MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
GUNJINGAN ORANG KAMPUNG


__ADS_3

Sebenarnya jarak antara rumahku dengan rumah emak tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh jalan kaki tak sampai sepuluh menit. Hanya saja aku ingin membelikan oleh-oleh untuk emak, sudah lama kami tidak bertemu, berkomunikasi pun tidak karena emak tak punya Hp. Bisa ku bayangkan bagaimana sepinya hidup emak saat ini, di usia senja menghabiskan waktu sendirian sebab hanya Bang Hasan anak satu-satunya yang ia miliki. Sementara cucunya harus ikut aku pindah ke tempat yang sangat jauh bersamaku.


Mengingat itu, aku jadi merasa bersalah pada emak. Harusnya aku tak egois, meninggalkan emak sendirian. Harusnya aku berbakti pada emak, menemaninya di masa tua, bukan malah menikah lagi. Tapi juga ada kedua orang tuaku yang saat itu kesulitan perekonomiannya. Hanya menikah dengan mas Ilham kala itu solusi yang bisa aku dapatkan.


Sejak menikah kembali, sebenarnya mbak Ayu juga memberikan tunjangan untuk emak yang ia titipkan lewat ibu. Jumlahnya lebih dari cukup.. Tetapi tetap saja, yang namanya uang tak akan bisa mengganti kasih sayang.


"Mi, kita belikan apa untuk emak?" tanya Yumna, sembari mengguncang lenganku.


Untung saja Yumna membuyarkan lamunanku, kalau tidak, hampir saja aku kembali menitikkan air mata karena terbawa suasana.


"Kita beli bolu pisang kesukaan emak saja, ya." aku memberikan usul, teringat betapa sukanya emak dengan bolu pisang, sama dengan apa yang disukai bang Hasan. Ahh, lagi-lagi hatiku menjadi sendu jika teringat dua orang itu.


Berdua, kami menuju toko kue yang berada paling ujung. Selain membeli bolu pisang, kami juga membeli beberapa panganan kecil lainnya sesuai permintaan Yumna. Katanya ia sudah lama ingin makanan tersebut, tapi di Jakarta tak ada yang menjualnya. Padahal belanjanya sudah di mall.


"Itulah kenapa Na nggak suka tinggal di Jakarta. Jajanannya tidak seenak yang dijual di pasar ini. Cuma ada ciki ciki sama coklat coklat yang rasanya terlalu manis. Na takut kebanyakan makan jajanan sana malah giginya jadi bolong-bolong." celoteh Yumna, hingga membuatku tertawa kecil. Itu karena Yumna belum pergi ke pasar tradisional atau ke daerah Benhil


maupun yang di Jakarta Pusat, di sana banyak sekali yang menjual panganan khas Sumatera Barat. Aku pernah diajak mbok Asih dua kali ke sana saat rindu kampung halaman dan rasanya puas sekali bisa menemukan aneka panganan yang aku inginkan.


"Eh, Mila?" tiba-tiba seseorang yang usianya terpaut beberapa tahun di atasku, menepuk pelan pundakku. Ia tengah bersama dua temannya yang tak ku kenal, mungkin tinggal di kampung sebelah. Rupanya Nilam, salah seorang teman bang Hasan yang kata orang-orang sudah menyimpan perasaan pada Abinya Yumna sejak bangku madrasah. Sayangnya cintanya bertepuk sebelah tangan sebab akhirnya bang Hasan malah melamarku. Sampai sekarang, uni Nilam belum juga menikah, saat bang Hasan meninggal, ia sempat datang dan terlihat sangat terpukul.


"Uni Nilam," aku melempar senyum.

__ADS_1


"Apa kabar Mil? Lama tak bersua. Terakhir saat pemakaman Hasan, ya?" tanyanya.


"Iya ni. Alhamdulillah kabar baik..Uni bagaimana?"


"Ya seperti inilah Mil." ia memaksakan senyum. "Kok ada di sini? Lagi pulang kampung ya? Yang aku dengar katanya kamu sekarang tinggal di Jakarta?" tanya uni Nilam. "Kabar pernikahan keduamu itu cukup mengguncang kampung ini, Mila. Banyak yang membicarakannya. Makanya akupun jadi tahu kalau ternyata ...." Ia melirik kedua temannya.


