MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
TAMU-TAMU MBAK AYU


__ADS_3

"Mila ... Mila ... Mila!" pintu kamar di ketuk cukup keras. Suara mbak Ayu. Aku segera menghapus sisa air mata, lalu buru-buru membukakan pintu sebelum roboh karena kerasnya gedoran mbak Ayu. "Ya ampun Mila, kamu belum siap-siap juga? Kan sudah aku katakan kalau teman-temanku akan datang. Aku akan memperkenalkan mereka padamu, tapi kamu malah belum siap-siap sama sekali, padahal mereka sudah berdatangan!" omel mbak Ayu


"Maaf mbak, tadi saya ...."


"Apa? Kamu nangis ya?"


"Enggak mbak,"


"Jangan bohong deh. Ya ampun Mil, kamu itu sebenarnya orangnya seperti apa, sih? Pergaulannya enggak jelas, suka bohong lagi. Aku kira kamu benar-benar perempuan polos dan saliha, tapi ternyata ...." ia memandangku sinis. "Pokoknya kamu nggak boleh begini lagi. Aku nggak mau tahu, kamu harus berubah demi kebaikan kita semua. Sekarang buruan ganti baju, terus temui kami di gazebo. Cepatan!" Mbak Ayu mendorong badanku masuk ke kamar, lalu ia menutup pintunya dari luar.


Fiuffff. Aku menarik nafas panjang, lalu membuangnya kembali. Beberapa kali aku melakukannya untuk menenangkan hati, agar tak ada lagi air mata yang tumpah. Kalau mbak Ayu mempertanyakan aku ini orang yang seperti apa, boleh jugalah aku mempertanyakan hal yang sama. Sebenarnya ia orang yang seperti apa juga? Kenapa sikapnya berbeda seratus persen dibandingkan saat kami pertama bertemu?


Walaupun baru beberapa hari hidup bersama, rasanya sudah sangat lelah. Bukan hanya fisik, tapi juga hati dan entah bagaimana untuk memulihkannya.


***


Masih agak jauh dari gazebo, tapi sudah terdengar suara-suara perempuan bercakap-cakap. Meski agak malas, aku terus melangkah mendekat.


"Assalamualaikum," kataku, mengucap salam, pada empat orang yang tengah duduk-duduk santai sambil menikmati kudapan yang cukup melimpah disediakan oleh mbok Asih.


Sesaat, empat perempuan itu diam. Tiga orang menatapku tajam, dari atas ke bawah, sehingga membuatku risih. Sementara satunya lagi adalah mbak Ayu. Puas mengintrogasi dengan tatapan, barulah mereka menjawab salam dengan ogah-ogahan.


"Teman-teman, ini namanya Mila. Ia adik maduku." kata mbak Ayu.


Tiga orang itu mengulurkan tangannya bergantian, masih dengan ogah-ogahan memperkenalkan diri. Seolah aku ini tak sepadan dengannya. Dari penampilan sebenarnya memang sudah kelihatan kalau mereka pastilah orang-orang kaya yang berpendidikan tinggi seperti mbak Ayu, tapi setidaknya mereka bisa bersikap ramah sebab bagaimanapun aku ini sudah menjadi istri dari mas Ilham.

__ADS_1


"Kamu benar-benar beruntung sebab punya kakak madu seperti Ayu. Ia sudah mengangkat derajat kamu hingga bisa menjadi bagian keluarga Ayu." ucap teman mbak Ayu yang terakhir.


Lagi-lagi pujian itu mereka lontarkan untuk mbak Ayu. Atas kedermawanan dirinya memilihku sebagai madunya.


Aku hanya bisa diam mendengarkan. Meski sebenarnya agak malas. Bukan karena tidak bersyukur sudah dijadikan madunya mbak Ayu. Apapun ketetapan Allah aku percaya itulah yang terbaik. Hanya saja, rasanya penilaian mereka terlalu berlebih-lebihan. Benar aku dijadikan adik madunya, ia memberikan banyak kebaikan, terutama pada keluargaku. Tapi, ada hak-hak yang harusnya diberikan tapi tak ditunaikan.


Mungkin aku terlalu naif, atau terlalu banyak berharap jika mbak Ayu dan mas Ilham adalah orang-orang sempurna yang paham agama, sehingga ada banyak harapan yang besar ku titipkan pada mereka. Ketika harapan itu tidak terjadi maka menimbulkan kekecewaan.


