
Satu-persatu teman-teman mbak Ayu datang membesuk saat tahu bahwa ia di rawat di rumah sakit. Untuk menghormati tamu-tamunya, aku membuatkan minuman dan makanan kecil yang ku hidangkan langsung sesuai permintaan mbak Ayu.
"Belum juga sebulan punya adik madu, kamu sudah masuk rumah sakit begini. Memang berat ya, Yu? Apalagi kalau adik madunya seperti mbak Mila. Memang sih terlihat polos dan sederhana, tapi kalau disaingi sama kamu masih ada peluang kalahnya kamu, Yu." tiba-tiba salah seorang teman mbak Ayu berceloteh. Aku yang sedang berada di tengah mereka tentu langsung kaku, tiba-tiba jadi sasaran tembak.
"Aku dan Mila nggak bersaing apapun, kok." jawab mbak Ayu. "Iya kan Mil?" ia melirik padaku.
"Iya mbak." jawabku, sambil menganggukkan kepala.
"Di mulut ya sudah pasti bilangnya enggak, tapi kalau di hati, siapa yang tahu. Semua orang juga tahu siapa Ilham dan kamu yang berada di belakangnya. Pastilah bakal tergiur untuk menjadi nyonya nomor satu." Sambung yang lainnya.
Astagfirullah. Sebenarnya ingin ku jawab, tapi mbak Ayu menahan dengan menggenggam tanganku. Ia memberi isyarat agar aku tak terpancing.
"Aku yakin kok sama Mila. Dia itu adik madu yang aku pilih sendiri. InsyaAllah Mila akan jadi partner terbaik. Enggak ada yang perlu kami persaingkan. Mas Ilham tahu cara bersikap adil pada kedua istrinya. Lagipula Mila sudah janji akan nurut sama aku, ia nggak akan macam-macam di belakangku. Iya kan Mil?" lagi-lagi mbak Ayu melirikku.
Persis seperti kerbau yang dicocok hidungnya, aku hanya setuju-setuju saja apa yang dikatakan oleh mbak Ayu. Setidaknya aku lega sebab ia tak ikut menjatuhkan seperti teman-temannya. Bahkan ia malah membelaku.
"Yahhh, kalau aku sih, tetap saja Yu, nggak akan mudah percaya sama madu sendiri. Sebab kadang, orang yang kita anggap madu ternyata adalah racun!" tegas temannya mbak Ayu lagi. "Lagipula ya Yu, zaman sekarang yang namanya poligami itu nggak benar-benar karena syariat, kadang dijadikan jalan pintas oleh perempuan-perempuan muda untuk kaya mendadak. Yahhh kalau cara hinanya jadi pelakor, cara syar'i nya ya jadi istri kedua." temannya tergelak.
"Kamu nggak akan seperti itu, kan Mil?" mbak Ayu kembali melihat ke arahku.
Aku menggelengkan kepala. Agar segera diizinkan pergi dari tempat ini sebab sebenarnya kupingku sudah sangat panas mendengar tuduhan-tuduhan tak beradab itu. Kenapa mereka yang berpendidikan dan kaya raya tapi malah seolah tak punya adab. Kalaupun mereka curiga aku seperti itu, tak seharusnya menyindir tepat di hadapanku hingga membuatku tak bisa berkata apa-apa.
Sejujurnya ada hal yang membuatku khawatir, yaitu mbak Ayu. Bagaimana kalau ia terpengaruh dengan kata-kata teman-temannya dan kembali berpikir kalau aku juga bisa sejahat itu? Padahal tak ada niatan seperti itu sama sekali, apalagi sampai menyingkirkan mbak Ayu. Aku cukup tahu diri. Lagipula, aku juga sudah belajar sedikit demi sedikit tentang poligami. Pernikahan kedua tak boleh menghancurkan pernikahan pertama. Paham juga bagaimana besarnya dosa menghancurkan rumah tangga orang lain.
***
__ADS_1
Mbak Ayu dan teman-temannya masih berkumpul di taman belakang rumah. Saat ibu mertua datang. Sebenarnya aku ingin mengabari mbak Ayu tentang kedatangan ibu, tapi ibu melarang, malah mengajak ke kamarku.