"Iya Ni," Jawabku, pendek. Sebab aku sedang tak nyaman membicarakan kehidupanku sekarang. Apalagi tentang poligami yang ingin ia singgung. Di kampungku, penilaian orang-orang tentang poligami masih sangat negatif. Mereka menganggap istri kedua selalu sebagai perusak rumah tangga orang lain.


"Duh Mila, aku benar-benar nggak nyangka kalau kamu akhirnya menikah lagi dan sekarang kamu lagi hamil, ya?" ia melirik perutku.


"Iya ni," aku kembali menjawab seadanya.


Aku tak menjawab. Hanya melihatnya, ingin tahu ke arah mana pembicaraannya.


"Katanya yang melamarkan, istri pertamanya langsung ya? Wah, aku benar-benar nggak nyangka ada istri yang mau berbagi suami seperti madu kamu, Mil. Ia pasti perempuan yang sangat luar biasa. Hatinya sangat luas sekaki. Penasaran deh, kira-kira ia seperti apa? Aku hanya tahu kalau ia orang kaya, lebihnya ya nggak tahu bagaimana kondisi fisiknya? Cantik tidak? Kok ya nekat nyari madu yang masih muda seperti kamu. Tapi ngomong-ngomong Mil, kamu sendiri nggak berminat mencari madu ketiga?" ia tersenyum penuh arti padaku. Senyuman yang terasa ganjil.


"Maaf uni, saya harus segera pergi." aku bersiap hendak pergi. Rasa nyaman itu benar-benar tidak ada lagi.


"Mau kemana sih Mil? Buru-buru sekali!" ia berusaha mencegah langkahku.


"Saya mau ke rumah emak, ni " Jawabku.

__ADS_1


"Wah, hebat sekali kamu ya Mil. Meski sudah menikah dengan laki-laki lain yang kaya raya tapi tetap ingat dengan mantan mertua kamu." ia tertawa bersama teman-temannya.


"Nggak ada yang namanya mantan mertua atau mantan menantu, uni. Emak tetap mertua saya! Maaf ya, kami permisi dulu "


"Ya Mil. Tapi jangan lupa dengan pesanku tadi ya. Kalau kamu mau cari madu, bolehlah tawarkan pada kami. Siapa yang tak mau jadi istri orang kaya. Baru beberapa bulan menikah saja rumahnya sudah disulap seperti istana. Jadi yang ketiga atau keempat juga kamu nggak menolak! Yang penting kaya! Enggak kayak Hasan dulu, pas-pasan." seru uni Nilam.


Suaranya yang cukup nyaring langsung mengundang perhatian orang sekitar sehingga sekarang mereka melirik ke arahku sambil berbisik-bisik satu dengan yang lain.


Ya Allah. Langkahku langsung kaku karena tatapan-tatapan itu tertuju padaku. Semnetara telingaku terasa panas saat mereka membicarakan ku dengan suara yang sengaja dibuat agak keras agar aku mendengar.


"O, jadi ini anak pak Zul yang jadi istri kedua itu? Ya ampun, masih muda dan cantik ternyata. Kelihatannya sih alim, apa nggak punya hati? Nggak dikasih tahu ibunya bagaimana cara menjaga perasaan perempuan lain? Tapi ya namanya uang bisa membutakan mata siapapun. Bahkan kedua orang tuanya nerima-nerima saja karena sudah dibeli!"


"Padahal anaknya perempuan, tapi nggak takut karma apa? Malah milih jadi pelakor!"


Lagi-lagi mereka membahas tentang pelakor. Sesuatu hal yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan poligami. Istri kedua bukan berarti pelakor!


"Kenapa sih Mi, ibu-ibu itu suka bergunjing?" tanya Yumna.


"Entahlah." jawabku, sambil terus melangkah lebih cepat sembari membimbing tangan Yumna.


"Padahal kata pak Ustadz, perempuan paling banyak di neraka salah satunya karena suka bergunjing." Yumna geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2