MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
WASIAT DARI MBAK AYU


__ADS_3

Hari ketujuh setelah mbak Ayu meninggalkan kami semua, Bu Sila kembali datang ke rumah. Kali ini ia tak datang sendiri. Perempuan paruh baya itu datang bersama empat orang berjas yang belakangan baru aku tahu kalau mereka adalah para pengacara dan notaris. Mereka ditunjuk untuk menyelesaikan urusan surat-surat warisan dan hibah dari mbak Ayu.


"Baiklah. Langsung saja. Ilham, Mila ... saya datang ke sini untuk menyampaikan apa yang menjadi amanah dari putri saya. Dua pekan sebelum ia meninggal dunia, Ayu meminta bantuan saya untuk menjalankan wasiatnya setelah ia meninggal nanti. Ayu sudah membuat sebuah keputusan bahwa ia akan memberikan separuh dari harta kekayaannya kepada Mila dan Yumna. Sementara separuh lagi akan dibagi sebagai warisan menurut hukum Islam untuk Ilham dan anak-anak.


Para pengacara dan notaris ini akan mengurus semuanya hari ibu agar semuanya selesai. Sesuai dengan syariat Islam, setelah seseorang meninggal dunia, maka harus segera dibagi apa-apa yang menjadi hak orang lain atasnya, yaitu warisan setelah urusan utang piutang selesai. Menurut data yang saya dapatkan, Ayu tak memiliki hutang kada siapapun sehingga tak ada halangan untuk membagi apa yang ia wasiatkan." Bu Sila menjelaskan.


Aku hanya bisa diam mendengarkan penjelasan tersebut. Setelah itu barulah aku menyatakan bahwa tak berharap apapun dari mbak Ayu. Meski ia sudah membuat aku dan Yumna kehilangan bang Hasan, tetapi bukan berarti aku juga berharap harta. Bahkan aku sudah bertekad tak akan lagi menerima bantuan untuk keluargaku. Untuk nafkah mereka, ayah dan ibu sudah menyatakan bahwa penghasilan dari toko sembako di depan rumah sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga besar ku.


Tetapi Bu Sila tetap akan membagi warisan tersebut sebab ia tak mungkin tidak melaksanakan wasiat orang yang telah tiada.


"Terimalah Mil, Ayu pasti sudah mempertimbangkan semuanya secara matang-matang. Apa yang ia berikan bisa jadi tabungan untuk masa depan Yumna nanti." kata mas Ilham.


"Iya Mil, bantu Ayu untuk tenang di sana dengan menerima pemberiannya. Ia benar-benar merasa bersalah. Jujur saya sebagai ibunya pun merasa berhutang maaf pada kamu dan Yumna. Harapan saya, sedikit pemberian Ayu bisa jadi obat untuk kalian." cetus bu Sila.


"Tapi ...." Aku menggeleng.


"Tidak apa-apa, Mil. Demi masa depan Yumna juga. Kamu tak mau kan ia kekurangan?" kata mas Ilham.


"Baiklah kalau begitu." Dengan berat hati ku terima semua pemberiannya mbak Ayu. Aset beserta nominal tabungan yang ia berikan lagi-lagi membuatku tak bisa berkata-kata. Apalagi Bu Sila ikut menambahkan sebagai bentuk permohonan maafnya padaku.

__ADS_1


"Tidak perlu Bu, ini sudah lebih dari cukup." Kataku yang tak pernah membayangkan akan menerima rezeki sebegini banyaknya. Tapi lagi-lagi hibah itu tak bisa ku tolak karena yang memberinya sudah tiada. Mau tidak mau harus diterima. Untuk menjaga niat pemberinya, akupun menolak balik nama semua aset itu atas namaku, tapi langsung diganti atas nama Yumna.


