umi janji, kita akan sering-sering berkunjung ke makam Abi untuk melepas kerinduan." aku mengusap lembut kepala Yumna yang dilapisi dengan kerudung kecil berwarna merah muda. Kerudung itu, hadiah dari mbak Ayu untuk Yumna. Ia membelinya kembaran dengan Hana dan Sabrina. Saat ia memberikannya, aku benar-benar bersyukur sebab mbak Ayu menerima putriku dengan tangan terbuka. Sejak Yumna datang, ia selalu bersikap baik. Sekarang aku mengerti kenapa ia begitu, karena rasa bersalahnya. Aku langsung tersenyum sinis.


Sebenarnya masih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh mbak Ayu untuk aku dan keluargaku. Yaitu uang yang tiap bulan dikirimkannya untuk kedua orang tuaku dan emak. ATM milikku pun selalu diisinya tiap bulan dengan nominal yang tidak sedikit menurutku. Tapi semuanya wajar ia lakukan sebab mbak Ayu sudah membuat kami kehilangan kepala keluarga.


Lagi-lagi air mata itu menetes. Aku menyesali, kenapa ia tak bicara jujur sejak awal. Kalau sekarang, ia seperti membuatku berada di posisi yang serba salah..ingin melaporkannya, tapi juga tak tega sebab kondisinya yang sedang sakit dan juga ia adalah bagian dari keluargaku sekarang.


"Mila!" seseorang berlari tergopoh-gopoh mendekati kami. Aku menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan. Masih berani ia muncul di hadapanku setelah apa yang ia lakukan. Mil, kamu kemana saja? Sudah tiga hari pak Ilham mencari kamu, sengaja tebang dari Jakarta ke sini. Ia juga bolak-balik kenrumah kamu dan terus mengitari kampung. Ia benar-benar khawatir dengan kamu dan Yumna. Kalian kemana saja sih?"


"Masih berani Uni muncul dihadapan saya?" tanyaku, dengan suara keras.


"Mi?" Yumna melihatku.


"Mil, kita bicara di sana sebentar ya." Uni Dewi berusaha menarik pelan lenganku agar menjauh dari Yumna. "Na, tunggu di sini ya. Uwak bicara dulu dengan umi kamu."

__ADS_1


Yumna mengangguk. Ia melanjutkan aktivitasnya, menabur bunga sembari membaca doa untuk ayahnya. Sementara aku dan uni Dewi menjauh beberapa meter.


"Ada apa lagi?" tanyaku, sembari menepis tangannya. Tak Sudi rasanya aku berpegangan dengan orang yang sudah menyembunyikan rahasia tentang kepergian suamiku. Masih ingat betul di benakku, bagaimana uni Dewi ikut datang melayat saat bang Hasan dimakamkan. Pantaslah ia sering bertanya, apakah aku mengetahui tentang siapa yang menabrak suaminya? Apakah pihak kepolisian menghubungiku? Ataukah ada seseorang yang kami curigai. Rupanya ia menjadi mata-mata untuk Mbak Ayu.


Uni Dewi juga yang mati-matian memintaku untuk menikah lagi, lalu pindah dari kampung ini agar luka hatiku sembuh setelah kepergian suamiku. Tapi aku menolak karena kampung ini tak memberi kenangan pahit untukku. Aku masih nyaman di sini sebab di sinilah keluargaku tinggal dan juga suamiku disemayamkan.


"Mil, kita bicara baik-baik." pinta uni Dewi.


"Tak ada yang perlu dibicarakan." tegasku.


"Pak Ilham sudah mencari kamu kemana-mana, ia benar-benar khawatir dengan kondisi kamu. Juga mbak Ayu. Mila ... aku tahu kamu sedang marah, tapi kamu juga harus tahu kalau mbak Ayu siap menerima sanksi atas perbuatannya."


"Aku? Kenapa dengan aku?"


"Uni juga terlibat! Kapan uni akan melaporkan diri? Atau perlu aku yang melaporkan uni?"


"A ... aku tak terlibat apapun. Aku hanya sebagai penumpang di mobil itu."


"Menumpang, tapi uni tahu kan kejadian itu? Uni ada di sana saat mbak Ayu menabrak bang Hasan. Tapi kenapa uni tidak melakukan sesuatu?"

__ADS_1


"Aku sudah mengatakan untuk ...."


"Apa? Supaya mbak Ayu berhenti, tapi ketika ia tidak mau uni tidak melakukan sesuatu supaya mbak Ayu mau berhenti atau uni berusaha membantu bang Hasan? Uni tidak ada usaha sedikitpun untuk membantunya padahal uni tahu kala itu ayahnya Yumna sedang sekarat. Sungguh jahat uni. Dan yang lebih tidak punya hati lagi, uni malah datang ke tempat kami seolah tidak terjadi apa-apa. Sekarang saya mengerti mengapa uni ingin kami pindah dari kampung ini, karena uni tahu kejadian yang menimpa bang Hasan."


"Mila ...."


"Tega uni. Selama beberapa waktu ini terus beredar di antara keluarga kami setelah apa yang uni lakukan. Jika kedua orang tuaku, Yumna dan emak tahu, kira-kira apa yang akan uni lakukan? Apa uni masih bisa bersikap seolah tak bersalah, tak tahu apa-apa seperti sikap uni selama ini?"


"Tidak begitu Mila."


"Lalu apa Uni?"


"Mila ... aku tak seperti itu. Sejujurnya aku juga merasa bersalah. Makanya aku selalu mengawasi keluarga kalian. Hampir tiap malam aku bermimpi buruk. Aku benar-benar dihantui rasa bersalah Mila, tapi aku benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Aku membantu mbak Ayu agar kamu mau menerima lamarannya juga bukan untuk mengusir kamu dari kampung ini, tapi karena aku ingin bertanggung jawab."


"Tanggung jawab apa?"


"Mila, aku berpikir jika kamu menikah dengan pak Ilham maka perekonomian kalian akan terbantu. Mbak Ayu juga punya alasan untuk menyantuni keluargamu dan emaknya Hasan. Sungguh Mila, aku bukan ingin lepas tangan. Aku akui memang bersalah sebab sudah menyimpan semuanya dalam diam. Aku benar-benar menyesal, Mila."


"Menyesal saja tak akan mengembalikan bang Hasan di tengah-tengah keluarga kami. Sekarang hiduku benar-benar sudah hancur. Aku kehilangan suamiku dan sialnya aku menjadi madu dari perempuan yang membuatku kehilangan suami!" aku menangis, membayangkan betapa rumitnya semua ini.

__ADS_1


__ADS_2