
Taman-taman milik mbak Ayu yang dahulunya hijau kini terlihat tidak terawat. Bunga mawar yang mendominasi sudah banyak yang kering, sebab tak pernah lagi di sentuh oleh pemiliknya. Mungkin seperti itulah anak-anak saat ini, semenjak ibunya meninggal, mereka seperti kehilangan arah meski hubungan ibu dan anak tak terlalu dekat sebab mbak Ayu punya banyak tanggung jawab yang membuatnya tak punya banyak waktu mengurus kelima anaknya.
Aku dan sikecil Ibed semula hanya ingin berjalan-jalan di taman sembari mencari cahaya matahari. Sudah dua hari Ibed flu, ku pikir dengan dijemur matahari pagi maka bisa membuat sakitnya mereda, makanya ku putuskan mengajak bayi lelaki yang sebentar lagi berusia satu tahun itu berkeliling. Ia pun sangat senang. Dengan langkah yang masih satu-satu sebab Ibed baru bisa jalan kami bermain sembari bercanda. Sesekali bungsunya mbak Ayu berhenti untuk mengambil batu, melihat tanaman atau istirahat karena lelah ku ajak bermain.
"Ibed, mau nggak bantu umi beresin taman ini?" Tanyaku padanya. Ibed hanya mengangguk. Lalu sibuk kembali bermain-main. Aku meminta bantuan Farid yang sudah selesai mengantarkan anak-anak ke sekolah untuk menyiapkan peralatan berkebun.
"Kalau butuh bantuan panggil saya saja, ya, mbak." Kata Farid, setelah selesai mengantarkan peralatan berkebun.
Aku memang ingin merapikan taman sendiri, lagipula tak enak juga kalau berdekatan lama-lama dengan Farid. Meski ia khadimat di rumah ini, tapi tetap saja kami lawan jenis yang harus menjaga jarak. Apalagi mas Ilham pernah mengatakan kalau ia tak terlalu suka jika aku berdekatan dengan Farid, untuk urusan apapun.
Sebenarnya aku belum pernah berurusan dengan bunga mawar. Tapi aku sering membaca buku-buku yang berkaitan dengan dunia tanaman terutama mawar sebab dahulu punya taman bunga mawar adalah mimpiku. Jadi sedikit-sedikit ada ilmunya.
Tangkai-tangkai mawar yang telah kayu dan tua ku buang. Bunga yang sudah tidak terselamatkan ku cabut. Tadi aku sempat minta tolong Farid untuk membelikan beberapa tanaman mawar dan anggrek untuk menggantikan bunga-bunga yang sudah dicabut.
Setengah hari habis untuk merapikan tanaman. Rasanya badanku sudah sangat lelah. Untungnya ada mbok Asih yang membantu merapikan rumah dan memasak. Jadi aku bisa beristirahat. Dalam kondisi hamil seperti ini rasanya lebih mudah lelah. Makanya aku berpikir untuk istirahat sembari menjaga Ibed. Tapi belum masuk ke kamar tiba-tiba mbok Asih sudah memanggil.
"Ada polisi di luar, Bu." kata mbok Asih.
"Polisi?" aku bingung bercampur takut, untuk apa polisi datang ke sini? Ada masalah apa? Untuk menjawab rasa penasaran itu, makanya aku buru-buru keluar.
__ADS_1
"Betul dengan orang tua anak Asad Fakhruddin Ilham?" tanya polisi dengan pangkat tertinggi.
"Iya pak, saya uminya. Ada apa ya, Pak?" tanyaku.
"Maaf Bu, bisa ikut kami ke kantor polisi? Anak mana Bu, Asad sekarang berada di kantor polisi bersama beberapa temannya. Mereka terlibat tawuran. Tapi yang lebih memberatkan adalah ketika kami memeriksa tas nak Asad dan kami menemukan ada narkoba di dalamnya."
"Astagfirullah," aku langsung lemes.
