
"Mbak Ayu sudah cerita semuanya." kataku, saat mas Ilham datang untuk menjemput ku. Kami memutuskan bicara di taman rumah sakit. "Apa mas tahu tentang obsesi mbak Ayu, yang membuatnya depresi? Apa mas tahu beban yang ia tanggung selama ini?"
Mas Ilham hanya menggelengkan kepalanya.
"Mas, mbak Ayu tertekan dan saya yakin itulah penyebabnya mengalami depresi. Ia terbebani menjadi istri, mas."
"Saya? Tapi kenapa saya? Rasanya saya tak pernah memberatkan Ayu. Tanggung jawab yang saya berikan, tak jauh-jauh dari tanggung jawab seorang istri dan ibu. Nggak ada tuntutan yang berlebihan."
"Tapi mbak Ayu terobsesi pada mas!" keceritakan semua yang dikatakan mbak Ayu padaku. Bagaimana ia selalu berusaha agar semua harapan-harapan mas Ilham terwujud. Apapun bentuknya. Jika ia tak berhasil, maka akan jadi beban yang membuat mbak Ayu tertekan. Bahkan ia pernah jatuh sakit hingga harus di rawat di rumah sakit karena terpikirkan. Tapi yang diketahui mas Ilham kala itu mbak Ayu sakit karena asam lambung yang berujung tifus.
"Astaghfirullah. Ayu? Ya Allah, kenapa dia harus begitu?" mas Ilham yang kaget terlihat begitu merasa bersalah. "Saya benar-benar nggak tahu. Sungguh Mil. Saya tak sadar kalau dia sebegitu mencintai saya bahkan sampai menghancurkan dirinya sendiri." aku mas Ilham.
"Sekarang semua sudah terjadi. Bahkan kita sudah menikah. Padahal sebenarnya mbak Ayu nggak siap." aku menutup wajah dengan kedua tangan. "Juga anak--anak mas. Mereka nggak siap punya ibu yang kedua." kuceritakan juga bagaimana sikap Iqbal dan Hana. Juga kata-kata Hana tentang pelakor yang ia sematkan padaku.
"Ya Allah ... kenapa semuanya jadi kacau seperti ini? Secara tidak sadar saya sudah menjadi penyebab luka untuk mereka."
"Saya ikut andil membuat luka di hati mbak Ayu dan anak-anak."
"Enggak Mil, kamu nggak salah apa-apa. Sayalah yang bertanggung jawab atas semua ini. Bahkan kamu juga jadi korban atas semua masalah ini. Harusnya sejak awal saya peka sejak sikap Ayu berubah. Oh tidak, tepatnya, sejak kami menikah sebenarnya Ayu sudah menunjukkan sikap yang berlebihan dalam mengekspresikan perasaannya. Tapi karena kurang bergaul dengan perempuan, saya menganggap itu biasa. Ternyata obsesinya begitu besar hingga berujung seperti ini."
__ADS_1
"Lalu kita harus bagaimana? Nggak mungkin untuk membiarkan mbak Ayu terus mengalami semua ini."
"Saya juga sedang memikirkan semuanya Mil. Sebuah jalan agar semua masalah kita selesai."
"Apakah kita harus mengakhiri hubungan ini?" Meski ragu-ragu, aku tetap mempertanyakan semuanya pada mas Ilham. Sejujurnya aku benar-benar kecewa dengan apa yang dilakukan mbak Ayu, menjodohkan aku pada suaminya. Tapi sebagai seorang manusia yang punya hati, aku juga kasihan, apalagi mengingat ia punya banyak anak. Selain mbak Ayu, aku juga tak tega jika anak-anak mereka jadi korban semua ini. Mereka belum siap menjalani kehidupan poligami. Tapi aku sendiri juga tak bisa memungkiri kalau sekarang sudah terlanjur jatuh cinta pada mas Ilham.
"Kamu bicara apa sih, Mil? Sejak awal saya memang berat untuk menikah lagi. Tapi saya juga tak akan bisa bermudah-mudah untuk mengakhiri semua itu." kata mas Ilham. "Sejak awal sudah saya katakan kan Mil, agar kamu mau bersabar. Saya akan berusaha memperbaiki semua ini agar keadaannya menjadi lebih baik."
"Tapi akar masalahnya ada pada mbak Ayu, mas. Jika ia saja sulit, bagaimana dengan kita."
