MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
SUARA TERIAKAN MBAK AYU


__ADS_3

Pukul sepuluh malam. Lelah sekali rasanya badan ini setelah pulang, lalu harus kembali menata kamar ini agar nyaman dan sesuai dengan apa yang aku inginkan. Sebenarnya masih ada PR lain, yaitu mencuci pakaian ketika menginap, tapi ku putuskan untuk mengerjakan semuanya besok. Selain sudah lelah, aku juga tak ingin menimbulkan kebisingan akibat bekerja hingga larut malam. Lagian, kalau melihat aku masih sibuk nyuci, mbok Asih pasti tidak akan tinggal diam, perempuan paruh baya itu memang selalu berusaha mencegah jika aku ikut bekerja. Padahal sebenarnya tugasnya sudah sangat banyak.


Baru saja merebahkan badan di atas kasur bermerek yang sangat empuk dan nyaman, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari lantai atas. Suara yang sudah mulai akrab di telingaku. Suara mbak Ayu.


Ada apa dengannya? Kenapa malam-malam teriak?


Teriakan itu tak berhenti begitu saja, disusul dengan tangis yang cukup histeris. Rasanya aku sangat penasaran, apakah terjadi sesuatu, tapi juga takut untuk menghampiri. Tapi usai berdebat dengan ibu mertua, ia tak lagi keluar dari kamar.


Bruk. Kini terdengar suara barang-barang di banting. Aku sudah tak bisa menahan rasa ingin tahu, khawatir terjadi sesuatu. Makanya kuputuskan mengintip dari balik pintu. Tampaklah keempat anak mbak Ayu tengah berjejer melakukan hal yang sama di dekat tangga.


Ya Rabb ... aku harus bagaimana?


Baru hendak keluar dari kamar, tiba-tiba sepasang mata milik Hana melirik ke arahku. Lirikan yang cukup tajam sehingga sanggup mengintimidasiku hingga tak berani beringsut dari tempat berdiri.


"Mau apa?" tiba-tiba si sulung Iqbal ikutan melirik usai dicolek Hana.


"Umi kenapa ya?" tanyaku.


"Ini semua gara-gara Tante. Kalau Tante nggak datang ke rumah kami, Umi nggak akan seperti itu. Sekarang Tante puas? Ingat, kalau terjadi sesuatu sama Umi, kami nggak akan pernah memaafkan Tante!" tegas Iqbal, lalu naik ke atas menuju kamar kedua orang tuanya.


Salahku? Aku mengerutkan kening. Bingung dengan situasi ini. Belum menemukan jawaban atas kesalahanku, tiba-tiba Hana ikut menyerang.


"Pelakor!" katanya, meski suaranya pelan namun menusuk ke hatiku.


Pelakor? Astagfirullah, aku langsung lemas mendengarnya. Tak menyangka, anak sekecil Hana bisa menyebutnya. Apalagi dengan latar belakang keshalihan keluarganya.

__ADS_1


Tapi apakah benar aku pelakor? Hatiku langsung menolak mentah-mentah tuduhan tersebut. Aku bukan wanita serendah itu. Lagipula suami siapa yang aku rebut? Mas Ilham? Aku tak merebutnya dari mbak Ayu, bahkan hingga detik ini mereka masih bersama. Lagipula, mbak Ayu yang membawaku masuk ke kehidupan rumah tangga mereka.


Saking syoknya mendengar tuduhan Hana, tubuhku langsung gemetaran. Keringat dingin muncul. Tak ingin ambruk di hadapan mereka, cepat-cepat aku masuk ke kamar, mengunci pintu dari dalam, lalu terduduk lemas di depan pintu.


"Ya Allah ... Ya Allah. Astagfirullah. Aku bukan perempuan seperti itu. Aku tak sejahat itu ya Allah. Begini berat ujian menjalani kehidupan rumah tangga poligami." aku menceracau dengan suara pelan sambil menangis.


Apa yang kutakutkan selama ini terjadi juga. Kehidupan yang sebenarnya tidaklah mudah. Benar yang dikatakan beberapa orang bahwa poligami adalah bagian tertinggi dari pernikahan. Tidaklah mudah, apalagi kalau masih duniawi yang ada di hati. Niat pun harus benar-benar karena Allah, bukan hanya mengedepankan nafsu semata.