***


"Mil, jangan ganti baju dulu. Sebentar lagi ada tamu lain yang akan datang." ungkap mbak Ayu.


"Siapa mbak? Temannya mbak Ayu?" tanyaku.


"Nanti kamu juga tahu." ia berlalu meninggalkan aku sendirian.


"Bagaimana rasanya di Jakarta, Mil? Kerasan nggak? Sudah jalan-jalan kemana saja?" tanya Bu Sila.


Dengan beliau aku merasa lebih nyaman karena Bu Sila sangat ramah. Ia juga memposisikan dirinya seolah-olah sudah kenal lama denganku hingga kami bisa bercerita dengan tenang.


"Kalau kamu bosan di rumah, bisa main-main ke yayasan. Ibu dengar kamu dulu ngajar ngaji ya? Kalau kamu mau bisa bantu-bantu di yayasan." tawar Bu Sila, saat kami duduk berdua di teras rumah sembari menikmati secangkir teh.


"Wah terimakasih tawarannya Bu. Nanti saya coba bicarakan dengan mas Ilham dan mbak Ayu dulu." kataku yang sejujurnya tergiur dengan tawaran tersebut sebab sebenarnya aku bosan di rumah terus tanpa ada kegiatan lain.


"Oh ya, kalau boleh tahu, rencananya kamu akan tetap tinggal di sini atau bagaimana, Mil?"

__ADS_1


Pertanyaan dari Bu Sila tak dapat ku jawab sebab aku sendiri juga belum tahu bagaimana kedepannya. Tak ada yang mau membahasnya denganku, entah itu mbak Ayu atau mas Ilham.


"Ya sudah, kamu tunggu saja bagaimana nantinya. Ilham dan Ayu pasti sudah memikirkan semuanya dengan baik." kata Bu Sila.


Perbincangan kami beralih ke hal-hal yang lebih ringan. Bu Sila menganjurkan aku untuk melanjutkan pendidikan, meski tidak formal tapi ini penting untuk masa depanku nantinya.


"Wah sepertinya Tante betah ngobrol sama Mila. Asyik sekali. Lagi ngomongin apa sih?" tiba-tiba mbak Ayu muncul.


"Cuma cerita ringan, Yu. Bahas bagaimana rencana Mila kedepannya." kata Bu Sila


"Rencana apa?" Mbak Ayu menatapku dengan pandangan menyelidik.


"Ya bagaimana rencana masa depannya. Sekarang ia kan sudah menikah dengan Ilham, berarti sudah ada amanah baru. Mau upgrade ilmu atau tidak, bagaimana tentang kehidupannya kedepannya dan lainnya. Hanya seputar itu Yu." ungkap Bu Sila.


"Semua sudah kami pikirkan. Mila nggak perlu merancang rencana la hutan apapun juga, ia tinggal beresnya saja!" tegas mbak Ayu.


"Yap, sama persis seperti yang Tante katakan. Kamu pasti akan mempersiapkan semuanya dengan sangat sempurna. Tapi dengan campur tangan Ilham juga kan, Yu?" tanya Bu Sila.


"Hemmm ... itu urusan keluarga kami Tante. Tidak perlu orang luar tahu!" tegas mbak Ayu. "Sepertinya Tante sudah lama berkunjungnya. Bukannya biasanya kalau datang ke sini cuma say hello saja lalu pergi sebab Tante banyak urusan?"


"Baiklah Yu, sepertinya kamu juga sudah nggak pengen melihat Tante lama-lama di sini. Kalau begitu Tante pamit dulu. Mila, terimakasih banyak ya untuk waktunya, semoga kamu sabar dan ikhlas menjalani semuanya. Memang tak mudah, tapi percayalah, semua ada hikmahnya. Lain kali kita ngobrol lagi ya" Bu Sila menepuk pelan pundakku.


"Tan," mbak Ayu kembali memanggil Bu Sila. "Tante ingat kan dengan apa yang pernah Tante ucapkan. Tentang mas Ilham dan yayasan?"


"Ya. Kamu tenang saja. Yang terpenting kamu tetap menjadi Ayu yang Tante kenal." Bu Sila kembali pamit untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Entah apa yang mereka perbincangkan, tapi aku bisa menangkap ketidakharmonisan antara mereka berdua.


__ADS_2