"Kamu sudah tahu semuanya, Mil?" tanya ibu.
"Ya Bu." kataku
"Lalu bagaimana tanggapan kamu?"
"Hmm, sebenarnya saya punya permintaan Bu."
"Apa?"
"Mbak Ayu begitu ingin menjadi istri terbaik untuk mas Ilham. Bisakah kita membantu mbak Ayu untuk mewujudkan semua itu?"
"Maksudnya?"
"Jadi kamu mengira bahwa ibu juga ikut membebani Ayu?"
"Enggak begitu, Bu. Maksud saya, kita tak usah mengungkapkan hal-hal yang memberatkan mbak Ayu."
"Kamu terlalu banyak memikirkan Ayu, Mil. Lalu bagaimana dengan kamu?"
"Apanya Bu?"
"Kalau Ayu ingin menjadi istri terbaik untuk Ilham, kamu sendiri bagaimana? Tidak mau jadi istri terbaik juga untuk Ilham?"
__ADS_1
"Ya mau dong, Bu. Tapi ...."
"Tapi apa? Mil, boleh ibu tahu. Apakah kamu sudah mencintai Ilham?"
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, mendadak pipiku terasa panas. Aku jadi seperti seorang gadis yang baru dilamar oleh lelaki yang dicintainya, kemudian ditanyai jawaban di hadapan orang banyak.
"Tidak usah malu-malu. Jawab saja. Kan sudah ibu katakan untuk menganggap ibu seperti ibu kandung kamu sendiri." ungkap Ibu.
Aku mengangguk, meski masih menundukkan kepala.
"Alhamdulillah. Ibu benar-benar senang, Mil dan ibu harap pernikahan kamu dan Ilham segera punya perekatnya."
"Perekat?"
"Ya. Kalian segera punya momongan."
Lagi-lagi aku tertunduk malu. Ahhh kenapa sekarang ibu malah membahas tentang aku, padahal aku ingin mencari solusi untuk masalah mbak Ayu.
"Kadang kita juga harus memikirkan diri sendiri, Mil. Membahagiakan diri sendiri itu juga penting. Kamu sekarang juga istrinya Ilham, kamu juga berhak atas Ilham."
"Iya Bu. Tapi yang ingin saya bahas di sini adalah mbak Ayu. Apa ibu menyayanginya?"
"Sayang ... tapi sepertinya lebih sayang pada kamu."
"Dih ibu. Jangan bicara seperti itu, bagaimana kalau mbak Ayu dengar?"
__ADS_1
"Perasaan tak bisa dibohongi, Mil. Ibu paham bagaimana kedua menantu ibu meski ibu baru mengenal kamu. Ayu bisa berlindung di balik sakitnya. Tapi tetap, ia tidak boleh menzolimi orang lain dengan alasan kesehatannya itu sebab ia sebenarnya bisa mengendalikan semuanya. Sekarang saja, Ayu masih menemui orang-orang yang sekiranya menambah penyakitnya. Mila, kamu boleh membantu Ayu, tapi jangan sampai menenggelamkan diri sendiri. Apapun yang kamu lakukan nanti, tidak perlu terlalu banyak berkorban. Ingat kebahagiaan diri sendiri juga!"
Banyak wejangan yang diberikan ibu untukku. Agar aku tetap mengedepankan kebahagiaan diri sendiri. Sebenarnya aku sangat bersyukur punya mertua seperti ibu yang menerima aku apa adanya meski status sosial kami sangat berbeda..apalagi aku istri kedua anaknya. Tapi ini mungkin salah satu rezeki yang Allah beri padaku, dua kali punya mertua dan dua-duanya sangat menyayangi. Hanya saja, aku ingin ibupun tetap condong rasa sayangnya pada mbak Ayu sebab aku menyadari antara mereka berdua sebenarnya ada jurang kecil, padahal mbak Ayu telah lebih dulu menjadi teman hidup putranya. Belum lagi ditambah mbak Ayu sudah memberikan lima orang cucu untuk Ibu.