Entah siapa yang salah dalam masalah yang ku hadapi sekarang ini, yang aku tahu, saat ini aku benar-benar diliputi penyesalan yang besar. Apakah ini bagian dari peringatan mas Ilham, bahwa aku harus bersabar menjalani semua ini. Apakah ia juga tahu kalau anak-anaknya sebenarnya tidak siap jika ayahnya harus memiliki istri baru.


Suara teriakan mbak Ayu kembali terdengar. Lebih heboh dari sebelumnya. Aku tak berani keluar, meski hanya sekedar mengintip karena sesak akibat kata-kata pelakor yang dilontarkan oleh Hana.


"Yumna, Umi kangen kamu nak." aku hanya bisa berbisik memanggil nama putriku. Jika kehidupan sudah serumit ini, apakah Aku bisa membawa Yumna tinggal bersama. Ataukah impian itu akan semakin lama terwujud?


Pukul enam lewat tiga puluh menit. Semua menu sarapan sudah terhidang di meja makan. Aku dan Mbok Asih saling menunggu, berharap semua anggota keluarga yang lain segera turun seperti biasanya, sebelum memulai aktivitas, maka akan berkumpul untuk sarapan. Tapi, lima belas menit menunggu, tak kunjung ada yang turun. Sedang menunggu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari atas. Rupanya mas Ilham.


"Lho Mil, anak-anak mana?" tanyanya.


Aku menggelengkan kepala.


Mas Ilham segera menuju kamar anak-anak, mengetuk satu-persatu pintu kamar. Tak berapa lama mereka keluar mengikuti ayahnya. Satu-persatu mereka duduk di meja makan, menikmati sarapan dalam diam.


"Bi, hari ini sekolahnya di rumah dulu ya. Abi ada agenda penting, belum bisa mengantar Sabrina." kata mas Ilham pada putrinya yang keempat.


"Di rumah belajar sama siapa?" tanya gadis itu.

__ADS_1


"Hmmm, bagaimana kalau sama Tante Mila." tukas mas Ilham, sambil melirik ke arahku.


Sabrina tak menjawab, ia hanya melirik ke arahku. Sementara aku tak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya masih canggung sebab penolakan terang-terangan yang dilakukan oleh Iqbal dan Hana.


"Sabrina biar Iqbal yang antar. Nanti Iqbal naik ojek saja." kata Iqbal, sambil fokus ke makanannya.


"Sudah mau jam tujuh, Bal. Sabrina belum siap-siap. Kalau kamu nungguin dia, bisa-bisa kamu telat. Lagian kamu sudah kelas tiga SMP, jangan sampai terlambat ke sekolah!" kata mas Ilham.


"Enggak apa, Bi. Iqbal bisa telepon guru piket, minta izin terlambat." kata Iqbal.


"Bal, kalau Abi katakan kamu berangkat sekarang, nurut. Jangan membantah lagi!" tegas mas Ilham.


Secara reflek Iqbal meletakkan sendok dan garpunya sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Ia berdiri dari kursi. "Kenapa Abi harus selalu memaksakan kehendak? Kenapa tak pernah mendengar apa yang kami mau?" ungkap Iqbal. "Kami bukan anak kecil lagi, kamu sudah bisa menentukan pilihan. Jadi tolong hargai apa yang kami mau!"


"Kamu mau menentang Abi?" mas Ilham bertanya balik. Ayah dan anak itu saling tatap, membuat suasana di meja makan menjadi dingin. Sementara aku hanya bisa menyimak dalam diam. Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini?


"Ini semua gara-gara perempuan itu!" Iqbal menunjuk aku.


"Sejak kapan kamu tidak sopan seperti itu? Ini yang diajarkan Umi kalian?" tanya mas Ilham.


"Umi? Umi nggak ada sangkut pautnya dengan semua ini. Abi sebagai kepala keluarga yang nggak becus, kenapa harus add perempuan itu di rumah kita? Lihat sekarang, semuanya jadi kacau. Umi sakit dan kita semua benci pada perempuan itu!" tukas Iqbal.


"Iqbal. Jaga bicara kamu!" mas Ilham menepuk keras meja makan sehingga semuanya diam. Ia menatap tajam putra sulungnya, lalu beralih pada anak-anak yang lain. "Kalau kalian tidak bisa sopan, Abi akan memberikan kalian hukuman berat. Jadi tolong bersikap baiklah!" tegas mas Ilham. "Sekarang semuanya siap-siap berangkat ke sekolah. Tunggu Abi di mobil!" tegas mas Ilham lagi.


Iqbal, Asad dan Hana menurut pada ayahnya, mereka segera berlalu menuju mobil sambil menyandang tas sekolah masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2