Pada polisi aku berjanji akan menyusul segera setelah mas Ilham datang. Perasaanku benar-benar hancur, aku takut Asad berbuat salah karena keberadaan ku. Rasanya aku benar-benar gagal menjadi ibu sambung mereka. Aku tak tahu harus bagaimana mempertanggungjawabkan semuanya pada Allah dan juga mbak Ayu yang sudah mempercayakan aku untuk menjaga anaknya.
Tiga puluh menit kemudian mas Ilham pulang. Ia menjemput ku sebelum ke kantor polisi. Sepanjang jalan aku meminta agar mas Ilham tidak marah pada Asad. Aku meminta izin padanya untuk bicara baik-baik saja sebab aku tak ingin anak itu semakin jauh dari kami.
"Asad sudah keterlaluan, Mil, dia sudah mencoreng nama baik keluarga. Baru kelas satu SMP sudah memakai obat terlarang. Bagaimana besarnya nanti? Bisa-bisa dia bunuh bapaknya!" seru mas Ilham.
"Astagfirullah, Mas. Jangan begitu. Kata-kata adalah doa, doakan yang baik-baik untuk anak-anak. Bukannya malah pesimis. Berharap mereka baik-baik saja. Lagipula kalau mas kasar dan memarahi yang ada Asad akan semakin menjauh. Ia akan semakin susah untuk kita sentuh hatinya. Padahal mbak Ayu sudah mempercayakan anak-anak pada saya." Kataku.
"Kalau Ayu ada di sini, ia pun pasti akan murka anaknya seperti itu. Ini semua karena pengaruh Iqbal, entah kenapa bocah itu tega mempengaruhi adik-adiknya. Kalau sudah begini apa dia tanggung jawab!"
Mas Ilham benar-benar murka. Aku bahkan tak bisa membuatnya tenang sebab menurut mas Ilham ini perkara yang tak bisa ditolerir.
__ADS_1
"Mas, sekali saja. Beri saya kesempatan. Kalau saya gagal maka silahkan lakukan apapun menurut mas terbaik untuk anak-anak." Kataku.
Tak ada Jawaban dari mas Ilham, raut wajahnya pun masih menyiratkan kekesalan. Aku hanya bisa berdoa agar hatinya tenang.
Sampai di kantor polisi, benar saja, ketika bertemu Asad, mas Ilham tak bisa menahan amarahnya. ia langsung menempeleng Asad, ia tak peduli meski banyak polisi bahkan ada wartawan yang diam-diam mengambil fotonya.
Sebenarnya aku bisa memahami kenapa ia begitu emosi. saat ini begitu banyak masalah yang dihadapi mas Ilham. Usaha barunya masih belum juga menemukan jalan. Masih macet di mana-mana. ia bahkan sudah mulai menyesal keluar dari Yayasan. Untuk kembali lagi juga malu. Selain itu, ia punya tanggungan ekonomi yang tidak sedikit. Enam anak dan sebentar lagi bertambah satu.
Sementara teman-teman yang dahulu ada di sisinya, begitu ia tak lagi menjadi menantu Bu Sila maka satu-persatu menjauh..Seolah mereka ada tidak tulus melainkan karena kedudukan mas Ilham saja.
"Mas, sabar!" Pintaku.
Aku mencoba menengahinya. Berdiri antara Mas Ilham dan Asad agar tak ada lagi adegan kekerasan.
setelah agak tenang, barulah kami bicara dengan polisi. Mereka sudah melakukan cek urine dan hasilnya Asad negatif. berarti ia tak memakainya. Tapi dari mana barang haram ini dan untuk apa? Sayangnya Asad tak mau buka mulut, ia seolah takut.
"Asad tolong bicaralah, nak. Ini demi kebaikan Asad juga. Supaya Asad bisa segera pulang." Pintaku.
Asad tak menggubris hingga akhirnya ayahnya kembali melemparkan tinjunya pada anak berusia tiga belas tahun itu hingga jatuh terjungkal dari kursinya.
__ADS_1
"astagfirullah mas, kamu mau membunuh anakmu!" aku sudah tak bisa menahan amarah. "Sekali lagi kamu menyentuh anakku, maka kamu berhadapan denganku!" Kataku, sambil berdiri di hadapan mas Ilham dengan emosi menggebu.