"Jangan cepat menyerah, Mil. Kita belum mencobanya. Pernikahan yang kita jalani bukan main-main. Ayu boleh beralasan ia melakukan semua itu karena terbawa emosi, tapi ia juga tidak bisa mengatur semuanya sesuai keinginannya. Semua keputusan ada konsekuensinya dan siap tidak siap, kita semua harus berani menghadapi sebab inilah pilihan kita. Lagipula, apa kamu gak kasihan pada saya, Mil? Saya sungguh-sungguh butuh kamu untuk mensupport saya. Dalam keadaan seperti ini saya pun rapuh, Mil."
"Mil, tolong ... percayalah sama saya, saya pun tak ingin kedua istri saya berada dalam posisi tidak nyaman. Saya pun takut mempertanggungjawabkan semuanya pada Allah. Tapi saya juga tak bisa memulangkan kamu seperti itu. Pernikahan ini bukan main-main. Tolong Mil, jangan lagi pernah mengatakan untuk mundur atau mengakhiri pernikahan kita. Atau kalau tidak ...."
"Apa mas?"
"Jika hubungan kita harus berakhir, maka dengan Ayu pun sama!"
"Astaghfirullah, mas ...."
__ADS_1
"Maafkan saya Mil, tapi saya hanya manusia biasa. Saya tak akan bisa bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa jika kamu pergi. Sebab sejujurnya rasa cinta saya pada kamu jauh lebih besar dari pada cinta untuk Ayu. Bahkan mungkin sekarang sudah tak ada cinta untuknya selain rasa iba saja."
"Cukup mas, cukup!" tiba-tiba mbak Ayu sudah berdiri tak jauh dari kami. Ia berdiri membawa selang infus di tangannya. Sepasang netranya langsung banjir air mata. Tampak sekali luka yang begitu dalam di sana."kenapa mas, kenapa? Setelah semua yang aku berikan untuk mas." ia menggeleng cepat, lalu terhuyung-huyung kembali ke kamarnya.
"Ya Allah mbak Ayu!" aku memanggilnya dengan suara tertahan karena tak ingin mengundang perhatian banyak orang yang menyadari ada hal yang tak beres antara kami. "Mas, kenapa diam saja? Cepat sana susul mbak Ayu!" pintaku.
"Biarkan saja Mil," ungkap mas Ilham dengan kepala tertunduk. Terlihat betul ia semakin tertekan.
"Tapi kenapa? Mas nggak takut terjadi sesuatu pada mbak Ayu?"
Gemas karena mas Ilham tak juga bertindak, akhirnya aku memutuskan untuk mengejar mbak Ayu ke kamarnya. Ada rasa sesal yang begitu besar, harusnya mbak Ayu tak mendengar semua ini. Aku juga terlalu bodoh, kenapa juga bicara dengan mas Ilham di taman yang tak jauh dari ruang rawat mbak Ayu.
Sampai di kamar mbak Ayu, aku mendapati pemandangan yang mengiris hati. Ia tengah duduk di lantai, menyender pada tempat tidur dengan selang infus yang masih menempel di tangan namun terlempar begitu saja. Ada darah yang naik menuju selang. Pemandangan yang membuatku langsung menjerit.
"Astagfirullah mbak, jangan begini." kataku. Mendekat padanya. Bingung harus melakukan apa. Makanya aku hanya bisa menangis sambil memegang tangannya. "Mbak, ingat anak-anak mbak!" kataku, mencoba menguatkan mbak Ayu. Biasanya, untuk para ibu, cara ini paling ampuh sebab anak-anak adalah kekuatan seorang perempuan yang bergelar ibu. Tapi mbak Ayu tak bergeming. Ia hanya diam dengan air mata terus mengalir. "Mbak, sadarlah." pintaku lagi.
Pemikiranku benar-benar pendek. Bukannya mencari bantuan malah ikut menangis di samping mbak Ayu. Mungkin karena terlalu panik. Untung saja tak berapa lama datang perawat, ia langsung bertindak saat melihat kondisi mbak Ayu.
"Bu, kalau ada apa-apa dengan pasien, jangan didiamkan saja. Tolong beritahu kami supaya segera mendapatkan penanganan!" tegas perawat tersebut padaku. Ia terlihat kesal, mungkin karena gemas dengan kelalaian yang ku lakukan tadi hingga dianggap membahayakan mbak Ayu. "Yang menunggui pasien tak boleh sembarangan, harus orang yang sergap." tambah perawat lagi.
__ADS_1
"Maaf mbak, maaf!" kataku, sambil menundukkan kepala beberapa kali.