"Sekarang saya bisa lebih tenang karena Yumna sudah mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Semoga kelak ia bisa memaafkan Ayu." Bu Sila terlihat begitu lega. "Oh ya Mil, selama saya masih hidup, kamu jangan sungkan-sungkan minta bantuan saya apapun yang kamu butuhkan. Anggap saya seperti ibu kamu sendiri sebab saya sudah menganggap kamu seperti putri kandung saya sendiri." Bu Sila memelukku erat. "Sejujurnya saya benar-benar menyesal sudah mencampakkan putri saya dan memilih mengejar harta. Kini saya kena batunya, saya juga ditinggalkan oleh putri saya." Ia meneteskan air mata.


"Jangan bicara begitu, Bu. bukankah mbak Ayu juga sudah memaafkan ibu dan menerima Bu sila kembali?" kataku dan dijawab dengan anggukan kepala Bu Sila.


Penyesalan memang datangnya belakang, tetapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.


***


"Senang dapat banyak harta?" sebuah suara menghentikan langkahku yang hendak masuk ke dalam kamar.


"Hmm," aku berdehem. Memberikan isyarat tak ingin beradu mulut dengannya meski aku sangat yakin ia memang tengah mencari gara-gara denganku.


"Akhirnya rencana anda berhasil juga ya. Bisa menguasai hartanya umi. Benar-benar jahat, persis seperti tokoh ibu tiri di televisi. Selanjutnya mau ngapain lagi? Setelah dapat sebagian harta umi, jangan bilang kamu mau merebut separuhnya lagi. Iya, kan?" ia mendesak ku. Berusaha menahan langkahku agar tak pergi. "Dasar Perempuan gila harta. Anda kira, setelah semua yang anda lakukan pada umi, saya akan diam saja? Tidak! Lihat saja nanti pembalasan yang akan saya lakukan. Jauh lebih kejam. Agar anda paham rasa sakit yang kami rasakan!" ia menatap tajam, lalu pergi meninggalkan aku.


Ya Allah. Apa yang dipikirkan Iqbal tak seperti yang terjadi. Aku tak sejahat itu. Sama sekali tak mengharapkan harta mbak Ayu!


Buru-buru aku masuk ke kamar. Entah mengapa, setelah bicara dengan anak itu, atau lebih tepatnya ia yang bicara, maka hatiku akan menjadi tidak karuan. Mungkin aku benar-benar ketakutan dibuat olehnya.

__ADS_1


***


Lembaran surat-surat akta kepemilikan aset milik mbak Ayu kini ku serahkan kembali pada mas Ilham agar ia mengembalikan pada Bu Sila.


"Kenapa Mil?" tanya mas Ilham.


"Enggak apa-apa, mas. Saya rasa kami gak membutuhkan itu semua. Demi masa depan Yumna, bisa saya usahakan nantinya. Toh Bu Sila sudah berjanji akan memberikan saya pekerjaan di sekolah miliknya. Penghasilannya cukuplah untuk biaya hidup Yumna." jawabku, sambil terus menyodorkan surat-surat itu.


"Tolong balikin pada Bu Sila ya."


"Mil ... sebenarnya saya pun sanggup untuk membiayai hidup Yumna. Tapi ini kan amanah dari Ayu, bagaimana perasaan Bu Sila nantinya. Lagipula, Yumna berhak mendapatkan semua ini, ia berhak mendapatkan kehidupan yang berkecukupan"


"Mas ... saya dan Yumna itu terbiasa hidup serba kekurangan. Apa yang sudah mas berikan pada kami sudah lebih dari cukup. Jadi saya mohon ambil kembali semua ini. Atau kalau mas keberatan memberikan pada Bu Sila, berikan saja pada yang membutuhkan."


"Maksudnya?"


"Hibahkan pada panti asuhan saja, mas. Semoga pahalanya bisa mengalir terus pada mbak Ayu."


Bukan aku tak menghargai pemberian mbak Ayu dan niatnya yang ingin menjaga agar Yumna punya jaminan hidup dengan aset yang ia berikan. Tapi aku hanya tak ingin Iqbal salah paham dan semakin membenciku dan Yumna. Kami benar-benar tulus pada keluarga ini.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kamu merasa itu yang terbaik. Saya akan memberikannya pada yang membutuhkan." Mas Ilham akhirnya menerima surat-surat itu dan berjanji akan memberikannya pada panti asuhan secepatnya.


__ADS_2